Javascript must be enabled to continue!
Diplomasi pertahanan dan perubahan iklim: Studi kasus Indonesia dan Selandia Baru
View through CrossRef
Defense Diplomacy and Climate Change: A Case Study of Indonesia and New Zealand
Climate change has emerged as a significant global security threat, particularly for Pacific and Southeast Asian island nations, including Indonesia and New Zealand. Threats such as rising sea levels, extreme weather events, and resource crises demand a more integrated response through defence diplomacy. This study analyzes the role of defence diplomacy in addressing climate change, focusing on regional cooperation in the Pacific and ASEAN regions. Using a qualitative approach and policy analysis, the research explores New Zealand’s strategies for reducing emissions in the defence sector and its engagement in multilateral forums such as the Pacific Defence Meeting. On the other hand, the study identifies the challenges faced by Indonesia in integrating defence diplomacy with climate change policy, including the implementation of Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) and the Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050). The findings highlight the need for integrated cross-national responses to build more resilient regional security against the threats of climate change.
Perubahan iklim telah menjadi ancaman keamanan global yang signifikan, terutama bagi negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Selandia Baru. Ancaman seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan krisis sumber daya menuntut respons yang lebih terpadu melalui diplomasi pertahanan. Studi ini menganalisis peran diplomasi pertahanan dalam menghadapi perubahan iklim dengan fokus pada kerja sama di kawasan Pasifik dan ASEAN. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis kebijakan, penelitian ini mengeksplorasi strategi Selandia Baru dalam mengurangi emisi sektor pertahanan serta keterlibatannya dalam forum multilateral seperti Pacific Defence Meeting. Di sisi lain, penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengintegrasikan diplomasi pertahanan dengan kebijakan perubahan iklim, termasuk implementasi Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) dan strategi LTS-LCCR 2050. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons lintas negara yang terintegrasi diperlukan guna menciptakan keamanan regional yang lebih tangguh terhadap ancaman perubahan iklim.
State University of Malang (UM)
Title: Diplomasi pertahanan dan perubahan iklim: Studi kasus Indonesia dan Selandia Baru
Description:
Defense Diplomacy and Climate Change: A Case Study of Indonesia and New Zealand
Climate change has emerged as a significant global security threat, particularly for Pacific and Southeast Asian island nations, including Indonesia and New Zealand.
Threats such as rising sea levels, extreme weather events, and resource crises demand a more integrated response through defence diplomacy.
This study analyzes the role of defence diplomacy in addressing climate change, focusing on regional cooperation in the Pacific and ASEAN regions.
Using a qualitative approach and policy analysis, the research explores New Zealand’s strategies for reducing emissions in the defence sector and its engagement in multilateral forums such as the Pacific Defence Meeting.
On the other hand, the study identifies the challenges faced by Indonesia in integrating defence diplomacy with climate change policy, including the implementation of Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) and the Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).
The findings highlight the need for integrated cross-national responses to build more resilient regional security against the threats of climate change.
Perubahan iklim telah menjadi ancaman keamanan global yang signifikan, terutama bagi negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Selandia Baru.
Ancaman seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan krisis sumber daya menuntut respons yang lebih terpadu melalui diplomasi pertahanan.
Studi ini menganalisis peran diplomasi pertahanan dalam menghadapi perubahan iklim dengan fokus pada kerja sama di kawasan Pasifik dan ASEAN.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis kebijakan, penelitian ini mengeksplorasi strategi Selandia Baru dalam mengurangi emisi sektor pertahanan serta keterlibatannya dalam forum multilateral seperti Pacific Defence Meeting.
Di sisi lain, penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengintegrasikan diplomasi pertahanan dengan kebijakan perubahan iklim, termasuk implementasi Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) dan strategi LTS-LCCR 2050.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons lintas negara yang terintegrasi diperlukan guna menciptakan keamanan regional yang lebih tangguh terhadap ancaman perubahan iklim.
Related Results
DIPLOMASI PERTAHANAN SEBAGAI BAGIAN DARI DIPLOMASI TOTAL RI
DIPLOMASI PERTAHANAN SEBAGAI BAGIAN DARI DIPLOMASI TOTAL RI
<p>Diplomasi pertahanan merupakan bagian dari diplomasi total RI. Dalam konteks ini, dimaknai sebagai sistem pertahanan negara yang dilakukan secara dini oleh pemerintah dan ...
STRATEGI PERCEPATAN PENGUASAAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTAHANAN: STUDI KASUS KOREA SELATAN
STRATEGI PERCEPATAN PENGUASAAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTAHANAN: STUDI KASUS KOREA SELATAN
Abstrak: Permasalahan utama Indonesia dalam penguasaan teknologi dan industri pertahanan terletak pada lemahnya regulasi sistem akusisi pertahanan yang mengakomodir proses penyerap...
PERAN DIPLOMASI PERTAHANAN DALAM MENGATASI TANTANGAN DI BIDANG PERTAHANAN
PERAN DIPLOMASI PERTAHANAN DALAM MENGATASI TANTANGAN DI BIDANG PERTAHANAN
<p>Terdapat berbagai tantangan yang masih muncul dalam bidang pertahanan Indonesia. Tantangan-tantangan tersebut mencakup masalah-masalah perbatasan dengan beberapa negara te...
MENINGKATKAN KOMPETENSI DIPLOMASI PERTAHANAN MELALUI PERBAIKAN KURIKULUM KURSUS INTENSIF BAHASA INGGRIS (KIBI)
MENINGKATKAN KOMPETENSI DIPLOMASI PERTAHANAN MELALUI PERBAIKAN KURIKULUM KURSUS INTENSIF BAHASA INGGRIS (KIBI)
Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk membuat prototipe Desain Kurikulum Kursus Bahasa Inggris Intensif Diplomasi Pertahanan IDAF. Kursus ini akan membantu personel IDAF untuk ...
Mispersepsi Dalam Sengketa Laut Tiongkok Selatan dan Peluang Diplomasi Pertahanan Indonesia
Mispersepsi Dalam Sengketa Laut Tiongkok Selatan dan Peluang Diplomasi Pertahanan Indonesia
Abstrak--Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi dan mispersepsi antarnegara pengaku kedaulatan di Laut Tiongkok Selatan, serta melihat peluang diplomasi pertahanan Indone...
OMNIBUSLAW UNDANG-UNDANG PERUBAHAN IKLIM BERDIMENSI KEADILAN BAGI MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN
OMNIBUSLAW UNDANG-UNDANG PERUBAHAN IKLIM BERDIMENSI KEADILAN BAGI MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN
Penelitian ditujukan untuk mengetahui urgensi dan kontruksi reformulasi pengaturan perubahan iklim secara berkelanjutan dan berkeadilan. Bahwa saat ini politik hukum perundang-unda...
Gambaran Kecemasan Perubahan Iklim pada Mahasiswa di Kota Bandung
Gambaran Kecemasan Perubahan Iklim pada Mahasiswa di Kota Bandung
Abstract. Climate change is threatening human life and well-being. Human health affected by climate change is now a global concern. Bandung is one of the cities in Indonesia that i...
Pembinaan Industri Pertahanan dan Keamanan: Sebuah Tinjauan Konteks dan Konten Kebijakan
Pembinaan Industri Pertahanan dan Keamanan: Sebuah Tinjauan Konteks dan Konten Kebijakan
Industri pertahanan menjadi sebuah tolok ukur bagaimana suatu negara memiliki kekuatan stabilitas dan keamanan. Kondisinya pada saat ini, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah u...

