Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PEMBANGUNAN BENTENG NOSTRA SENORA DEL ROSARIO (THE ESTABLISHMENT OF NOSTRA SENORA DEL ROSARIO FORT)

View through CrossRef
Rempah-rempah menjadi daya tarik utama kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Cengkih, pala, dan fuli (bagian dalam buah pala yang berwarna merah dengan aroma harum) merupakan jenis rempah yang dicari. Rempah-rempah  yang berasal dari Pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menjadi komoditas utama yang memiliki nilai tinggi dan diperebutkan oleh bangsa Eropa. Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang berhasil mencapai kepulauan rempah. Setelah menaklukkan Malaka pada tahun 1511, Alburqueque mengirimkan tiga kapal mencari kepulauan rempah. Kedatanganbangsa Portugis ke Maluku menjadi penanda awal hubungan bangsa Eropa dengan Nusantara hingga abad XX. Motivasi kedatangan bangsa Eropa yang didorong dengan semangat gold, gospel, dan glory memicu konflik yang berkepanjangan antara Eropa dan penduduk Maluku. Kedatangan Portugis ke Maluku disambut dengan baik oleh Sultan Ternate, Sultan Bayan  (Abu Lais). Hubungan perdagangan yang baik antara Kesultanan Ternate dengan Portugis mendorong niat Portugis untuk membangun benteng di Ternate. Keinginan Portugis untuk membangun benteng mendapat izin dari Kesultanan Ternate. Tahap awal pengerjaan benteng dimulai pada tahun 1522. Daerah Kastela dipilih sebagai lokasi pembangunan benteng. Benteng ini merupakan benteng Portugis pertama di Nusantara. Selain sebagai pusat untuk perdagangan dan tempat tinggal bangsa Portugis, benteng pertama ini juga menjadi sekolah teologi pertama di Asia Tenggara. Benteng ini diberi nama Sao Joao Bautista atau Nostra Senora del Rosario yang berarti wanita cantik berkalung bunga mawar. Spices had attracted the arrival of Europeans to the archipelago. Cloves, nutmeg, and mace (the inside part of nutmeg which red color and fragrant) were the most wanted spices. The spices originating from the islands of Ternate, Tidore, Moti, Makian, and Bacan became a high value comodity which was contested by Europeans. Portuguese was the first Europeans to reach the spice islands. After conquering Malacca in 1511, Alburqueque sent three ships to discover the spice islands. The arrival of the Portuguese to Moluccas was a sign of the beginning of the relationship between Portugal and Maluku until XX century. Portuguese motivation arriving to Mollucas was driven by enthusiasm gold, gospel, and glory. The arrival of the Portuguese was welcomed by the Sultan of Ternate, Sultan Bayan (Abu Lais). Good trade relations between Portuguese and Ternate encouraged Portuguese intention to build a fort in Ternate. the Portuguese wish to build a fort got permission from the Sultan. In 1522, early of the fort construction began. Kastela area was chosen as the location for the fort construction. It become the first Portuguese fort in the archipelago. Other than as a trading centre and Portuguese residence, the fort was also the first theological school in Southeast Asia. The fort is named of Sao Joao Bautista or Nostra Senora del Rosario which means beautiful women with rose flowers.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud
Title: PEMBANGUNAN BENTENG NOSTRA SENORA DEL ROSARIO (THE ESTABLISHMENT OF NOSTRA SENORA DEL ROSARIO FORT)
Description:
Rempah-rempah menjadi daya tarik utama kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara.
Cengkih, pala, dan fuli (bagian dalam buah pala yang berwarna merah dengan aroma harum) merupakan jenis rempah yang dicari.
Rempah-rempah  yang berasal dari Pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menjadi komoditas utama yang memiliki nilai tinggi dan diperebutkan oleh bangsa Eropa.
Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang berhasil mencapai kepulauan rempah.
Setelah menaklukkan Malaka pada tahun 1511, Alburqueque mengirimkan tiga kapal mencari kepulauan rempah.
Kedatanganbangsa Portugis ke Maluku menjadi penanda awal hubungan bangsa Eropa dengan Nusantara hingga abad XX.
Motivasi kedatangan bangsa Eropa yang didorong dengan semangat gold, gospel, dan glory memicu konflik yang berkepanjangan antara Eropa dan penduduk Maluku.
Kedatangan Portugis ke Maluku disambut dengan baik oleh Sultan Ternate, Sultan Bayan  (Abu Lais).
Hubungan perdagangan yang baik antara Kesultanan Ternate dengan Portugis mendorong niat Portugis untuk membangun benteng di Ternate.
Keinginan Portugis untuk membangun benteng mendapat izin dari Kesultanan Ternate.
Tahap awal pengerjaan benteng dimulai pada tahun 1522.
Daerah Kastela dipilih sebagai lokasi pembangunan benteng.
Benteng ini merupakan benteng Portugis pertama di Nusantara.
Selain sebagai pusat untuk perdagangan dan tempat tinggal bangsa Portugis, benteng pertama ini juga menjadi sekolah teologi pertama di Asia Tenggara.
Benteng ini diberi nama Sao Joao Bautista atau Nostra Senora del Rosario yang berarti wanita cantik berkalung bunga mawar.
 Spices had attracted the arrival of Europeans to the archipelago.
Cloves, nutmeg, and mace (the inside part of nutmeg which red color and fragrant) were the most wanted spices.
The spices originating from the islands of Ternate, Tidore, Moti, Makian, and Bacan became a high value comodity which was contested by Europeans.
Portuguese was the first Europeans to reach the spice islands.
After conquering Malacca in 1511, Alburqueque sent three ships to discover the spice islands.
The arrival of the Portuguese to Moluccas was a sign of the beginning of the relationship between Portugal and Maluku until XX century.
Portuguese motivation arriving to Mollucas was driven by enthusiasm gold, gospel, and glory.
The arrival of the Portuguese was welcomed by the Sultan of Ternate, Sultan Bayan (Abu Lais).
Good trade relations between Portuguese and Ternate encouraged Portuguese intention to build a fort in Ternate.
the Portuguese wish to build a fort got permission from the Sultan.
In 1522, early of the fort construction began.
Kastela area was chosen as the location for the fort construction.
It become the first Portuguese fort in the archipelago.
Other than as a trading centre and Portuguese residence, the fort was also the first theological school in Southeast Asia.
The fort is named of Sao Joao Bautista or Nostra Senora del Rosario which means beautiful women with rose flowers.

Related Results

IDENTIFIKASI TINGGALAN-TINGGALAN ARKEOLOGI BENTENG PATUA DI KECAMATAN TOMIA KABUPATEN WAKATOBI
IDENTIFIKASI TINGGALAN-TINGGALAN ARKEOLOGI BENTENG PATUA DI KECAMATAN TOMIA KABUPATEN WAKATOBI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja tinggalan yang terdapat pada Benteng Patua dan fungsi Benteng patua berdasarkan tinggalannya. Penelitian ini menggunakan teori ar...
IDENTIFICATION OF THE BONE-BONE FORT IN BONE-BONE VILLAGE, BATUKARA DISTRICT, MUNA REGENCY
IDENTIFICATION OF THE BONE-BONE FORT IN BONE-BONE VILLAGE, BATUKARA DISTRICT, MUNA REGENCY
Benteng Bone-Bone is one of the archaeological remains that constitutes a cultural heritage of the Indonesian nation. This research addresses two main problems: (1) what archaeolog...
Efektivitas Program Partisipatif Kelompok Perempuan dalam Meningkatkan Swadaya Masyarakat
Efektivitas Program Partisipatif Kelompok Perempuan dalam Meningkatkan Swadaya Masyarakat
Di era otonomi daerah, yang diawali dengan UU RI No. 22 Tahun 1999, yang diamandemen dengan UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah lokal, telah memberikan kesempatan bagi otono...
Potensi Benteng Alla Utara Menuju Desa Agrowisata, Kabupaten Enrekang
Potensi Benteng Alla Utara Menuju Desa Agrowisata, Kabupaten Enrekang
Penelitian ini berfokus di Benteng Alla Utara salah satu desa di Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Benteng Alla menjadi pusat pertahanan pada masa pen...
PENGEMBANGAN SECARA SPASIAL BENTENG OTANAHA DI KAWASAN CAGAR BUDAYA GORONTALO
PENGEMBANGAN SECARA SPASIAL BENTENG OTANAHA DI KAWASAN CAGAR BUDAYA GORONTALO
This study aims to analyze the development of tourist areas of Benteng Otanaha spatially by using SWOT and GIS analysis. Data obtained in the form of primary data include field obs...
Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan Bagi Aparatur Desa
Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan Bagi Aparatur Desa
Latar Belakang : Keterbatasan Pemahaman Konsep Pembangunan Berkelanjutan,  Banyak aparatur desa belum memiliki pemahaman yang memadai tentang konsep dan prinsip pembangunan berkel...
Born To Die: Lana Del Rey, Beauty Queen or Gothic Princess?
Born To Die: Lana Del Rey, Beauty Queen or Gothic Princess?
Closer examination of contemporary art forms including music videos in addition to the Gothic’s literature legacy is essential, “as it is virtually impossible to ignore the relatio...

Back to Top