Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perilaku Komunikasi dan Delinkuensi Mahasiswa dalam Keluarga Broken Home

View through CrossRef
Abstract. The phenomenon of divorce in Indonesia is increasing, this is certainly very bad for children. Children will be the victims who are most harmed. This phenomenon is commonly known as Broken Home. This study aims to determine the communication behavior and delinquency behavior of Unisba students as individuals who experience a broken home family, to determine the student's motives for doing this behavior and to determine the meaning of family communication and its relation to communication behavior and delinquency behavior. This research uses qualitative research methods and a phenomenological study approach with constructivism paradigm. Research data were collected through in-depth interviews, observation and literature study. The informants consist of 5 students, namely Unisba students who have a broken home family background. Data analysis was carried out according to the phenomenological study. The results showed that the broken home family background made the informants perform poor communication behaviors, including: introvert, afraid to express their feelings, difficult to trust, not confident, easily anxious, easily angry. In addition, they also engage in delinquent behavior including fighting and behaving rudely their parents, running away, hurting themselves, premarital sex, smoking, nightclubs, and drinking alcoholic beverages. There are two motives behind them doing this behavior, namely because of motive (motive for conditions and family life, a picture of a father figure), and in order to motive (as a place of escape). The research subjects interpret family communication as a form of affection, attention and care, emotional support, moral education, and can maintain family harmony. Abstrak. Fenomena perceraian di Indonesia semakin meningkat, hal ini tentunya sangat berakibat buruk kepada anak. Anak akan menjadi korban yang paling dirugikan. Fenomena ini biasa dikenal dengan istilah Broken Home (keluarga yang tidak utuh atau harmonis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku komunikasi dan perilaku delinkuensi yang dilakukan mahasiswa Unisba sebagai individu yang mengalami keluarga broken home, untuk mengetahui motif mahasiswa melakukan perilaku tersebut dan untuk mengetahui  makna komunikasi keluarga dan kaitannya terhadap perilaku komunikasi dan perilaku delinkuesi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan studi fenomenologi dengan paradigma konstruktivisme. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi kepustakaan. Informan terdiri dari 5 yaitu mahasiwa Unisba yang memiliki latar belakang keluarga broken home. Analisis data dilakukan sesuai dengan studi fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan latar belakang keluarga broken home membuat informan melakukan perilaku komunikasi yang buruk, diantaranya: pendiam dan tertutup, takut mengekspresikan perasannya kepada orang lain, sulit percaya kepada orang lain, tidak percaya diri, mudah cemas dan takut, serta mudah marah. Selain itu mereka juga melakukan perilaku delinkuensi diantaranya suka melawan dan berperilaku kasar kepada orang tua, suka melarikan diri, menyakiti diri sendiri, seks pranikah, merokok, pergi ke kelab malam, dan minum-minuman beralkohol. Ada dua motif yang melatarbelakangi mereka melakukan perilaku tersebut, yaitu because of motive (motif kondisi dan kehidupan keluarga, gambaran figur seorang ayah),  dan in order to motive (sebagai tempat pelarian). Para subjek penelitian memaknai komunikasi keluarga sebagai bentuk kasih sayang, sebagai bentuk perhatian dan kepedulian, sebagai bentuk dukungan emosional dan didikan moral, serta dapat menjaga keharmonisan keluarga.
Title: Perilaku Komunikasi dan Delinkuensi Mahasiswa dalam Keluarga Broken Home
Description:
Abstract.
The phenomenon of divorce in Indonesia is increasing, this is certainly very bad for children.
Children will be the victims who are most harmed.
This phenomenon is commonly known as Broken Home.
This study aims to determine the communication behavior and delinquency behavior of Unisba students as individuals who experience a broken home family, to determine the student's motives for doing this behavior and to determine the meaning of family communication and its relation to communication behavior and delinquency behavior.
This research uses qualitative research methods and a phenomenological study approach with constructivism paradigm.
Research data were collected through in-depth interviews, observation and literature study.
The informants consist of 5 students, namely Unisba students who have a broken home family background.
Data analysis was carried out according to the phenomenological study.
The results showed that the broken home family background made the informants perform poor communication behaviors, including: introvert, afraid to express their feelings, difficult to trust, not confident, easily anxious, easily angry.
In addition, they also engage in delinquent behavior including fighting and behaving rudely their parents, running away, hurting themselves, premarital sex, smoking, nightclubs, and drinking alcoholic beverages.
There are two motives behind them doing this behavior, namely because of motive (motive for conditions and family life, a picture of a father figure), and in order to motive (as a place of escape).
The research subjects interpret family communication as a form of affection, attention and care, emotional support, moral education, and can maintain family harmony.
Abstrak.
Fenomena perceraian di Indonesia semakin meningkat, hal ini tentunya sangat berakibat buruk kepada anak.
Anak akan menjadi korban yang paling dirugikan.
Fenomena ini biasa dikenal dengan istilah Broken Home (keluarga yang tidak utuh atau harmonis).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku komunikasi dan perilaku delinkuensi yang dilakukan mahasiswa Unisba sebagai individu yang mengalami keluarga broken home, untuk mengetahui motif mahasiswa melakukan perilaku tersebut dan untuk mengetahui  makna komunikasi keluarga dan kaitannya terhadap perilaku komunikasi dan perilaku delinkuesi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan studi fenomenologi dengan paradigma konstruktivisme.
Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi kepustakaan.
Informan terdiri dari 5 yaitu mahasiwa Unisba yang memiliki latar belakang keluarga broken home.
Analisis data dilakukan sesuai dengan studi fenomenologi.
Hasil penelitian menunjukan latar belakang keluarga broken home membuat informan melakukan perilaku komunikasi yang buruk, diantaranya: pendiam dan tertutup, takut mengekspresikan perasannya kepada orang lain, sulit percaya kepada orang lain, tidak percaya diri, mudah cemas dan takut, serta mudah marah.
Selain itu mereka juga melakukan perilaku delinkuensi diantaranya suka melawan dan berperilaku kasar kepada orang tua, suka melarikan diri, menyakiti diri sendiri, seks pranikah, merokok, pergi ke kelab malam, dan minum-minuman beralkohol.
Ada dua motif yang melatarbelakangi mereka melakukan perilaku tersebut, yaitu because of motive (motif kondisi dan kehidupan keluarga, gambaran figur seorang ayah),  dan in order to motive (sebagai tempat pelarian).
Para subjek penelitian memaknai komunikasi keluarga sebagai bentuk kasih sayang, sebagai bentuk perhatian dan kepedulian, sebagai bentuk dukungan emosional dan didikan moral, serta dapat menjaga keharmonisan keluarga.

Related Results

PENGARUH TERAPI KELUARGA TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT KLIEN DENGAN MASALAH PERILAKU KEKERASAN DI KOTA SURABAYA
PENGARUH TERAPI KELUARGA TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA DALAM MERAWAT KLIEN DENGAN MASALAH PERILAKU KEKERASAN DI KOTA SURABAYA
Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain quasy eksperimen dengan rancangan pre-post test with control group desaign yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi keluarg...
PENDIDIKAN KARAKTER PADA MAHASISWA
PENDIDIKAN KARAKTER PADA MAHASISWA
Sorotan tentang Pendidikan yang berbasis pada karakter sejak beberapa tahun lalu sudah mendapat menarik perhatian berbagai pihak. Beberapa pakar yang bependapat bahwa pendidikan ka...
Komunikasi Interpersonal Dewasa Awal Pengidap Gangguan Kecemasan dengan Orang Tua dalam Keluarga Broken Home
Komunikasi Interpersonal Dewasa Awal Pengidap Gangguan Kecemasan dengan Orang Tua dalam Keluarga Broken Home
Abstract. Interpersonal communication plays important role in building healthy relationships between parents and children, especially in the context of broken home families. This s...
Prostor doma u hrvatskim igranim filmovima s temom domovinskog rata
Prostor doma u hrvatskim igranim filmovima s temom domovinskog rata
The dissertation explores the formation of domestic space in contemporary Croatian society through its presentations in the medium of feature films. The cinematic domestic spaces a...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PERILAKU CATCALLING
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PERILAKU CATCALLING
Catcalling merupakan sebuah contoh bentuk komunikasi verbal dan nonverbal yang disebabkan oleh ketidaksamaan makna pesan yang diterima antara satu mahasiswa dnegna mahasiswa lainny...
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
Dalam proses pembangunan manusia Indonesia, agama memiliki kedudukan penting dan utama dalam upaya membentuk kualitas manusia dan masyarakat yang maju dan mandiri. Melalui pembangu...
Bimbingan Konseling Islam Dalam Menangani Kesenjangan Komunikasi Dalam Keluarga
Bimbingan Konseling Islam Dalam Menangani Kesenjangan Komunikasi Dalam Keluarga
This study aims to help resolve the communication gap between fathers and children who are because fathers remarry without their children's permission. The reason for marrying is b...

Back to Top