Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Wae Grahe dan Wamlana: Dua Dialek Bahasa Buru dengan Daya Hidup yang Berbeda

View through CrossRef
Perubahan ekosistem linguistik dan khususnya faktor ekonomi dan marjinalisasi masyarakat pribumi yang bersifat intrinsik membawa dampak bagi situasi pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa dan penyebabnya merupakan hal yang mendapat perhatian cukup besar dari para linguis atau ahli bahasa. Bahasa yang mempunyai potensi terancam punah dianggap mengalami penurunan yang cepat dalam jumlah dan kualitas, terutama pada wilayah yang menggunakan bahasa lain dengan nilai atau potensi tertentu. Kajian ini berupaya menjelaskan daya hidup bahasa Buru terutama dialek Buru Utara, di Wamlana yang merupakan daerah pesisir yang dipenuhi oleh para pendatang serta daya hidup dialek Rana di Wae Grahe sebagai daerah yang masih “asli”. Kontak bahasa, perkawinan campuran, urbanisasi, prestise bahasa lain, system pendidikan formal yang menggunakan bahasa nasional, serta kurangnya transmisi bahasa ibu antargenerasi menjadi ancaman terhadap kelangsungan sebuah bahasa. Dengan menggunakan data primer dari 54 responden di dua wilayah tadi, serta dengan analisis data secara kuantitatif dan kualitatif, kajian ini memaparkan daya hidup bahasa Buru di Wamlana dan Wae Grahe. Hasil kajian menunjukkan bahwa daya hidup dua dialek ini tidak sama. Daya hidup yang cenderung kuat dimiliki oleh dialek Wae Grahe sebagai dialek yang dituturkan di daerah yang cenderung homogen (secara budaya dan agama), jauh dari pusat pemerintahan dan pusat ekonomi, kontak bahasa yang kecil, serta masih terjadinya transmisi bahasa ibu. Sementaraitu, dialek utara di Wamlana cenderung berada pada daya hidup rendah. Perkawinan antarsuku, masyarakat yang heterogen, kontak bahasa, serta tidak adanya transmisi bahasa ibu, menjadi penyebabnya.
Title: Wae Grahe dan Wamlana: Dua Dialek Bahasa Buru dengan Daya Hidup yang Berbeda
Description:
Perubahan ekosistem linguistik dan khususnya faktor ekonomi dan marjinalisasi masyarakat pribumi yang bersifat intrinsik membawa dampak bagi situasi pergeseran bahasa.
Pergeseran bahasa dan penyebabnya merupakan hal yang mendapat perhatian cukup besar dari para linguis atau ahli bahasa.
Bahasa yang mempunyai potensi terancam punah dianggap mengalami penurunan yang cepat dalam jumlah dan kualitas, terutama pada wilayah yang menggunakan bahasa lain dengan nilai atau potensi tertentu.
Kajian ini berupaya menjelaskan daya hidup bahasa Buru terutama dialek Buru Utara, di Wamlana yang merupakan daerah pesisir yang dipenuhi oleh para pendatang serta daya hidup dialek Rana di Wae Grahe sebagai daerah yang masih “asli”.
Kontak bahasa, perkawinan campuran, urbanisasi, prestise bahasa lain, system pendidikan formal yang menggunakan bahasa nasional, serta kurangnya transmisi bahasa ibu antargenerasi menjadi ancaman terhadap kelangsungan sebuah bahasa.
Dengan menggunakan data primer dari 54 responden di dua wilayah tadi, serta dengan analisis data secara kuantitatif dan kualitatif, kajian ini memaparkan daya hidup bahasa Buru di Wamlana dan Wae Grahe.
Hasil kajian menunjukkan bahwa daya hidup dua dialek ini tidak sama.
Daya hidup yang cenderung kuat dimiliki oleh dialek Wae Grahe sebagai dialek yang dituturkan di daerah yang cenderung homogen (secara budaya dan agama), jauh dari pusat pemerintahan dan pusat ekonomi, kontak bahasa yang kecil, serta masih terjadinya transmisi bahasa ibu.
Sementaraitu, dialek utara di Wamlana cenderung berada pada daya hidup rendah.
Perkawinan antarsuku, masyarakat yang heterogen, kontak bahasa, serta tidak adanya transmisi bahasa ibu, menjadi penyebabnya.

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
ANALISIS PERBANDINGAN BAHASA SUNDA DIALEK INDRAMAYU DENGAN BAHASA SUNDA DIALEK PRIANGAN
ANALISIS PERBANDINGAN BAHASA SUNDA DIALEK INDRAMAYU DENGAN BAHASA SUNDA DIALEK PRIANGAN
Penelitian ini membahas perbandingan bahasa Sunda Dialek Priangan dengan bahasa Sunda Dialek Indramayu. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan tekn...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Analisis Dialek Dalam Bentuk Bahasa Percakapan Dalam Film “Imperfect” Karya Meira Anastasia
Analisis Dialek Dalam Bentuk Bahasa Percakapan Dalam Film “Imperfect” Karya Meira Anastasia
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan dialek dalam bentuk Bahasa percakapan yang ada di dalam film Im’Perfect karya Meisa Anastasya. Penggunaan Bahasa dialek dalam film i...
Sinonim Nomina dan Adjektiva pada Dialek O Bahasa Lampung
Sinonim Nomina dan Adjektiva pada Dialek O Bahasa Lampung
Abstrak Bahasa Lampung memiliki dua dialek yaitu dialek A dan dialek O. Dialek bahasa Lampung dialek O berbeda dengan dialek A. Sangat terlihat pada pengucapan  atau pelafala...
PEMAKAIAN DIALEK BAHASA SUMBAWA : KAJIAN ASPEK SOSIOLINGUISTIK
PEMAKAIAN DIALEK BAHASA SUMBAWA : KAJIAN ASPEK SOSIOLINGUISTIK
Mahsun (2004) membagi Bahasa Sumbawa (BS) ke dalam empat dialek, yaitu Dialek Sumbawa Besar (DSB), Dialek Taliwang (DT), Dialek Jereweh (DJ), dan Dialek Tongo (DTn). Kajian ini ber...
LAHJAH ARABIYAH: SEBUAH STUDI DIALEKTOLOGIS
LAHJAH ARABIYAH: SEBUAH STUDI DIALEKTOLOGIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan berbagai macam Dialek Bahasa Arab (lahjah arabiyah) secara deskriptif, apa sebab dan aspek yang melatari sehingga ...
Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Bali di Kabupaten Dompu
Distribusi dan Pemetaan Varian-Varian Bahasa Bali di Kabupaten Dompu
Makalah ini mengkaji disribusi dan pemetaan varian-varian bahasa Bali di Kabupaten Dompu dengan menggunakan pendekatan dialektologi diakronis.Ada empat kantong bahasa (enklave) yan...

Back to Top