Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

HUBUNGAN JUMLAH KUNJUNGAN TERAPI INJEKSI TRIAMSINOLON ASETONID DENGAN RESPONS KLINIS KELOID: STUDI RETROSPEKTIF ANALITIK DI RSUD SUMBAWA

View through CrossRef
Pendahuluan: Keloid merupakan kelainan penyembuhan luka yang ditandai dengan proliferasi jaringan fibrosa yang melampaui batas luka asli. Kondisi ini sering kali menimbulkan keluhan subjektif berupa gatal, nyeri, serta gangguan kosmetik yang signifikan. Terapi standar yang paling efektif dan umum digunakan adalah injeksi kortikosteroid intralesi, khususnya triamsinolon asetonid. Efektivitas terapi ini sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani serangkaian kunjungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi kunjungan terapi dengan perkembangan respons klinis pada pasien keloid di RSUD Sumbawa. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik dengan mengambil data dari rekam medis pasien rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Sumbawa periode 2024-2025. Data mencakup 415 baris kunjungan yang dianalisis untuk mengidentifikasi profil demografis, pola kunjungan, diagnosis utama (ICD-10), dan diagnosis tambahan sebagai indikator respons klinis atau efek samping. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik untuk melihat keterkaitan jumlah sesi injeksi dengan stabilitas kondisi lesi. Hasil Penelitian: Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas pasien ( > 95%) didiagnosis dengan hypertrophic scar atau keloid (L91.0). Terdapat variasi jumlah kunjungan yang lebar, mulai dari kunjungan tunggal hingga 14 kali kunjungan per pasien. Pasien dengan jumlah kunjungan yang lebih banyak ( > 6 kali) menunjukkan kecenderungan adanya diagnosis tambahan seperti hiperpigmentasi pasca-inflamasi (L81.0) dan xerosis kutis (L85.3), yang menandakan adanya respons kronis terhadap terapi. Sebagian besar pasien ( > 96%) menggunakan jaminan kesehatan BPJS, yang secara signifikan mendukung retensi kunjungan pasien. Diskusi: Injeksi triamsinolon asetonid bekerja dengan menekan mediator inflamasi dan menghambat aktivitas fibroblas. Frekuensi kunjungan yang rutin memungkinkan akumulasi efek farmakologis yang stabil untuk mendegradasi kolagen tipe I dan III. Di RSUD Sumbawa, ketersediaan dokter spesialis kulit dan kelamin (dr. YT, Sp.D.V.E) telah meningkatkan aksesibilitas layanan ini bagi masyarakat lokal, mengurangi angka rujukan ke luar daerah, dan memungkinkan manajemen kasus yang lebih komprehensif. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang erat antara jumlah kunjungan dengan respons klinis keloid. Pasien dengan kunjungan rutin memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai perataan lesi yang stabil dibandingkan pasien dengan kunjungan sporadis. Dukungan sistem pembiayaan kesehatan seperti BPJS sangat krusial dalam menjamin keberlangsungan terapi jangka panjang ini.
Title: HUBUNGAN JUMLAH KUNJUNGAN TERAPI INJEKSI TRIAMSINOLON ASETONID DENGAN RESPONS KLINIS KELOID: STUDI RETROSPEKTIF ANALITIK DI RSUD SUMBAWA
Description:
Pendahuluan: Keloid merupakan kelainan penyembuhan luka yang ditandai dengan proliferasi jaringan fibrosa yang melampaui batas luka asli.
Kondisi ini sering kali menimbulkan keluhan subjektif berupa gatal, nyeri, serta gangguan kosmetik yang signifikan.
Terapi standar yang paling efektif dan umum digunakan adalah injeksi kortikosteroid intralesi, khususnya triamsinolon asetonid.
Efektivitas terapi ini sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani serangkaian kunjungan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi kunjungan terapi dengan perkembangan respons klinis pada pasien keloid di RSUD Sumbawa.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik dengan mengambil data dari rekam medis pasien rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Sumbawa periode 2024-2025.
Data mencakup 415 baris kunjungan yang dianalisis untuk mengidentifikasi profil demografis, pola kunjungan, diagnosis utama (ICD-10), dan diagnosis tambahan sebagai indikator respons klinis atau efek samping.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik untuk melihat keterkaitan jumlah sesi injeksi dengan stabilitas kondisi lesi.
Hasil Penelitian: Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas pasien ( > 95%) didiagnosis dengan hypertrophic scar atau keloid (L91.
0).
Terdapat variasi jumlah kunjungan yang lebar, mulai dari kunjungan tunggal hingga 14 kali kunjungan per pasien.
Pasien dengan jumlah kunjungan yang lebih banyak ( > 6 kali) menunjukkan kecenderungan adanya diagnosis tambahan seperti hiperpigmentasi pasca-inflamasi (L81.
0) dan xerosis kutis (L85.
3), yang menandakan adanya respons kronis terhadap terapi.
Sebagian besar pasien ( > 96%) menggunakan jaminan kesehatan BPJS, yang secara signifikan mendukung retensi kunjungan pasien.
Diskusi: Injeksi triamsinolon asetonid bekerja dengan menekan mediator inflamasi dan menghambat aktivitas fibroblas.
Frekuensi kunjungan yang rutin memungkinkan akumulasi efek farmakologis yang stabil untuk mendegradasi kolagen tipe I dan III.
Di RSUD Sumbawa, ketersediaan dokter spesialis kulit dan kelamin (dr.
YT, Sp.
D.
V.
E) telah meningkatkan aksesibilitas layanan ini bagi masyarakat lokal, mengurangi angka rujukan ke luar daerah, dan memungkinkan manajemen kasus yang lebih komprehensif.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang erat antara jumlah kunjungan dengan respons klinis keloid.
Pasien dengan kunjungan rutin memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai perataan lesi yang stabil dibandingkan pasien dengan kunjungan sporadis.
Dukungan sistem pembiayaan kesehatan seperti BPJS sangat krusial dalam menjamin keberlangsungan terapi jangka panjang ini.

Related Results

Keloid yang diterapi dengan kombinasi bedah eksisi dan injeksi kortikosteroid intralesi: sebuah laporan kasus
Keloid yang diterapi dengan kombinasi bedah eksisi dan injeksi kortikosteroid intralesi: sebuah laporan kasus
Background: Keloids are soft solid tumors with a smooth surface that extend beyond the wound margins and invade adjacent normal tissue. Appears at the age of 10-30 years, occurs as...
Investigasi Perspektif Perawat Pendidik Klinis Tentang Pendidikan Klinis Berbasis Budaya dalam Pendidikan Keperawatan
Investigasi Perspektif Perawat Pendidik Klinis Tentang Pendidikan Klinis Berbasis Budaya dalam Pendidikan Keperawatan
Perawat pendidik klinis yang tidak melibatkan aspek budaya dalam proses pembelajaran klinis akan mempengaruhi serta menghambat capaian tujuan pembelajaran klinis. Unsur budaya dala...
HtrA1 Is Specifically Up-Regulated in Active Keloid Lesions and Stimulates Keloid Development
HtrA1 Is Specifically Up-Regulated in Active Keloid Lesions and Stimulates Keloid Development
Keloids occur after failure of the wound healing process; inflammation persists, and various treatments are ineffective. Keloid pathogenesis is still unclear. We have previously an...
HtrA1 Is Specifically Up-Regulated in Active Keloid Lesions and Stimulates Keloids Development
HtrA1 Is Specifically Up-Regulated in Active Keloid Lesions and Stimulates Keloids Development
1) Background: Keloids occur after the failure during the wound-healing process, persist the inflammation and are refractory to various treatments. The pathogenesis of keloids is s...
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh...
Diagnosis and management of Auricular Lobe Keloid: A case report
Diagnosis and management of Auricular Lobe Keloid: A case report
Background: Keloid is an abnormal wound-healing process characterized by the formation of benign fibroproliferative tissue following trauma or injury. The auricular area is the mos...

Back to Top