Javascript must be enabled to continue!
Performansi dan Partisipan Dalam Tradisi Nangkih Masyarakat Karo
View through CrossRef
Nangkih dalam masyarakat Karo berarti kawin lari. Nangkih atau kawin lari ini adalah hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang ingin menikah tetapi terhalang oleh restu keluarga, dalam hal ini nangkih dilakukan bukan karena tidak direstui saja sebagian masyarakat Karo mempercayai bahwa dengan nangkih maka anak mereka yang akan berkeluarga akan mendapatkan kebahagiaan. Nangkih ini dilakukan dengan membawa anak gadis kerumah anak beru dari pihak laki-laki tetapi yang sudah menikah. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan performansi, indeksikalitas dan partisipan dalam acara nangkih masyarakat Karo yang mendiami Desa Turangi Kec. Salapian Kab. Langkat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui wawancara dan pengumpulan data dilakukan di Desa Turangi Kec. Salapian Kab. Langkat. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukkan bahwa dalam acara nangkih tersebut dipercayai bahwa akan membawa kebahagiaan dalam keluarga mereka. Tradisi ini dimulai dengan berbicara kepada kedua orang tua bahwa mereka akan menikah setelah itu orang tua mereka memberitahu tata cara nangkih dan harus membawa gadis tersebut ke rumah anak beru dari pihak laki-laki yang sudah menikah dan dirumah anak beru tersebutlah mereka menyampaikan maksud mereka. Adapun performansi berbahasa dalam tradisi ini ialah pada saat menyampaikan maksud ke rumah anak beru dan pergi kerumah pihak perempuan. Indeksikalitas dalam penelitian ini adalah penyandingan yaitu berupa kain sarung Karo, kain Karo, pisau dan ayam, sirih dan perlengkapannya. Partisipan dalam penelitian ini adalah anak beru dari kedua pihak beserta kedua orang tua. Kesimpulan dari penelitian ini adalah performansi yang dituturkan pada acara nangkih tersebut, indeksikalitas dalam penelitian ini adalah benda atau alat yang menjadi inti dalam acara tersebut dan partisipan dalam acara ini adalah anak beru dari kedua belah pihak beserta orang tua.
Nangkih in Karo society means eloping. Nangkih or elopement is something that is done by a couple who wants to get married but is hindered by the blessing of the family, in this case it is not done because it is not condoned by some people because the Karo community believes that by being embryo, their children who will have a family will get happiness. This Nangkih is done by bringing a girl home to a male child from a male party but who is married. This study aims to describe the performance, indexicality and participation of the Karo community who live in the village of Turangi Kec.Salapian, Langkat Regency. The method used in this study is a qualitative method by collecting data through interviews and data collection is carried out in the Turangi Village, Selalalang District, Langkat Regency. The results of this study are to show that in the event the jackfruit is believed that will bring happiness in their families. This tradition begins by talking to both parents that they will get married after which their parents tell them how to be tall and have to bring the girl to the house of the new baby from the married man and at the house of the baby they express their intentions. The language performance in this tradition is when conveying the intention to the child home and go to the women's house. Indexicality in this study is a comparison in the form of Karo sarong, Karo cloth, knife and chicken, betel nut and accessories. Participants in this study were new children from both parties and their parents. The conclusion of this study is the performance spoken at the high-profile event, indexicality in this study is the object or tool that is the core of the event and participants in this event are new children from both parties and parents.
Universitas Sumatera Utara
Title: Performansi dan Partisipan Dalam Tradisi Nangkih Masyarakat Karo
Description:
Nangkih dalam masyarakat Karo berarti kawin lari.
Nangkih atau kawin lari ini adalah hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang ingin menikah tetapi terhalang oleh restu keluarga, dalam hal ini nangkih dilakukan bukan karena tidak direstui saja sebagian masyarakat Karo mempercayai bahwa dengan nangkih maka anak mereka yang akan berkeluarga akan mendapatkan kebahagiaan.
Nangkih ini dilakukan dengan membawa anak gadis kerumah anak beru dari pihak laki-laki tetapi yang sudah menikah.
Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan performansi, indeksikalitas dan partisipan dalam acara nangkih masyarakat Karo yang mendiami Desa Turangi Kec.
Salapian Kab.
Langkat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui wawancara dan pengumpulan data dilakukan di Desa Turangi Kec.
Salapian Kab.
Langkat.
Hasil dari penelitian ini adalah menunjukkan bahwa dalam acara nangkih tersebut dipercayai bahwa akan membawa kebahagiaan dalam keluarga mereka.
Tradisi ini dimulai dengan berbicara kepada kedua orang tua bahwa mereka akan menikah setelah itu orang tua mereka memberitahu tata cara nangkih dan harus membawa gadis tersebut ke rumah anak beru dari pihak laki-laki yang sudah menikah dan dirumah anak beru tersebutlah mereka menyampaikan maksud mereka.
Adapun performansi berbahasa dalam tradisi ini ialah pada saat menyampaikan maksud ke rumah anak beru dan pergi kerumah pihak perempuan.
Indeksikalitas dalam penelitian ini adalah penyandingan yaitu berupa kain sarung Karo, kain Karo, pisau dan ayam, sirih dan perlengkapannya.
Partisipan dalam penelitian ini adalah anak beru dari kedua pihak beserta kedua orang tua.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah performansi yang dituturkan pada acara nangkih tersebut, indeksikalitas dalam penelitian ini adalah benda atau alat yang menjadi inti dalam acara tersebut dan partisipan dalam acara ini adalah anak beru dari kedua belah pihak beserta orang tua.
Nangkih in Karo society means eloping.
Nangkih or elopement is something that is done by a couple who wants to get married but is hindered by the blessing of the family, in this case it is not done because it is not condoned by some people because the Karo community believes that by being embryo, their children who will have a family will get happiness.
This Nangkih is done by bringing a girl home to a male child from a male party but who is married.
This study aims to describe the performance, indexicality and participation of the Karo community who live in the village of Turangi Kec.
Salapian, Langkat Regency.
The method used in this study is a qualitative method by collecting data through interviews and data collection is carried out in the Turangi Village, Selalalang District, Langkat Regency.
The results of this study are to show that in the event the jackfruit is believed that will bring happiness in their families.
This tradition begins by talking to both parents that they will get married after which their parents tell them how to be tall and have to bring the girl to the house of the new baby from the married man and at the house of the baby they express their intentions.
The language performance in this tradition is when conveying the intention to the child home and go to the women's house.
Indexicality in this study is a comparison in the form of Karo sarong, Karo cloth, knife and chicken, betel nut and accessories.
Participants in this study were new children from both parties and their parents.
The conclusion of this study is the performance spoken at the high-profile event, indexicality in this study is the object or tool that is the core of the event and participants in this event are new children from both parties and parents.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
Tradisi Pemberian Mahar Pada Masyarakat Batak Karo Sumatera Utara Perspektif Hukum Islam
Tradisi Pemberian Mahar Pada Masyarakat Batak Karo Sumatera Utara Perspektif Hukum Islam
This is a field research which focuses to answer two problems: first, how is the tradition of giving dowry by the people of Batak Karodi, Jaranguda-Merdeka Batak Karo? Second, how ...
PERKEMBANGAN MUSEUM KARO LINGGA DI DESA LINGGA KABUPATEN KARO
PERKEMBANGAN MUSEUM KARO LINGGA DI DESA LINGGA KABUPATEN KARO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Perkembangan Museum Karo Lingga di Desa Lingga Kabupaten Karo”. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui latar belakang s...
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
Tradisi Nyadran sebagai sebuah kearifan lokal yang turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, kegiatan tradisi Nyadran Punden merupakan pembersihan makam leluhur dan mela...
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
Kearifan Lokal merupakan nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya tradisi pada kelompok masyarakat dari generasi ke generasi yang diwariskan secara turun temurun. Oleh kar...
Analisis Komposisi Minyak Karo di Desa Naman Kecamatan Naman Teran
Analisis Komposisi Minyak Karo di Desa Naman Kecamatan Naman Teran
Karo oil is a traditional medicine that has been passed down from generation to generation and is still used today in traditional medicine. This study aims to determine the composi...
TRADISI PEMBUTAN TIKAR PEDAMARAN
TRADISI PEMBUTAN TIKAR PEDAMARAN
Latar Belakang : Tikar yang merupakan kerajinan tangan yang berasal dari desa pedamaran.penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menjelaskan secara keseluruha...

