Javascript must be enabled to continue!
KITAB MAKNA GANDUL JAWAN DI JAWA PARUH KEDUA ABAD KEXX: MELESTARIKAN TRADISI DAN MENEGUHKAN IDEOLOGI
View through CrossRef
Kitab makna gandul jawan merupakan terjemah Jawa dari kitab kuning. Di pesantren-pesantren di Indonesia, proses transmisi pengetahuan yang terkandung dalam kitab-kitab berbahasa Arab dan tak berharokat ini dibantu dengan bahasa ibu. Proses Pemaknaan kitab kuning dengan bahasa Jawa ini dalam perkembangannya mengilhami beberapa kyai lokal untuk menuliskannya yang disesuaikan dengan aspek sosial, politik dan budaya tempatan yang melingkupinya. Hasil kreativitas kyai inilah yang kemudian kita sebut dengan istilah kitab makna gandul jawan, yakni kitab kuning yang diberi tanda baca dan arti per kata di antara barisnya secara miring dengan Bahasa Jawa aksara Arab (pegon). Kitab model ini pada paruh kedua abad k- XX telah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit, di antaranya Menara Kudus, Raja Murah, al-Muanawwar dan lain sebagainya. Dengan menggunakan medote sejarah, kajian ini mencoba merekonstruksi perkembangan kitabmakna gandul jawandi Jawa pada paruh kedua abad XX. Kajian ini mengungkap bahwa selama periode kedua abad ke-XX terdapat tiga kyai yang karya-karya kitab Jawan Makna gandul-nya banyak diterbitkan, yaitu K.H. Bisri Mustofa (Rembang), K.H. Misbah Mustofa (Tuban) dan K.H. Asrori Ahmad (Magelang). Selain memiliki motif ekonomi, karya-karya mereka juga memiliki kepentingan kultural, yaitu sebagai Media dakwah dan diseminasi pengetahuan Islam, representasi Islam Tradisionalis, dan benteng pelestarian bahasa Jawa.
Title: KITAB MAKNA GANDUL JAWAN DI JAWA PARUH KEDUA ABAD KEXX: MELESTARIKAN TRADISI DAN MENEGUHKAN IDEOLOGI
Description:
Kitab makna gandul jawan merupakan terjemah Jawa dari kitab kuning.
Di pesantren-pesantren di Indonesia, proses transmisi pengetahuan yang terkandung dalam kitab-kitab berbahasa Arab dan tak berharokat ini dibantu dengan bahasa ibu.
Proses Pemaknaan kitab kuning dengan bahasa Jawa ini dalam perkembangannya mengilhami beberapa kyai lokal untuk menuliskannya yang disesuaikan dengan aspek sosial, politik dan budaya tempatan yang melingkupinya.
Hasil kreativitas kyai inilah yang kemudian kita sebut dengan istilah kitab makna gandul jawan, yakni kitab kuning yang diberi tanda baca dan arti per kata di antara barisnya secara miring dengan Bahasa Jawa aksara Arab (pegon).
Kitab model ini pada paruh kedua abad k- XX telah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit, di antaranya Menara Kudus, Raja Murah, al-Muanawwar dan lain sebagainya.
Dengan menggunakan medote sejarah, kajian ini mencoba merekonstruksi perkembangan kitabmakna gandul jawandi Jawa pada paruh kedua abad XX.
Kajian ini mengungkap bahwa selama periode kedua abad ke-XX terdapat tiga kyai yang karya-karya kitab Jawan Makna gandul-nya banyak diterbitkan, yaitu K.
H.
Bisri Mustofa (Rembang), K.
H.
Misbah Mustofa (Tuban) dan K.
H.
Asrori Ahmad (Magelang).
Selain memiliki motif ekonomi, karya-karya mereka juga memiliki kepentingan kultural, yaitu sebagai Media dakwah dan diseminasi pengetahuan Islam, representasi Islam Tradisionalis, dan benteng pelestarian bahasa Jawa.
Related Results
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
Tradisi Nyadran sebagai sebuah kearifan lokal yang turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, kegiatan tradisi Nyadran Punden merupakan pembersihan makam leluhur dan mela...
SUMBER POLITIS PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA
SUMBER POLITIS PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA
Indonesia sebagai negara yang mempunyai dasar Negara yaitu pancasila yang memiliki sebuah arti penting memiliki ideologi. Setiap bangsa dan negara ingin berdiri kokoh, tidak mudah ...
PENETAPAN KANON KITAB SUCI PERJANJIAN LAMA DALAM GEREJA KATOLIK
PENETAPAN KANON KITAB SUCI PERJANJIAN LAMA DALAM GEREJA KATOLIK
Penetapan Kanon Kitab Suci Perjanjian Lama dalam Gereja Katolik merupakan sebuah proses panjang dan kompleks yang bertujuan untuk menentukan kitab-kitab mana yang secara sah diakui...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
KIRAB SAWUNGGALING MASYARAKAT LIDAH WETAN SURABAYA DALAM PERSPEKTIF TEORI KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGER DAN THOMAS LUCKHMANN
KIRAB SAWUNGGALING MASYARAKAT LIDAH WETAN SURABAYA DALAM PERSPEKTIF TEORI KONSTRUKSI SOSIAL PETER L. BERGER DAN THOMAS LUCKHMANN
Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana proses pelaksanaan Tradisi Kirab Sawunggaling, upaya masyarakat dalam mempertahankan tradisi, makna yang terkandung dalam tradisi bagi mas...
REPRESENTASI IDEOLOGI ABDUL KARIM AMRULLAH MELALUI WACANA NIKAH CINA BUTA DALAM KITAB PEMBUKA MATA THE REPRESENTATION OF ABDUL KARIM AMRULLAH'S IDEOLOGY IN THE DISCOURSE OF 'NIKAH CINA BUTA' IN KITAB PEMBUKA MATA
REPRESENTASI IDEOLOGI ABDUL KARIM AMRULLAH MELALUI WACANA NIKAH CINA BUTA DALAM KITAB PEMBUKA MATA THE REPRESENTATION OF ABDUL KARIM AMRULLAH'S IDEOLOGY IN THE DISCOURSE OF 'NIKAH CINA BUTA' IN KITAB PEMBUKA MATA
Abstract
Makalah ini memperkukuh pandangan pemikir-pemikir aliran teori kritis yang menolak pegangan aliran positivisme, iaitu keneutralan dan keobjektifan ilmu. Setiap ilmu adalah...
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
Tradisi perkawinan adat bugis atau yang dikenal dengan tradisi Mappabotting khususnya masyarakat Hindu Bugis memiliki beberapa tahap atau proses komunikasi. Tentunya untuk ...
Upaya Pelestarian Budaya dalam Tradisi Bakar Batu Mahasiswa Kabupaten Nabire di Kota Malang
Upaya Pelestarian Budaya dalam Tradisi Bakar Batu Mahasiswa Kabupaten Nabire di Kota Malang
Setiap daerah memiliki tradisi budaya yang harus dilestarikan. Hal ini dilakukan untuk mencegah akulturasi budaya lain, karena warga negara memiliki tanggung jawab untuk melestarik...

