Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perkembangan Trend Kamen Wanita Di Bali

View through CrossRef
Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri tentang bagaimana perkembangan salah satu bagian dari busana adat tradisional yaitu kamen di Bali baik yang digunakan pada saat upacara adat ke Pura, sehari-hari maupun upacara manusa yadnya. Subjek yang paling menonjol dalam perkembangan pakaian adat Bali yaitu wanita Bali. Ruang lingkup tulisan ini yaitu kamen wanita yang dikenakan pada saat ke pura maupun pesta adat (dalam agama hindu disebut dengan manusa yadnya). Pada awalnya, pakem busana adat Bali ke Pura, yaitu :Pertama diawali dengan memakai kamen tetapi lipatan kamen melingkar dari kanan ke kiri sesuai dengan konsep sakti. Putri sebagai sakti bertugas menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran Dharma. Tinggi kamen putri kra-kira setelapak tangan karena pekerjaan putri sebagai sakti sehingga langkahnya lebih pendek. Setelah menggunakan kamen untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, untuk mengendalikan emosi. Sekitar 5 tahun lalu terjadi pergeseran bentuk kamen dari yang seharusnya dikenakan pada saat ke Pura. Perubahan bentuk kamen tersebut dikarenakan pengaruh kaum fashionista dan sosialita yang merombak cara berkain dengan system ikat dan draping. Pakem kamen wanita yang seharusnya dikenakan pada saat persembahyangan ke pura serta trend yang sedang in pada bentuk, motif serta warna kamen. Perkembangan motif berupa kain printing dengan motif kain tradisional Bali, batik-batik serta kain yang dibordir dengan motif songket. Serta dalam perkembangan warna kamen yang dikenaan lebih berani, tidah hanya menggunakan warna-warna khas Bali. This paper aims to explore how the development of one part of traditional traditional clothing namely kamen in Bali is good that is used during traditional ceremonies to the temple, daily and manusa yad ceremony. The most prominent subject in the development of Balinese traditional clothing is Balinese women. The scope of this paper is that women are worn when they go to temples or traditional parties (in Hindu religion they are called manusa yadnya). In the beginning, the custom of Balinese clothing to the temple, namely: First begins with wearing kamen, but the folds of kamen circle from right to left according to the magic concept. The princess as a magician is in charge of keeping the man from deviating from the teachings of the Dharma. The height of the princess is about the palm of the hand because the work of the princess is powerful so the steps are shorter. After using kamen for the daughter to use a bone that serves to protect the uterus, to control emotions. About 5 years ago there was a shift in the form of kamen from what was supposed to be worn at the temple. Changes in the form of kamen are due to the influence of the fashionistas and socialites who overhauled the way to deal with the tie and draping systems. The ingredients for women’s kamen that should be worn when praying to temples and trends that are currently in shape, motif and color are kamen. The development of motifs in the form of printing cloth with traditional Balinese cloth motifs, batik and cloth embroidered with songket motif. As well as the development of kamen colors that are recognized more boldly, not only use Balinese colors. 
Title: Perkembangan Trend Kamen Wanita Di Bali
Description:
Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri tentang bagaimana perkembangan salah satu bagian dari busana adat tradisional yaitu kamen di Bali baik yang digunakan pada saat upacara adat ke Pura, sehari-hari maupun upacara manusa yadnya.
Subjek yang paling menonjol dalam perkembangan pakaian adat Bali yaitu wanita Bali.
Ruang lingkup tulisan ini yaitu kamen wanita yang dikenakan pada saat ke pura maupun pesta adat (dalam agama hindu disebut dengan manusa yadnya).
Pada awalnya, pakem busana adat Bali ke Pura, yaitu :Pertama diawali dengan memakai kamen tetapi lipatan kamen melingkar dari kanan ke kiri sesuai dengan konsep sakti.
Putri sebagai sakti bertugas menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran Dharma.
Tinggi kamen putri kra-kira setelapak tangan karena pekerjaan putri sebagai sakti sehingga langkahnya lebih pendek.
Setelah menggunakan kamen untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, untuk mengendalikan emosi.
Sekitar 5 tahun lalu terjadi pergeseran bentuk kamen dari yang seharusnya dikenakan pada saat ke Pura.
Perubahan bentuk kamen tersebut dikarenakan pengaruh kaum fashionista dan sosialita yang merombak cara berkain dengan system ikat dan draping.
Pakem kamen wanita yang seharusnya dikenakan pada saat persembahyangan ke pura serta trend yang sedang in pada bentuk, motif serta warna kamen.
Perkembangan motif berupa kain printing dengan motif kain tradisional Bali, batik-batik serta kain yang dibordir dengan motif songket.
Serta dalam perkembangan warna kamen yang dikenaan lebih berani, tidah hanya menggunakan warna-warna khas Bali.
 This paper aims to explore how the development of one part of traditional traditional clothing namely kamen in Bali is good that is used during traditional ceremonies to the temple, daily and manusa yad ceremony.
The most prominent subject in the development of Balinese traditional clothing is Balinese women.
The scope of this paper is that women are worn when they go to temples or traditional parties (in Hindu religion they are called manusa yadnya).
In the beginning, the custom of Balinese clothing to the temple, namely: First begins with wearing kamen, but the folds of kamen circle from right to left according to the magic concept.
The princess as a magician is in charge of keeping the man from deviating from the teachings of the Dharma.
The height of the princess is about the palm of the hand because the work of the princess is powerful so the steps are shorter.
After using kamen for the daughter to use a bone that serves to protect the uterus, to control emotions.
About 5 years ago there was a shift in the form of kamen from what was supposed to be worn at the temple.
Changes in the form of kamen are due to the influence of the fashionistas and socialites who overhauled the way to deal with the tie and draping systems.
The ingredients for women’s kamen that should be worn when praying to temples and trends that are currently in shape, motif and color are kamen.
The development of motifs in the form of printing cloth with traditional Balinese cloth motifs, batik and cloth embroidered with songket motif.
As well as the development of kamen colors that are recognized more boldly, not only use Balinese colors.
 .

Related Results

Analisis Paribasa Bali Pada Siaran Pan Balang Tamak Radio Nuansa Giri 91,2 Fm
Analisis Paribasa Bali Pada Siaran Pan Balang Tamak Radio Nuansa Giri 91,2 Fm
Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan 1) bentuk Paribasa Bali baru penyiar Pan Balang Tamak radio Nuansa Giri 91,2 FM, 2) hubungan paribasa Bali di penyiar Pan ...
PENGELOLAAN DAN PROFITABILITAS USAHA PENANGKAPAN LEMURU (SARDINELLA LEMURU BLEEKER,1853) DI SELAT BALI
PENGELOLAAN DAN PROFITABILITAS USAHA PENANGKAPAN LEMURU (SARDINELLA LEMURU BLEEKER,1853) DI SELAT BALI
Penangkapan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker,1853) di Selat Bali telah dilakukan jauh sebelum diperkenalkannya purse seine dua kapal (slerek) yang mempunyai hasil tangkapan mengge...
PERAN WANITA KARIER DALAM MELAKSANAKAN KELUARGA HARMONIS DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
PERAN WANITA KARIER DALAM MELAKSANAKAN KELUARGA HARMONIS DI NAGARI GANGGO HILIA KECAMATAN BONJOL KABUPATEN PASAMAN
 Wanita yang menyandang status sebagai wanita karir memiliki tanggung jawab yang sangat berat. Dalam hal ini, wanita harus bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Perana...
Pemanfaatan Web Bennylin Nulisa Aksara Bali Dalam Pembelajaran Menulis Aksara Bali
Pemanfaatan Web Bennylin Nulisa Aksara Bali Dalam Pembelajaran Menulis Aksara Bali
Penelitian ini bertujuan membahas tentang (1) tata cara menggunakan Web Bennylin Nulisa Aksara Bali untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis aksara Bali (2) Web Bennylin Nu...
Persepsi Masyarakat Tentang Pelaksanaan Iddah Wanita Karier Karena Cerai Mati Di Kec. Blangkejeren Kab. Gayo Lues
Persepsi Masyarakat Tentang Pelaksanaan Iddah Wanita Karier Karena Cerai Mati Di Kec. Blangkejeren Kab. Gayo Lues
Perkembangan dunia modern dewasa ini, banyak kaum wanita muslimah yang aktif di berbagai bidang, baik itu politik, sosial dan lainnya. Perempuan yang bekerja disebut sebagai wanita...
Analisis Psikolonguistik Wanita di Luar Bandar Terhadap Kesedaran serta Pengetahuan Tentang Fibroid
Analisis Psikolonguistik Wanita di Luar Bandar Terhadap Kesedaran serta Pengetahuan Tentang Fibroid
Masalah kesihatan wanita seperti fibroid sering berlaku dan menjejaskan aspek emosi wanita yang mengalaminya. Oleh yang demikian, tahap kesedaran wanita terhadap masalah fibroid am...
Penerimaan Masyarakat Tejakula Terhadap Pergub Bali No.80 Tahun 2018 Tentang Penulisan Aksara Bali Pada Papan Nama
Penerimaan Masyarakat Tejakula Terhadap Pergub Bali No.80 Tahun 2018 Tentang Penulisan Aksara Bali Pada Papan Nama
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penerimaan masyarakat di Kecamatan Tejakula mengenai adanya Pergub Bali No.80 Tahun 2018 mengenai papan nama yang ber-aksara Bali dan kes...
Literasi Berbahasa Bali Pada Kelas Xi Mipa 1 Sma Negeri 2 Singaraja
Literasi Berbahasa Bali Pada Kelas Xi Mipa 1 Sma Negeri 2 Singaraja
Penelitian ini berjudul Literasi Berbahasa Bali di SMA Negeri 2 Singaraja. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui bagaimana bentuk literasi berbahasa Bali yang sudah...

Back to Top