Javascript must be enabled to continue!
Tatacara dan Pengaruh dalam Istiadat Menjunjung Duli di Negeri Selangor
View through CrossRef
Abstrak: Istiadat Menjunjung Duli yang diamalkan di negeri Selangor sejak zaman dahulu mempunyai seni dan kebudayaan yang tersendiri. Tatacara Istiadat Menjunjung Duli di negeri Selangor berbeza dengan negeri Perak yang yang dikhususkan kepada yang beragama Islam sahaja tetapi di negeri Selangor melibatkan penerima gelar yang beragama Islam dan bukan yang beragama Islam. Namun, yang diperjelaskan di bawah ini adalah khusus kepada orang yang beragama Islam. Tatacara Menjunjung Duli di negeri Selangor merupakan gabungan sosiobudaya dari negeri Perak dan tanah Luwu (Bugis). Elemen Bugis yang boleh dilihat adalah ragam seni gerak ketika lafaz taat setia memegang Lembing Sembuana dan menjunjung duli yang memperlihatkan kepahlawanan leluhur Raja Pemerintah negeri Selangor yang berasal dari Luwu (Bugis). Berdasarkan kepada pemerhatian yang dilalui sendiri oleh pengkaji yang menghadiri Istiadat Pemasyhuran Gelaran dan Mengangkat Sumpah serta Menjunjung Duli bagi Orang-Orang Besar Istana, Orang Besar Daerah dan Dato’-Dato’ Diraja Selangor yang berlangsung pada 17 Mac 2018 di Istana Alam Shah, Klang, terdapat beberapa proses dalam Istiadat Menjunjung Duli di negeri Selangor sebagaimana yang dinyatakan dalam Rajah 1. Tatacara Menjunjung Duli di negeri Selangor berbeza sama sekali dengan negeri-negeri lain. Berikut adalah huraian mengenai tatacara mengangkat sumpah bersaksikan Lembing Sembuana, Tatacara Menjunjung Duli dan Tatacara Mengadap Kembali Menyembahkan Persembahan. Keunikan adat menggelar pembesar di alam Melayu adalah sama pada hakikatnya suatu masa lalu, iaitu dengan pemberian persalinan. Namun dewasa ini, jika hendak dibandingkan dengan adat asal yang masih kekal di amalkan di negeri Perak, berlaku beberapa evolusi tetapi masih melestarikan pemberian persalinan dan beberapa elemen lain menyerap masuk dalam adat menggelar pembesar di negeri Selangor. sehingga ianya menjadi satu adat istiadat yang unik untuk dihuraikan.
Abstract: Since ancient times, the ceremonial Menjunjung Duli has been performed in the state of Selangor and has its unique art and culture. In contrast to the state of Perak, where only Muslims are allowed to participate in the Ceremonies of Honouring the King, Selangor's ceremonies include both Muslim and non-Muslim recipients of the title. The information follows, however, applies only to Muslims. The ceremonial Menjunjung Duli practice in the state of Selangor combines aspects of the Luwu (Bugis) and Perak socio-cultural spheres. When the manifestation of allegiance retains the Sembuana Spear and preserves the aristocracy, the Bugis element may be observed in a variety of movement art, displaying the bravery of the ruling king of Selangor's (Bugis) predecessors. According to the researcher's observations of the Title-proclamation ceremonies, oath-taking ceremonies, and ceremonies Menjunjung Duli for Orang-Orang Besar Istana, Orang Besar Daerah and Dato’-Dato’ Diraja Selangor which took place on 17 March 2018 at Istana Alam Shah, Klang. Several procedures are carried out during the ceremonial Menjunjung Duli in the state of Selangor, as shown in Figure 1. Selangor's Menjunjung Duli method is entirely distinct from those of other states. The process for swearing to witness the Sembuana Spear, honouring the nobles, and returning to provide offerings are all described in the following sections. The gift of garments is what makes the Malay world's chief-naming tradition distinctive, just as it did in the past. When compared to the original custom, which is still observed in the state of Perak, the custom of calling the chief in the state of Selangor today has undergone some evolutions while retaining the gift of clothing and some other elements, making it a distinctive custom that needs to be described.
Universiti Sains Islam Malaysia
Title: Tatacara dan Pengaruh dalam Istiadat Menjunjung Duli di Negeri Selangor
Description:
Abstrak: Istiadat Menjunjung Duli yang diamalkan di negeri Selangor sejak zaman dahulu mempunyai seni dan kebudayaan yang tersendiri.
Tatacara Istiadat Menjunjung Duli di negeri Selangor berbeza dengan negeri Perak yang yang dikhususkan kepada yang beragama Islam sahaja tetapi di negeri Selangor melibatkan penerima gelar yang beragama Islam dan bukan yang beragama Islam.
Namun, yang diperjelaskan di bawah ini adalah khusus kepada orang yang beragama Islam.
Tatacara Menjunjung Duli di negeri Selangor merupakan gabungan sosiobudaya dari negeri Perak dan tanah Luwu (Bugis).
Elemen Bugis yang boleh dilihat adalah ragam seni gerak ketika lafaz taat setia memegang Lembing Sembuana dan menjunjung duli yang memperlihatkan kepahlawanan leluhur Raja Pemerintah negeri Selangor yang berasal dari Luwu (Bugis).
Berdasarkan kepada pemerhatian yang dilalui sendiri oleh pengkaji yang menghadiri Istiadat Pemasyhuran Gelaran dan Mengangkat Sumpah serta Menjunjung Duli bagi Orang-Orang Besar Istana, Orang Besar Daerah dan Dato’-Dato’ Diraja Selangor yang berlangsung pada 17 Mac 2018 di Istana Alam Shah, Klang, terdapat beberapa proses dalam Istiadat Menjunjung Duli di negeri Selangor sebagaimana yang dinyatakan dalam Rajah 1.
Tatacara Menjunjung Duli di negeri Selangor berbeza sama sekali dengan negeri-negeri lain.
Berikut adalah huraian mengenai tatacara mengangkat sumpah bersaksikan Lembing Sembuana, Tatacara Menjunjung Duli dan Tatacara Mengadap Kembali Menyembahkan Persembahan.
Keunikan adat menggelar pembesar di alam Melayu adalah sama pada hakikatnya suatu masa lalu, iaitu dengan pemberian persalinan.
Namun dewasa ini, jika hendak dibandingkan dengan adat asal yang masih kekal di amalkan di negeri Perak, berlaku beberapa evolusi tetapi masih melestarikan pemberian persalinan dan beberapa elemen lain menyerap masuk dalam adat menggelar pembesar di negeri Selangor.
sehingga ianya menjadi satu adat istiadat yang unik untuk dihuraikan.
Abstract: Since ancient times, the ceremonial Menjunjung Duli has been performed in the state of Selangor and has its unique art and culture.
In contrast to the state of Perak, where only Muslims are allowed to participate in the Ceremonies of Honouring the King, Selangor's ceremonies include both Muslim and non-Muslim recipients of the title.
The information follows, however, applies only to Muslims.
The ceremonial Menjunjung Duli practice in the state of Selangor combines aspects of the Luwu (Bugis) and Perak socio-cultural spheres.
When the manifestation of allegiance retains the Sembuana Spear and preserves the aristocracy, the Bugis element may be observed in a variety of movement art, displaying the bravery of the ruling king of Selangor's (Bugis) predecessors.
According to the researcher's observations of the Title-proclamation ceremonies, oath-taking ceremonies, and ceremonies Menjunjung Duli for Orang-Orang Besar Istana, Orang Besar Daerah and Dato’-Dato’ Diraja Selangor which took place on 17 March 2018 at Istana Alam Shah, Klang.
Several procedures are carried out during the ceremonial Menjunjung Duli in the state of Selangor, as shown in Figure 1.
Selangor's Menjunjung Duli method is entirely distinct from those of other states.
The process for swearing to witness the Sembuana Spear, honouring the nobles, and returning to provide offerings are all described in the following sections.
The gift of garments is what makes the Malay world's chief-naming tradition distinctive, just as it did in the past.
When compared to the original custom, which is still observed in the state of Perak, the custom of calling the chief in the state of Selangor today has undergone some evolutions while retaining the gift of clothing and some other elements, making it a distinctive custom that needs to be described.
Related Results
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
PEMBANGUNAN KAMPUNG BARU DI SELANGOR DI BAWAH DASAR EKONOMI BARU (DEB), 1970-1990 New Village Development in Selangor under the New Economic Policy (NEP), 1970-1990
PEMBANGUNAN KAMPUNG BARU DI SELANGOR DI BAWAH DASAR EKONOMI BARU (DEB), 1970-1990 New Village Development in Selangor under the New Economic Policy (NEP), 1970-1990
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang pembangunan kampung baru di Selangor yang dilaksanakan oleh pihak kerajaan di bawah pelaksanaan Dasar Ekonomi Baru (DEB) pa...
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA KRISTEN
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA KRISTEN
Sepanjang sejarah Alkitab khususnya dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Tuhan Yesus banyak memakai dan melibatkan anak-anak dalam pengajaran dan pelayanan-Nya ini membuktikan b...
MITOS KECANTIKAN DALAM NOVEL GENDUT? SIAPA TAKUT! KARYA ALNIRA: KAJIAN FEMINISME NAOMI WOLF
MITOS KECANTIKAN DALAM NOVEL GENDUT? SIAPA TAKUT! KARYA ALNIRA: KAJIAN FEMINISME NAOMI WOLF
Penelitian ini berfokus pada aspek bentuk dan pengaruh mitos kecantikan dalam novel Gendut? Siapa Takut! karya Alnira (2019). Analisis dilakukan dengan memanfaatkan teori feminisme...
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
Makalah Kritik Seni "Musik Gereja dan Hymne"
MUSIK GEREJA DAN HYMNE A.Musik GerejaMusik gereja adalah penggunaan musik yang berkembang dan digunakan di gereja musik sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar ke...
Regina (Keyu) and Others v. Secretary of State for Foreign and Commonwealth Affairs and Another
Regina (Keyu) and Others v. Secretary of State for Foreign and Commonwealth Affairs and Another
Relationship of international law and municipal law — Treaties — Effect in municipal law — European Convention on Human Rights, 1950 — Article 2 of Convention — Human Rights Act 19...

