Javascript must be enabled to continue!
Konsep “ALO” Dayak Kenyah dalam Perspektif Liyan menurut Sartre
View through CrossRef
Masyarakat Dayak Kenyah memandang orang asing dengan sebutan “Alo”. Konsep “Alo” secara khusus mereka memandang untuk orang asing yang tidak berasal dari suku mereka adalah “Alo”. Secara Harafiah Kata “Alo” berarti asing, dan dikenakan dalam kehidupan bersama para pendatang sebagai “Alo”. Konsep “Alo” yang sudah menjadi kebiasaan umum menunjukkan ada penempatan Kebijakan masyarakat bagi orang-orang yang dikenakan “Alo”. Kebijakan untuk dikenakan adat atau aturan adat bisa menjadi pertimbangan karena “Alo”. Konsep “Alo” disandingkan dengan perspektif Liyan menurut Sarte yakni membahas orang lain. “Alo” memandang Liyan sebagai yang asing atau berbeda dengan mereka dalam hal budaya dan latar belakang, sehingga “Alo” juga menjadi Liyan yang dikenal. Sarte melihat orang lain sebagai dia yang membahayakan. Orang lain sebagai pribadi yang mendatangkan malapetaka. Pandangan Sartre dan Budaya Kenyah dipertemukan dan diangkat menjadi dialog dalam memandang orang lain sebagai yang asing. Nilai positif dan negatif yang bisa temukan menjadi landasan berpikir dalam penempatan orang lain yang tidak dikenal. Nilai Positifnya adalah ada kewaspadaan diri dan nilai negatifnya berprasangka buruk kepada orang lain. Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif kedua perspektif untuk menemukan relevansi bagi kehidupan bermasyarakat.
Title: Konsep “ALO” Dayak Kenyah dalam Perspektif Liyan menurut Sartre
Description:
Masyarakat Dayak Kenyah memandang orang asing dengan sebutan “Alo”.
Konsep “Alo” secara khusus mereka memandang untuk orang asing yang tidak berasal dari suku mereka adalah “Alo”.
Secara Harafiah Kata “Alo” berarti asing, dan dikenakan dalam kehidupan bersama para pendatang sebagai “Alo”.
Konsep “Alo” yang sudah menjadi kebiasaan umum menunjukkan ada penempatan Kebijakan masyarakat bagi orang-orang yang dikenakan “Alo”.
Kebijakan untuk dikenakan adat atau aturan adat bisa menjadi pertimbangan karena “Alo”.
Konsep “Alo” disandingkan dengan perspektif Liyan menurut Sarte yakni membahas orang lain.
“Alo” memandang Liyan sebagai yang asing atau berbeda dengan mereka dalam hal budaya dan latar belakang, sehingga “Alo” juga menjadi Liyan yang dikenal.
Sarte melihat orang lain sebagai dia yang membahayakan.
Orang lain sebagai pribadi yang mendatangkan malapetaka.
Pandangan Sartre dan Budaya Kenyah dipertemukan dan diangkat menjadi dialog dalam memandang orang lain sebagai yang asing.
Nilai positif dan negatif yang bisa temukan menjadi landasan berpikir dalam penempatan orang lain yang tidak dikenal.
Nilai Positifnya adalah ada kewaspadaan diri dan nilai negatifnya berprasangka buruk kepada orang lain.
Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif kedua perspektif untuk menemukan relevansi bagi kehidupan bermasyarakat.
Related Results
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ABSTRAK Penulis tertarik mengajikan Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau karena Upacara Ladung Bio’ adalah upcara Adat Dayak Kenyah yang sangat penting. ...
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
<p>ABSTRACT<br />Sintang’s Dayak ikat weaving, which is one of the cultural artifacts of Sintang District, West Kalimantan, is used by indigenous peoples (Dayak tribes)...
MAKNA PEKATOQ DALAM TRADISI UMAN JENAI SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU (KAJIAN FOLKLOR)
MAKNA PEKATOQ DALAM TRADISI UMAN JENAI SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU (KAJIAN FOLKLOR)
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana makna pekatoq dalam tradisi uman jenai Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau? (2) Bagaimana fungsi pekatoq dalam Tradisi uman jenai s...
TRANFORMASI SOSIAL DALAM ETNIK KENYAH SANG DI LONG SAN, BARAM, SARAWAK
TRANFORMASI SOSIAL DALAM ETNIK KENYAH SANG DI LONG SAN, BARAM, SARAWAK
Objektif utama kajian ini bertujuan untuk menjelajahi transformasi sosial dalam masyarakat Kenyah Sang di Long San, Baram iaitu sebelum dan selepas memeluk agama Kristian pada tahu...
Tatag De Penyawo: Perenungan Atas Identitas Kesukuan
Tatag De Penyawo: Perenungan Atas Identitas Kesukuan
ABSTRAK Tatag de Penyawo adalah sebuah koreografi kelompok yang ditampilkan oleh 9 orang penari laki-laki. Karya ini lahir dari hasil perenungan penata tari yang gelisah dengan ide...
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
ABSTRACT
Character education is one of the activities that aims to educate future generations by perfecting students self by training their self-ability towards a better life...
EKSISTENSI BAHASA DAYAK KENYAH DI KOTA BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR
EKSISTENSI BAHASA DAYAK KENYAH DI KOTA BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR
Pemertahanan dan pergeseran bahasa merupakan dua gejala kebahasaan yang saling terkait. Bahasa dikatakan mengalami pergeseran ketika suatu masyarakat mulai meninggalka...
Interelasi Manusia dengan Alam dalam Cerita Rakyat Danyak Kenyah Lepoq Jalan: Kajian Ekolinguistik
Interelasi Manusia dengan Alam dalam Cerita Rakyat Danyak Kenyah Lepoq Jalan: Kajian Ekolinguistik
Cerita rakyat Dayak Kenyah Lepoq Jalan mencermikan realitas kehidupan sehari-hari mereka yang berkaitan dengan alam. Hubungan masyarakat Dayak dengan alam terjalin harmonis karena ...

