Javascript must be enabled to continue!
JURU KUNCI: KONTRADIKSI DALAM TIGA CERITA
View through CrossRef
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontradiksi yang dialami juru kunci yang terdapat dalam cerita Indonesia. Terdapat tiga cerita yang menjadi sampel dalam tulisan ini. Satu, “Juru Kunci” karya Teguh Affandi. Dua, “Juru Kunci Makam Eyang Sakri” karya Mukti Sutarman Espe. Tiga, “Juru Kunci” karya Renny Meita Widjajanti. Juru kunci merupakan penjaga tempat keramat dan dalam tulisan ini terdapat dua tempat keramat, yaitu makam dan sumur. Ketiga juru kunci, yaitu Mas Pon, Mbah Ban, dan Mbah Kromo. Semua juru kunci berjenis kelamin lelaki dan memiliki kontradiksi masing-masing. Pada pengalaman Mas Pon, kontradiksi meliputi tempat. Maksudnya, makam yang dahulu dianggap keramat dan sepi, kini menjadi tempat yang banyak dikunjungi pelayat termasuk para pedagang. Makam bukan lagi tempat yang menakutkan. Kontradiksi pada Mbah Ban adalah ia menonton pertunjukkan wayang. Sementara kepada masyarakat sekitar dan pendatang, ia menyatakan bahwa menonton wayang merupakan perilaku pantangan yang dapat mendatangkan malapetaka. Kontradiksi pada Mbah Kromo adalah ia membawa istrinya yang sakit ke rumah sakit, sementara kepada orang lain ia menganjurkan dan meyakinkan untuk menyembuhkan segala penyakit dengan meminum air sumur. Dengan gambaran tersebut, teks sastra seolah mengejek perilaku manusia yang kontradiktif.
Title: JURU KUNCI: KONTRADIKSI DALAM TIGA CERITA
Description:
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontradiksi yang dialami juru kunci yang terdapat dalam cerita Indonesia.
Terdapat tiga cerita yang menjadi sampel dalam tulisan ini.
Satu, “Juru Kunci” karya Teguh Affandi.
Dua, “Juru Kunci Makam Eyang Sakri” karya Mukti Sutarman Espe.
Tiga, “Juru Kunci” karya Renny Meita Widjajanti.
Juru kunci merupakan penjaga tempat keramat dan dalam tulisan ini terdapat dua tempat keramat, yaitu makam dan sumur.
Ketiga juru kunci, yaitu Mas Pon, Mbah Ban, dan Mbah Kromo.
Semua juru kunci berjenis kelamin lelaki dan memiliki kontradiksi masing-masing.
Pada pengalaman Mas Pon, kontradiksi meliputi tempat.
Maksudnya, makam yang dahulu dianggap keramat dan sepi, kini menjadi tempat yang banyak dikunjungi pelayat termasuk para pedagang.
Makam bukan lagi tempat yang menakutkan.
Kontradiksi pada Mbah Ban adalah ia menonton pertunjukkan wayang.
Sementara kepada masyarakat sekitar dan pendatang, ia menyatakan bahwa menonton wayang merupakan perilaku pantangan yang dapat mendatangkan malapetaka.
Kontradiksi pada Mbah Kromo adalah ia membawa istrinya yang sakit ke rumah sakit, sementara kepada orang lain ia menganjurkan dan meyakinkan untuk menyembuhkan segala penyakit dengan meminum air sumur.
Dengan gambaran tersebut, teks sastra seolah mengejek perilaku manusia yang kontradiktif.
Related Results
Pentingnya Juru Bicara Sebagai Komunikator Politik Pada Presidensi G20 Indonesia
Pentingnya Juru Bicara Sebagai Komunikator Politik Pada Presidensi G20 Indonesia
Juru bicara adalah perwakilan suara dari suatu kelompok, lembaga ataupun organisasi yang dipercaya untuk menyampaikan pesan kepada khalayak ramai. Seorang juru bicara dapat berpera...
Identifikasi Cerita Rakyat Sumbawa
Identifikasi Cerita Rakyat Sumbawa
Selama ini pemerintah tampaknya hanya berusaha untuk memajukan kebudayaan nasional. Padahal pemerintah diharapkan juga menggali dan memperkenalkan kekayaan khasanah kebudayaan loka...
Pemanfaatan Cerita Rakyat Sumbawa Sebagai Bahan Literasi Siswa Sekolah Dasar
Pemanfaatan Cerita Rakyat Sumbawa Sebagai Bahan Literasi Siswa Sekolah Dasar
Cerita rakyat Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat merupakan cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang secara lisan dan menyebar secara turun temurun dari generasi ke generasi beri...
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERITA RAKYAT ACEH BESAR
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERITA RAKYAT ACEH BESAR
Penelitian ini membahas tentang analisis gaya bahasa dalam cerita rakyat Aceh Besar. Rumusan masalah penelitian ini adalah apa saja jenis-jenis gaya bahasa yang terdapat dalam ceri...
Juru Teges Sebagai Juru Bahasa Dalam Tradisi Masyarakat Madura
Juru Teges Sebagai Juru Bahasa Dalam Tradisi Masyarakat Madura
Kajian awal ini bertujuan mengumpulkan bukti tentang penerjemahan sastra melalui pemerian prosedur kerja juru teges, sebuah profesi tradisional dalam mamaca, sebuah tradisi lisan m...
MENGEMBANGKAN KREATIVITAS GURU PAUD DALAM MENULIS CERITA ANAK BERBASIS KARAKTER DI JAKARTA DAN SEKITARNYA
MENGEMBANGKAN KREATIVITAS GURU PAUD DALAM MENULIS CERITA ANAK BERBASIS KARAKTER DI JAKARTA DAN SEKITARNYA
Berdasarkan hasil penelitian masih banyak permasalahan dalam penyelenggaran pendidikan Anak Usia Dini, salah satu permasalahan yang ada adalah metode yang digunakan dalam menyampai...
Nilai-nilai Karakter pada Kumpulan Cerita Pendek Anak Banua
Nilai-nilai Karakter pada Kumpulan Cerita Pendek Anak Banua
Setiap karya sastra mengandung nilai-nilai yang bersumber dari agama, tradisi, budaya, dan kebangsaan. Karya sastra berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Karya sastra merupaka...
Intertextual Study in Comparative Literature: Folklore of Oedipus and Folklore of Sangkuriang
Intertextual Study in Comparative Literature: Folklore of Oedipus and Folklore of Sangkuriang
The purpose of this research is to identify intertextual study in comparative literature of Oedipus folklore and Sangkuriang folklore. The intertextual study of comparative literat...

