Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KEMANDIRIAN TEKNOLOGI PENGEMBANGAN RECEIVER GNSS UNTUK MOBILE CORS BERBASIS CLOUD SERVER

View through CrossRef
Distribusi Jaringan Continuously Operating Reference Station (CORS) Indonesia yang ada saat ini dapat dikatakan relatif masih jauh dari cukup untuk melayani penentuan posisi berketelian sub-desimeter dengan Teknik Real Time Kinematic (RTK) di seluruh Indonesia terutama oleh faktor jarak antar stasiun baru mencapai sekitar 500 km dari ideal sekitar 50 km. Upaya untuk mengisi gap ketersedian layanan CORS di berbagai di perkotaan, urban dan termasuk pedesaan yang sudah terjangkau akses internet of things (IOT) seperti GPRS, maka dibutuhkan inovasi teknologi pengembangan geodetic receiver GNSS CORS dengan kandungan lokal yang memadai. Kemandirian teknologi ini ditujukan untuk mengembangkan receiver CORS yang handal, baik dari aspek teknis seperti akurat, mudah dioperasikan, dan sukses keberadaan data minimal 98% per tahun, maupun dari aspek ekonomi terutama harganya lebih terjangkau dari receiver impor. Inisatif pengembangan ini dimulai dengan menggunakan Tersus OEM GNSS board series BX305 dan integrasi OEM board in dengan mini PC. Pengembangan yang telah dilakukan meliputi aspek berikut yaitu: i) Disain electron ic cir c uit dan perangkat untuk catu daya, ii) Kustomisasi receiver c o m m a n d s e t tin g , iii) Penambahan GSM/GPRS modem dan internet protocol untuk komunikasi data streaming ke cloud server , iv) instalasi software SNIP pada cloud server untuk layanan koreksi CORS, dan v) menguji performa dari NTRIP client pada receiver rover . Hasil uji lapangan di Kampus UI Depok dan kegiatan pengukuran bidang tanah dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Bandung Barat, Padang dan Tangerang menunjukkan durasi waktu yang lebih cepat untuk mendapatkan solusi fixed ambiguites . Hasil menunjukkan bahwa waktu untuk mendapatkan fixed ambiguities RTK CORS di mana jarak rover dengan base station yang lebih rapat sekitar radius 10 km dapat mencapai sekitar 5-7 detik. Waktu lebih lama dibutuhkan untuk mendapatkan solusi fixed pada radius 10-20 km dan kenyataannya jauh lebih lama dan lebih sering tidak berhasil apabila rover berada pada radius diatas 20 km. Kajian lebih lanjut masih diperlukan untuk mendapatkan ketahanan receiver dari sisi mean time between failure (MTBF) dan kestabilan aplikasi pada cloud server untuk layanan koreksi RTK CORS.
Title: KEMANDIRIAN TEKNOLOGI PENGEMBANGAN RECEIVER GNSS UNTUK MOBILE CORS BERBASIS CLOUD SERVER
Description:
Distribusi Jaringan Continuously Operating Reference Station (CORS) Indonesia yang ada saat ini dapat dikatakan relatif masih jauh dari cukup untuk melayani penentuan posisi berketelian sub-desimeter dengan Teknik Real Time Kinematic (RTK) di seluruh Indonesia terutama oleh faktor jarak antar stasiun baru mencapai sekitar 500 km dari ideal sekitar 50 km.
Upaya untuk mengisi gap ketersedian layanan CORS di berbagai di perkotaan, urban dan termasuk pedesaan yang sudah terjangkau akses internet of things (IOT) seperti GPRS, maka dibutuhkan inovasi teknologi pengembangan geodetic receiver GNSS CORS dengan kandungan lokal yang memadai.
Kemandirian teknologi ini ditujukan untuk mengembangkan receiver CORS yang handal, baik dari aspek teknis seperti akurat, mudah dioperasikan, dan sukses keberadaan data minimal 98% per tahun, maupun dari aspek ekonomi terutama harganya lebih terjangkau dari receiver impor.
Inisatif pengembangan ini dimulai dengan menggunakan Tersus OEM GNSS board series BX305 dan integrasi OEM board in dengan mini PC.
Pengembangan yang telah dilakukan meliputi aspek berikut yaitu: i) Disain electron ic cir c uit dan perangkat untuk catu daya, ii) Kustomisasi receiver c o m m a n d s e t tin g , iii) Penambahan GSM/GPRS modem dan internet protocol untuk komunikasi data streaming ke cloud server , iv) instalasi software SNIP pada cloud server untuk layanan koreksi CORS, dan v) menguji performa dari NTRIP client pada receiver rover .
Hasil uji lapangan di Kampus UI Depok dan kegiatan pengukuran bidang tanah dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Bandung Barat, Padang dan Tangerang menunjukkan durasi waktu yang lebih cepat untuk mendapatkan solusi fixed ambiguites .
Hasil menunjukkan bahwa waktu untuk mendapatkan fixed ambiguities RTK CORS di mana jarak rover dengan base station yang lebih rapat sekitar radius 10 km dapat mencapai sekitar 5-7 detik.
Waktu lebih lama dibutuhkan untuk mendapatkan solusi fixed pada radius 10-20 km dan kenyataannya jauh lebih lama dan lebih sering tidak berhasil apabila rover berada pada radius diatas 20 km.
Kajian lebih lanjut masih diperlukan untuk mendapatkan ketahanan receiver dari sisi mean time between failure (MTBF) dan kestabilan aplikasi pada cloud server untuk layanan koreksi RTK CORS.

Related Results

GNSS Interferometric Reflectometry for Station Location Suitability Analysis
GNSS Interferometric Reflectometry for Station Location Suitability Analysis
<p>National geodetic reference systems can be continuously monitored using applications of Global Navigation Satellite Systems (GNSS). Within these reference systems,...
STRATEGI PENDEFINISIAN CORS ULPC DENGAN KOMBINASI SATELIT GPS DAN GLONAS
STRATEGI PENDEFINISIAN CORS ULPC DENGAN KOMBINASI SATELIT GPS DAN GLONAS
CORS adalah suatu teknologi berbasis GNSS berupa jaringan kerangka geodesi yang setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang dapat menerima sinyal gelombang dari satelit GNSS se...
GNSS reflectometry for land remote sensing applications
GNSS reflectometry for land remote sensing applications
Soil moisture and vegetation biomass are two essential parameters from a scienti c and economical point of view. On one hand, they are key for the understanding of the hydrological...
Pseudorange multipath at Zomba geodynamics Continuously Operating Reference Station (CORS) in Malawi
Pseudorange multipath at Zomba geodynamics Continuously Operating Reference Station (CORS) in Malawi
Multipath effects are mostly regarded as a nuisance in Global Navigation Satellite System (GNSS) receiver measurements and it is of utmost relevance to expose the magnitude this er...
GNSS-based orbit and geodetic parameter estimation by means of simulated GENESIS data
GNSS-based orbit and geodetic parameter estimation by means of simulated GENESIS data
The ESA GENESIS mission, which obtained green light at ESA's Council Meeting at Ministerial Level in November 2022 and which is expected to be launched in 2027, aims to significant...
Correcting geocenter motion in GNSS solutions by combining with satellite laser ranging data
Correcting geocenter motion in GNSS solutions by combining with satellite laser ranging data
Abstract Geocenter motion in GNSS solutions is ill-defined because of the GNSS orbit modeling errors. Especially, the Z geocenter component derived from GNSS data...
Impact of GNSS singular events on the integrity of airport navigation systems
Impact of GNSS singular events on the integrity of airport navigation systems
Impact des évènements singuliers GNSS sur l'intégrité des systèmes de navigation aéroportuaires Les systèmes GNSS sont actuellement utilisés en aviation civil...

Back to Top