Javascript must be enabled to continue!
AJARAN WUJUDIYAH MENURUT NURUDDIN AR-RANIRI
View through CrossRef
Abstract. In the 16th and 17th centuries, the influence and power of Aceh Kingdom reached the sumatra Island and Malay peninsula. Also at that time, Aceh kingdom has acheived a lot of progress in the field of education, the development of thought aprreciation of islmaic teaching. Nuruddin Ar-Raniri is one of immigrant moeslim scholar who take part in the development of Islam in Aceh. His big agenda is to straighten agenda out the understanding of Islam which was brought first by his predecessors, they are Hamzah Fansuri and Syamsuddin as-Samatrani. Their Islamic teaching known by wujudiyah, its close with Ibn Arabi’s mystical understanding or wahdatul wujud. According to ar-Raniri, there are three reasons to oppose this teaching. First, wujudiyah is identic with pre-Islmaic belief such as Christianity, Majusi and Brahmani. Second, Wujudiyah same with splinter sects in Islam that emerged after Prophed died, like Mu’tazilah dan Qadariyyah. Third, wujudiyyah is practices of deviant tarekat from Sunni. His opposition was caused basically he was a Sunni scholars who adheres wahdatus Syuhud’s view. While in fiqh, he is an Asy’ariyah follower. His noncompromise actions against the wujudiyah followers were related to his life in India, which was filled with long intolerant conflicts between Hindus and Muslims.Keywords : Nuruddin Ar-Raniri, Wujudiyyah, Sufism Abstrak. Pada abad ke 16 dan 17 M, pengaruh dan kekuasaan kerjaan Aceh telah sangat terasa di kepulauan Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu. Dalam rentan waktu ini pula, kerajaan Aceh telah mencapai banyak kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan, perkembangan pemikiran serta penghayatan terhadap ajaran Islam. Nuruddin Ar-Raniri merupakan salah satu ulama’ pendatang yang ikut mewarnai perkembangan Islam di Aceh. Agenda besarnya adalah meluruskan pemahaman Islam yang terlebih dahulu disebarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani. Ajaran yang dikenal dengan nama wujudiyah ini dekat dengan pemikiran sufistik ibn Arabi atau wahdatul wujud. Menurut arRaniri, terdapat tiga alasan mengapa ajaran tersebut perlu ditentang. Pertama Wujudiyah identik dengan agama dan kepercayaan pra Islam seperti Nasrani, Majusi dan Brahmaniyah. Kedua, ajaran Wujudiyah sama dengan ajaran sekte-sekte sempalan dalam Islam pasca Rasulullah wafat, seperti Mu’tazilah dan Qadariyyah. Ketiga, Wujudiyyah merupakan pengamalan dari tarekat yang sesat dan menyimpang dari konsep Islam Sunni. Penentangan ini disebabkan karena pada dasarnya ia adalah ulama’ sunni yang menganut paham Wahdatus Syuhud dalam konsep tasawufnya. Sementara dalam bidang keilmuan lainnya, seperti fikih jelas sekali bahwa ia merupakan Ulama’ sunni yang setia terhadap ajaran Asy’ariyah.Sikap non komprominya kepada terhadap para pengikut wujudiyah dikaitkan dengan kehidupan masa lalunya di India yang hidup dalam konflik berkepanjangan antara Hindu dan Islam yang tidak toleran.Kata Kunci: Nuruddin Ar-Raniri, Wujudiyyah, Tasawuf
Title: AJARAN WUJUDIYAH MENURUT NURUDDIN AR-RANIRI
Description:
Abstract.
In the 16th and 17th centuries, the influence and power of Aceh Kingdom reached the sumatra Island and Malay peninsula.
Also at that time, Aceh kingdom has acheived a lot of progress in the field of education, the development of thought aprreciation of islmaic teaching.
Nuruddin Ar-Raniri is one of immigrant moeslim scholar who take part in the development of Islam in Aceh.
His big agenda is to straighten agenda out the understanding of Islam which was brought first by his predecessors, they are Hamzah Fansuri and Syamsuddin as-Samatrani.
Their Islamic teaching known by wujudiyah, its close with Ibn Arabi’s mystical understanding or wahdatul wujud.
According to ar-Raniri, there are three reasons to oppose this teaching.
First, wujudiyah is identic with pre-Islmaic belief such as Christianity, Majusi and Brahmani.
Second, Wujudiyah same with splinter sects in Islam that emerged after Prophed died, like Mu’tazilah dan Qadariyyah.
Third, wujudiyyah is practices of deviant tarekat from Sunni.
His opposition was caused basically he was a Sunni scholars who adheres wahdatus Syuhud’s view.
While in fiqh, he is an Asy’ariyah follower.
His noncompromise actions against the wujudiyah followers were related to his life in India, which was filled with long intolerant conflicts between Hindus and Muslims.
Keywords : Nuruddin Ar-Raniri, Wujudiyyah, Sufism Abstrak.
Pada abad ke 16 dan 17 M, pengaruh dan kekuasaan kerjaan Aceh telah sangat terasa di kepulauan Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu.
Dalam rentan waktu ini pula, kerajaan Aceh telah mencapai banyak kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan, perkembangan pemikiran serta penghayatan terhadap ajaran Islam.
Nuruddin Ar-Raniri merupakan salah satu ulama’ pendatang yang ikut mewarnai perkembangan Islam di Aceh.
Agenda besarnya adalah meluruskan pemahaman Islam yang terlebih dahulu disebarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani.
Ajaran yang dikenal dengan nama wujudiyah ini dekat dengan pemikiran sufistik ibn Arabi atau wahdatul wujud.
Menurut arRaniri, terdapat tiga alasan mengapa ajaran tersebut perlu ditentang.
Pertama Wujudiyah identik dengan agama dan kepercayaan pra Islam seperti Nasrani, Majusi dan Brahmaniyah.
Kedua, ajaran Wujudiyah sama dengan ajaran sekte-sekte sempalan dalam Islam pasca Rasulullah wafat, seperti Mu’tazilah dan Qadariyyah.
Ketiga, Wujudiyyah merupakan pengamalan dari tarekat yang sesat dan menyimpang dari konsep Islam Sunni.
Penentangan ini disebabkan karena pada dasarnya ia adalah ulama’ sunni yang menganut paham Wahdatus Syuhud dalam konsep tasawufnya.
Sementara dalam bidang keilmuan lainnya, seperti fikih jelas sekali bahwa ia merupakan Ulama’ sunni yang setia terhadap ajaran Asy’ariyah.
Sikap non komprominya kepada terhadap para pengikut wujudiyah dikaitkan dengan kehidupan masa lalunya di India yang hidup dalam konflik berkepanjangan antara Hindu dan Islam yang tidak toleran.
Kata Kunci: Nuruddin Ar-Raniri, Wujudiyyah, Tasawuf.
Related Results
PEMIKIRAN WUJUDIYAH HAMZAH FANSURI DAN KRITIK NURUDIN AL-RANIRI
PEMIKIRAN WUJUDIYAH HAMZAH FANSURI DAN KRITIK NURUDIN AL-RANIRI
Penelitian dengan judul “Pemikiran Wujudiyah Hamzah Fansuri dan KritikNurudin Al-Raniri” bertujuan untuk mengetahui: (1) Corak pemikiran wujudiyah HamzahFansuri;(2) Alasan mengapa ...
DARI WUJUDIYAH KE MA’RIFAH: GENEOLOGI TASAWUF HAMZAH FANSURI
DARI WUJUDIYAH KE MA’RIFAH: GENEOLOGI TASAWUF HAMZAH FANSURI
Secara umum, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri disebut sebagai ajaran Wujǔdiyah. Secara geneologi, kata wujǔdiyah tidak ditemukan dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Kata tersebut justru...
Sheikh Nuruddin Al-Raniri Description Of Heaven In Bad 'Al-Khalq Al-Samawat Wa Al-Ard [MSS 1517(A)]
Sheikh Nuruddin Al-Raniri Description Of Heaven In Bad 'Al-Khalq Al-Samawat Wa Al-Ard [MSS 1517(A)]
Sheikh Nuruddin al-Raniri (d. 1658) is a renowned scholar in the Malay archipelago during the rule of Sultan Iskandar Thani (1636-1641 AD) in Acheh. He had authored 35 works on var...
The Concept of the Intellect According to Nuruddin Al-Raniri in the Bustan Al-Salatin
The Concept of the Intellect According to Nuruddin Al-Raniri in the Bustan Al-Salatin
Written by Nuruddin al-Raniri, Bustan al-Salatin ranks among the most well-known pieces of traditional Malay literature. This work discusses issues of varying themes, such as relig...
Kontribusi Nuruddin Ar-Raniri Dalam Tradisi Penulisan Hadis di Nusantara
Kontribusi Nuruddin Ar-Raniri Dalam Tradisi Penulisan Hadis di Nusantara
This study discusses the traces of 17th century hadith scholars with a focus on Nuruddin ar-Raniri, a prominent scholar in the archipelago, and his contribution to the tradition of...
Dialektika Filsafat Islam Sufistik Wujuddiyah Di Indonesia
Dialektika Filsafat Islam Sufistik Wujuddiyah Di Indonesia
The first Islamic philosophy that emerged in Indonesia was the Islamic philosophy that had been linked to Sufism, or Sufistic Islamic philosophy, namely Islamic philosophy in Sufis...
A Newly Discovered Manuscript: Second Version of Syarh Rubai of Hamzah Fansuri Written by Syamsuddin Al Sumatrani
A Newly Discovered Manuscript: Second Version of Syarh Rubai of Hamzah Fansuri Written by Syamsuddin Al Sumatrani
In the paper we provide a report on the discovery of a manuscript containing Syarh Rubai of Hamzah Fansuri written by his disciple Syamsuddin Al Sumatrani, which was found in the M...
PILAR-PILAR PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN ACEH
PILAR-PILAR PENDIDIKAN ISLAM DI KESULTANAN ACEH
Abstract: Talking about Islamic education in Aceh means that it will be confronted with the embryos of Islamic education in the archipelago. The Perlak Kingdom which was founded in...

