Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

ESENSI PROGRAM BIMBEL MANASIK HAJI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

View through CrossRef
<p><em>Hajj is the perfect worship of the pillars of Islam that became the goal of all Muslims in the world. So many hajj pilgrims who register to go to the Holy Land every year. Hajj implementation annually put aside various problems. One of them is not the optimal of the hajj manasik given by </em><em>Ministry of Religion </em><em> and the long departure time of hajj, while the candidate is dominated by the elderly (elderly). The ministry has a great desire to form an independent hajj, so becomes an important issue to be observed. Writing scientific paper aims to provide a good view to the Ministry of Religious Affairs or the guidance of pilgrimage to provide hajj man</em><em>a</em><em>sik not just a manasik in general, but really oriented to empowering prospective pilgrims to form an independent hajj. Some of things that must be done is first to use the right methods such as Affirmation and Repetition and PAIKEM, both utilizing long waiting times with useful activities.Such as training in making signs of haj pilgrimage (such as marking ribbons, masks, or slendang neck), training planting of live pharmacies, and making some goods to prepare for the departure of pilgrimage (eg small bags for storage of goods and others)</em><em>. </em><em>Third is to grow independent congregations in a way more opportunities to meet with other congregations in order to grow optimism in prospective pilgrims. </em></p><p>==================================================</p><p>Haji merupakan ibadah penyempurna rukun Islam yang menjadi tujuan seluruh muslim di dunia. Sehingga setiap tahun banyak jama’ah haji yang mendaftarkan diri untuk berangkat ke Tanah Suci. Pelaksanaan Haji setiap tahunnya menyisihkan problematika bermacam-macam, salah satunya ialah belum optimalnya manasik haji yang diberikan oleh Kemenag dan waktu tunggu keberangkatan haji yang lama, sedangkan calon jamaah di dominasi oleh lansia (orang lanjut usia). Kementrian sendiri memiliki keinginan besar untuk membentuk haji mandiri, maka demikian itu menjadi permsalahan yang penting untuk di teliti. Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan pandangan baik kepada Kemenag atau bimbel haji agar memberikan mansik haji tidak hanya sekedar manasik pada umumnya, tetapi betul-betul berorientasi pada pemberdayaan calon jamaah agar membentuk haji mandiri. Beberapa hal yang harus dilakukan ialah pertama menggunakan metode yang tepat seperti Affirmation and repetition dan PAIKEM, kedua memanfaatkan waktu tunggu yang begitu lama dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti Bersama-sama dalam pembuatan tanda-tanda perbekalan haji, seperti pembuatan tanda pita, masker, atau slendang leher, melatih penanaman tanaman apotik hidup, dan pembuatan beberapa barang untuk memepersiapkan keberangkatan haji, misalnya tas-tas kecil untuk penyimpanan barang dan lainnya. Ketiga ialah dengan menumbuhkan jamaah mandiri dengan cara lebih banyak memberikan peluang temu dengan jamaah lain agar tumbuh optimisme dalam diri calon jamaah.</p>
UIN Walisongo Semarang
Title: ESENSI PROGRAM BIMBEL MANASIK HAJI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Description:
<p><em>Hajj is the perfect worship of the pillars of Islam that became the goal of all Muslims in the world.
So many hajj pilgrims who register to go to the Holy Land every year.
Hajj implementation annually put aside various problems.
One of them is not the optimal of the hajj manasik given by </em><em>Ministry of Religion </em><em> and the long departure time of hajj, while the candidate is dominated by the elderly (elderly).
The ministry has a great desire to form an independent hajj, so becomes an important issue to be observed.
Writing scientific paper aims to provide a good view to the Ministry of Religious Affairs or the guidance of pilgrimage to provide hajj man</em><em>a</em><em>sik not just a manasik in general, but really oriented to empowering prospective pilgrims to form an independent hajj.
Some of things that must be done is first to use the right methods such as Affirmation and Repetition and PAIKEM, both utilizing long waiting times with useful activities.
Such as training in making signs of haj pilgrimage (such as marking ribbons, masks, or slendang neck), training planting of live pharmacies, and making some goods to prepare for the departure of pilgrimage (eg small bags for storage of goods and others)</em><em>.
</em><em>Third is to grow independent congregations in a way more opportunities to meet with other congregations in order to grow optimism in prospective pilgrims.
</em></p><p>==================================================</p><p>Haji merupakan ibadah penyempurna rukun Islam yang menjadi tujuan seluruh muslim di dunia.
Sehingga setiap tahun banyak jama’ah haji yang mendaftarkan diri untuk berangkat ke Tanah Suci.
Pelaksanaan Haji setiap tahunnya menyisihkan problematika bermacam-macam, salah satunya ialah belum optimalnya manasik haji yang diberikan oleh Kemenag dan waktu tunggu keberangkatan haji yang lama, sedangkan calon jamaah di dominasi oleh lansia (orang lanjut usia).
Kementrian sendiri memiliki keinginan besar untuk membentuk haji mandiri, maka demikian itu menjadi permsalahan yang penting untuk di teliti.
Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan pandangan baik kepada Kemenag atau bimbel haji agar memberikan mansik haji tidak hanya sekedar manasik pada umumnya, tetapi betul-betul berorientasi pada pemberdayaan calon jamaah agar membentuk haji mandiri.
Beberapa hal yang harus dilakukan ialah pertama menggunakan metode yang tepat seperti Affirmation and repetition dan PAIKEM, kedua memanfaatkan waktu tunggu yang begitu lama dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti Bersama-sama dalam pembuatan tanda-tanda perbekalan haji, seperti pembuatan tanda pita, masker, atau slendang leher, melatih penanaman tanaman apotik hidup, dan pembuatan beberapa barang untuk memepersiapkan keberangkatan haji, misalnya tas-tas kecil untuk penyimpanan barang dan lainnya.
Ketiga ialah dengan menumbuhkan jamaah mandiri dengan cara lebih banyak memberikan peluang temu dengan jamaah lain agar tumbuh optimisme dalam diri calon jamaah.
</p>.

Related Results

Perbedaan Haji Furoda, Haji ONH Plus, dan Haji Regular
Perbedaan Haji Furoda, Haji ONH Plus, dan Haji Regular
Haji reguler, haji plus, dan haji furoda adalah jenis-jenis program haji yang berbeda dengan fitur dan ketentuan masing-masing: Haji Reguler: Program ini merupakan haji yang dilaku...
Efektivitas Manasik Haji Dalam Meningkatkan Pemahaman Haji Dikalangan Jemaah Haji KBIHU Siti Khadijah Kota Palembang
Efektivitas Manasik Haji Dalam Meningkatkan Pemahaman Haji Dikalangan Jemaah Haji KBIHU Siti Khadijah Kota Palembang
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas manasik haji dalam meningkatkan pemahaman ibadah haji di kalangan jemaah KBIHU Siti Khadijah Kota Palembang. Metode yang digunak...
PELAKSANAAN BADAL HAJI SEBAGAI PROFIT DITINJAU DARI HUKUM ISLAM (The Implementation of The Badal Hajj As Profit In Terms Of Islamic Law)
PELAKSANAAN BADAL HAJI SEBAGAI PROFIT DITINJAU DARI HUKUM ISLAM (The Implementation of The Badal Hajj As Profit In Terms Of Islamic Law)
Badal haji merupakan ibadah haji yang dilakukan seorang muslim untuk menggantikan pelaksanaan ibadah haji orang lain. Badal haji identik dengan upah karena ibadah haji yang diganti...
Surveilans Kesehatan Haji di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Semarang
Surveilans Kesehatan Haji di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Semarang
Data penyelenggaraan kesehatan haji menunjukkan karakteristik hampir sama dalam lima belas tahun terakhir, yaitu usia lanjut dan mempunyai risiko tinggi penyakit, tetapi situasi ke...
KEKUATAN DAN KELEMAHAN PELAYANAN KESEHATAN HAJI PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAMUJU
KEKUATAN DAN KELEMAHAN PELAYANAN KESEHATAN HAJI PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAMUJU
Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan haji di Kabupaten Mamuju masih sulit mengoptimalkan penerapan standar, adanyaketerbatasan pemeriksaan haji, aspek kualitas dan ...
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR PANTAI BLANAKAN KABUPATEN SUBANG
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI PESISIR PANTAI BLANAKAN KABUPATEN SUBANG
Pemberdayaan adalah salah satu konsep didalam meningkatkan kualitas, baik kualitas sumberdaya manusia atau kualitas perekonomian. Masyarakat nelayan sebagai masyarakat yang memanfa...
Manajemen Pemberdayaan Masyarakat Desa Di Kabupaten Bengkalis
Manajemen Pemberdayaan Masyarakat Desa Di Kabupaten Bengkalis
ABSTRAK   Pokok permasalah pada masalah kemiskinan di Indonesia khususnya kabupaten Bengkalis. Kemiskinan adalah masalah klasik dan terjadi hamper di seluruh Negara di...

Back to Top