Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Sayembara Sebagai Bentuk Resistensi Perempuan dalam Menolak Hegemoni Laki-Laki dalam Cerita Rakyat Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang

View through CrossRef
Makalah ini membahas secara singkat beberapa masalah dalam lingkup resistensi terhadap hegemoni patriarki dalam tiga cerita rakyat Indonesia; Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang. Teori subalterniti Gayatri Spivak dipergunakan untuk membingkai pembacaan kritis terhadap ketiga cerita. Ketiga cerita rakyat yang dikaji mendedahkan resistensi perempuan terhadap dominasi hegemonis pria dalam lingkup masyarakat patriarkis. Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga cerita berasal dari strata sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang telah memiliki subjektifikasi dan identifikasi tersendiri. “Sayembara” yang secara taktis direka dan diciptakan oleh ketiga tokoh perempuan merupakan alat alternatif untuk menolak dominasi dan kekuasaan pria. Katarsis ketiga cerita rakyat menunjukkan bahwa ketiga tokoh perempuan menemui ajal atau mengalami perubahan wujud yang merupakan konsekuensi dari pemberontakan. Citra perempuan dalam ketiga cerita rakyat berdasarkan berbagai versi penceritaan adalah pemberontak dan subversif. Abstract: This paper briefly shares some insights in the matters of resistance toward patriarchic hegemony in three Indonesian folktales; Roro Jonggrang, Roro Mendut, and Sangkuriang. Spivak’s subalternity is used to carve out the critical reading on the three stories. The three stories tell women’s resistances toward men’s hegemonic dominions in patriarchic societies. The findings of the discussion show that woman characters in the three stories come from certain social stratum in their own societies who have their own subjectification and identification. “Sayembara” which was tactically created by those women characters is a means of their alternative weapon to resist men’s dominion and power. The catharsis of the three folktales shows that the three woman characters find their dead or evanescent as the consequences of their being rebel. The images of women in the three stories based on various versions of the folktales are rebellion and subversive. Key Words: resistance, hegemony, patriarchy, dominion
Balai Bahasa Jawa Timur
Title: Sayembara Sebagai Bentuk Resistensi Perempuan dalam Menolak Hegemoni Laki-Laki dalam Cerita Rakyat Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang
Description:
Makalah ini membahas secara singkat beberapa masalah dalam lingkup resistensi terhadap hegemoni patriarki dalam tiga cerita rakyat Indonesia; Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang.
Teori subalterniti Gayatri Spivak dipergunakan untuk membingkai pembacaan kritis terhadap ketiga cerita.
Ketiga cerita rakyat yang dikaji mendedahkan resistensi perempuan terhadap dominasi hegemonis pria dalam lingkup masyarakat patriarkis.
Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga cerita berasal dari strata sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang telah memiliki subjektifikasi dan identifikasi tersendiri.
“Sayembara” yang secara taktis direka dan diciptakan oleh ketiga tokoh perempuan merupakan alat alternatif untuk menolak dominasi dan kekuasaan pria.
Katarsis ketiga cerita rakyat menunjukkan bahwa ketiga tokoh perempuan menemui ajal atau mengalami perubahan wujud yang merupakan konsekuensi dari pemberontakan.
Citra perempuan dalam ketiga cerita rakyat berdasarkan berbagai versi penceritaan adalah pemberontak dan subversif.
Abstract: This paper briefly shares some insights in the matters of resistance toward patriarchic hegemony in three Indonesian folktales; Roro Jonggrang, Roro Mendut, and Sangkuriang.
Spivak’s subalternity is used to carve out the critical reading on the three stories.
The three stories tell women’s resistances toward men’s hegemonic dominions in patriarchic societies.
The findings of the discussion show that woman characters in the three stories come from certain social stratum in their own societies who have their own subjectification and identification.
“Sayembara” which was tactically created by those women characters is a means of their alternative weapon to resist men’s dominion and power.
The catharsis of the three folktales shows that the three woman characters find their dead or evanescent as the consequences of their being rebel.
The images of women in the three stories based on various versions of the folktales are rebellion and subversive.
Key Words: resistance, hegemony, patriarchy, dominion.

Related Results

Rara Mendut Dari Sastra Lisan Ke Sastra Tulis: Potret Perlawanan Terhadap Kekuasaan
Rara Mendut Dari Sastra Lisan Ke Sastra Tulis: Potret Perlawanan Terhadap Kekuasaan
Rara Mendut, whose theme is about love, government, and power, results in a text enjoyed by the society. This matter is proved by the existence of the response in various shapes, s...
Intertextual Study in Comparative Literature: Folklore of Oedipus and Folklore of Sangkuriang
Intertextual Study in Comparative Literature: Folklore of Oedipus and Folklore of Sangkuriang
The purpose of this research is to identify intertextual study in comparative literature of Oedipus folklore and Sangkuriang folklore. The intertextual study of comparative literat...
KONSTELASI POLITIK DALAM NOVEL RORO JONGGRANG KARYA BUDI SARDJONO SEBUAH PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
KONSTELASI POLITIK DALAM NOVEL RORO JONGGRANG KARYA BUDI SARDJONO SEBUAH PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
The aim of the study is to describe (1) plot of the story used by the writer to convey politics constellation in Roro Jonggrang novel, (2) character and characterization used by th...
Ornamen dan Nilai-Nilai Karakter Cerita Pancatantra pada Relief Candi Mendut dan Candi Sojiwan
Ornamen dan Nilai-Nilai Karakter Cerita Pancatantra pada Relief Candi Mendut dan Candi Sojiwan
Penelitian ini didasarkan pada cerita bertema pañcatantra di Candi Mendut dan Candi Sojiwan yang mengandung nilai moral luhur dalam membentuk karakter seseorang, namun belum dimanf...
1 Ornamen dan Nilai-Nilai Karakter Cerita Pancatantra pada Relief Candi Mendut dan Candi Sojiwan
1 Ornamen dan Nilai-Nilai Karakter Cerita Pancatantra pada Relief Candi Mendut dan Candi Sojiwan
Penelitian ini didasarkan pada cerita bertema pañcatantra di Candi Mendut dan Candi Sojiwan yang mengandung nilai moral luhur dalam membentuk karakter seseorang, namun belum dimanf...
Identifikasi Cerita Rakyat Sumbawa
Identifikasi Cerita Rakyat Sumbawa
Selama ini pemerintah tampaknya hanya berusaha untuk memajukan kebudayaan nasional. Padahal pemerintah diharapkan juga menggali dan memperkenalkan kekayaan khasanah kebudayaan loka...
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERITA RAKYAT ACEH BESAR
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM CERITA RAKYAT ACEH BESAR
Penelitian ini membahas tentang analisis gaya bahasa dalam cerita rakyat Aceh Besar. Rumusan masalah penelitian ini adalah apa saja jenis-jenis gaya bahasa yang terdapat dalam ceri...
Pemanfaatan Cerita Rakyat Sumbawa Sebagai Bahan Literasi Siswa Sekolah Dasar
Pemanfaatan Cerita Rakyat Sumbawa Sebagai Bahan Literasi Siswa Sekolah Dasar
Cerita rakyat Kabupaten Sumbawa Nusa Tenggara Barat merupakan cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang secara lisan dan menyebar secara turun temurun dari generasi ke generasi beri...

Back to Top