Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DRAMATARI “ANGKLING ARDHANARESWARI” SEBAGAI KREATIVITAS MEDIA PENGENALAN FOLKLORE TASIKMALAYA

View through CrossRef
Cerita rakyat pada dasarnya merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat.Cerita rakyat itu sendiri bagian dari pada folklore tergolong dalam folklore lisan yang berbentuk prosa.Sastra  lisan  merupakan  salah  satu  bentuk  produk  budaya  yang diciptakan  dan  diwarisi  secara  lisan  dan  turun-menurun  melalui alat  pengingat  (memonic  devices).   Bentuk  sastra  ini  terus  hidup dalam  tradisinya  dan  berkembang  menyesuaikan  perkembangan masyarakatnya. Sastra lisan sangat beragam bentuknya, mulai dari bahasa  rakyat,  ungkapan  tradisional  (pepatah  dan  peribahasa), pertanyaan  tradisional  (teka-teki),  puisi  rakyat  (pantun,  syair, bidal,  dll),  dan  prosa  rakyat,  mite  (myth),  legenda,  (legend),  dan dongeng  (folktale),  serta  nyanyian  rakyat.  Jenis  sastralisan ini yakni cerita lisan Ambu Hawuk dalam masyarakat Daerah Tasikmalaya Metode yang digunakan DeskriptifKualitatif dengan pendekatan Hermeneutik.Pengumpulan data berupa wawancara dan dokumen tertulis.implementasinya diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan dramatari.Nilai pendidikan karakter yang ditemukan  dalam  cerita Ambu Hawuk,  yaitu  pemberani,  tanggung  jawab,  peduli  sosial,  disiplin,  rendah  hati. Cerita yang relevan sebagai sarana kreativitas media pelestarian serta pengenalan folklore yang ada di Daerah Tasikmalaya.   Kata Kunci:Nilai Pendidikan Karakter, Dramatari, Kreativitas, Folklore Tasikmalaya
Title: NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DRAMATARI “ANGKLING ARDHANARESWARI” SEBAGAI KREATIVITAS MEDIA PENGENALAN FOLKLORE TASIKMALAYA
Description:
Cerita rakyat pada dasarnya merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat.
Cerita rakyat itu sendiri bagian dari pada folklore tergolong dalam folklore lisan yang berbentuk prosa.
Sastra  lisan  merupakan  salah  satu  bentuk  produk  budaya  yang diciptakan  dan  diwarisi  secara  lisan  dan  turun-menurun  melalui alat  pengingat  (memonic  devices).
   Bentuk  sastra  ini  terus  hidup dalam  tradisinya  dan  berkembang  menyesuaikan  perkembangan masyarakatnya.
Sastra lisan sangat beragam bentuknya, mulai dari bahasa  rakyat,  ungkapan  tradisional  (pepatah  dan  peribahasa), pertanyaan  tradisional  (teka-teki),  puisi  rakyat  (pantun,  syair, bidal,  dll),  dan  prosa  rakyat,  mite  (myth),  legenda,  (legend),  dan dongeng  (folktale),  serta  nyanyian  rakyat.
  Jenis  sastralisan ini yakni cerita lisan Ambu Hawuk dalam masyarakat Daerah Tasikmalaya Metode yang digunakan DeskriptifKualitatif dengan pendekatan Hermeneutik.
Pengumpulan data berupa wawancara dan dokumen tertulis.
implementasinya diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan dramatari.
Nilai pendidikan karakter yang ditemukan  dalam  cerita Ambu Hawuk,  yaitu  pemberani,  tanggung  jawab,  peduli  sosial,  disiplin,  rendah  hati.
Cerita yang relevan sebagai sarana kreativitas media pelestarian serta pengenalan folklore yang ada di Daerah Tasikmalaya.
  Kata Kunci:Nilai Pendidikan Karakter, Dramatari, Kreativitas, Folklore Tasikmalaya.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Tokoh Bisma dalam Dramatari Amba Bisma
Tokoh Bisma dalam Dramatari Amba Bisma
ABSTRACTDramatari Amba Bisma is one of the works of Iyus Ruslianan and Eti Mulyati from the results of researchon the art that was performed at the Sunan Ambu Building, on October ...
Identifikasi Elemen Citra Kota di Pusat Kota Tasikmalaya pada Media Sosial Instagram
Identifikasi Elemen Citra Kota di Pusat Kota Tasikmalaya pada Media Sosial Instagram
Abstract. Tasikmalaya City was a division of Tasikmalaya Regency in 1967. Before the expansion, Tasikmalaya City was the regional capital which could be recognized from the trading...
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
ABSTRACT Character education is one of the activities that aims to educate future generations by perfecting students self by training their self-ability towards a better life...
Archival Organization of Electronic Field Folklore Materials
Archival Organization of Electronic Field Folklore Materials
Considered such an important element of folklore archiving as the archival organization of electronic field folklore materials (different forms of recording: audio and video record...
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PERKULIAHAN ETIKA DAN PROFESI KEGURUAN
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PERKULIAHAN ETIKA DAN PROFESI KEGURUAN
Abstrak: Artikel ini membahas kajian dalam implementasi pendidikan karakter melalui perkuliahan etika dan profesi keguruan di Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Univ...
Revitalisasi Cerita Rakyat Masyarakat Timor Sebagai Penguatan Nilai Pendidikan Karakter Pada Era Tatanan Kehidupan Baru
Revitalisasi Cerita Rakyat Masyarakat Timor Sebagai Penguatan Nilai Pendidikan Karakter Pada Era Tatanan Kehidupan Baru
Abstrak   Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk merevitalisasi berbagai bentuk cerita rakyat masyarakat Timor yang penuh dengan nilai kearifan lokal dan muatan p...

Back to Top