Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Brunei And Aceh: A Manuscript-Based Study of Cultural And Historical Relationship

View through CrossRef
Dari sisi letak geografis, Brunei dan Aceh adalah dua suku bangsa yang berada di posisi berjauhan, pulau Kalimantan dan Sumatera. Namun, keduanya memiliki banyak kemiripan antara satu sama lainnya. Keduanya berada dalam satu rumpun Melayu, budaya, dan karakter yang mirip. Dari sisi sejarah, kedua suku ini memiliki hubungan baik, baik pada tatanan kesul­tanan maupun pada level rakyatnya. A. Hasyimi mengatakan bahwa qanun yang dipakai di Brunei adalah hasil adopsi dari qanun yang ada di Aceh. Selain itu kemiripan dari sisi budaya adalah, seperti perma­inan rakyat, cara masuk rumah baru, dan tepung tawari. Kemiripan-kemiripan ini men­jadi menarik dikaji lebih jauh tentang hubungan sejarah Brunei dan Aceh. Tulisan ini bertujuan untuk menggali hubungan sejarah antara kesultanan Brunei dan Aceh, termasuk hubungan yang baik antara ulama dalam menye­barkan ajaran Islam. Penelitian ini didasarkan pada temuan-temuan terutama yang terdapat dalam manuskrip Aceh dan Brunei. Kajian ini mengunakan pendekatan filologis dan antropologis untuk mengungkap informasi relasi antar kedua etnis ini. Diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi pendukung pelestarian warisan yang dimiliki kedua suku bangsa Brunei dan Aceh, terutama terkait manuskrip dan bukti sejarah tentang hubungan kedua suku bangsa tersebut.  Kata Kunci: Aceh, Brunei, manuskrip, sejarah, budaya, dan MelayuGeographically, Brunei and Aceh are separated by the ocean. One is located on the island of Kalimantan and the other on the island of Sumatra. Despite the distance, these two entities possess many similarities. Their people are of Malay origin, alike in culture and character. Historically, the relationship between them, be it at the level of sultans or subjects, is as well as it can be. For example, A. Hasyimi stated that Brunei adopted qanun (law) from Aceh. Other similarities can be found in their culture, such as folk games, housewarming celebration, and flour ritual. These similarities invite a deeper examination into the relationship between Brunei and Aceh. This study aimed to investigate the connection between the Brunei and Aceh sultanates, as well as the relationship between their ulama in spreading Islam. Using historical manuscripts from both places as primary sources, this study employed philological and anthropological approaches to achieve its objectives. It is hoped that the result of this study could be used to support the heritage preservation of Brunei and Aceh, especially in terms of historical manuscripts which have successfully proved their close relationship.Keywods: Aceh, Brunei, Malay, manuscript, history, culture
Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi
Title: Brunei And Aceh: A Manuscript-Based Study of Cultural And Historical Relationship
Description:
Dari sisi letak geografis, Brunei dan Aceh adalah dua suku bangsa yang berada di posisi berjauhan, pulau Kalimantan dan Sumatera.
Namun, keduanya memiliki banyak kemiripan antara satu sama lainnya.
Keduanya berada dalam satu rumpun Melayu, budaya, dan karakter yang mirip.
Dari sisi sejarah, kedua suku ini memiliki hubungan baik, baik pada tatanan kesul­tanan maupun pada level rakyatnya.
A.
Hasyimi mengatakan bahwa qanun yang dipakai di Brunei adalah hasil adopsi dari qanun yang ada di Aceh.
Selain itu kemiripan dari sisi budaya adalah, seperti perma­inan rakyat, cara masuk rumah baru, dan tepung tawari.
Kemiripan-kemiripan ini men­jadi menarik dikaji lebih jauh tentang hubungan sejarah Brunei dan Aceh.
Tulisan ini bertujuan untuk menggali hubungan sejarah antara kesultanan Brunei dan Aceh, termasuk hubungan yang baik antara ulama dalam menye­barkan ajaran Islam.
Penelitian ini didasarkan pada temuan-temuan terutama yang terdapat dalam manuskrip Aceh dan Brunei.
Kajian ini mengunakan pendekatan filologis dan antropologis untuk mengungkap informasi relasi antar kedua etnis ini.
Diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi pendukung pelestarian warisan yang dimiliki kedua suku bangsa Brunei dan Aceh, terutama terkait manuskrip dan bukti sejarah tentang hubungan kedua suku bangsa tersebut.
 Kata Kunci: Aceh, Brunei, manuskrip, sejarah, budaya, dan MelayuGeographically, Brunei and Aceh are separated by the ocean.
One is located on the island of Kalimantan and the other on the island of Sumatra.
Despite the distance, these two entities possess many similarities.
Their people are of Malay origin, alike in culture and character.
Historically, the relationship between them, be it at the level of sultans or subjects, is as well as it can be.
For example, A.
Hasyimi stated that Brunei adopted qanun (law) from Aceh.
Other similarities can be found in their culture, such as folk games, housewarming celebration, and flour ritual.
These similarities invite a deeper examination into the relationship between Brunei and Aceh.
This study aimed to investigate the connection between the Brunei and Aceh sultanates, as well as the relationship between their ulama in spreading Islam.
Using historical manuscripts from both places as primary sources, this study employed philological and anthropological approaches to achieve its objectives.
It is hoped that the result of this study could be used to support the heritage preservation of Brunei and Aceh, especially in terms of historical manuscripts which have successfully proved their close relationship.
Keywods: Aceh, Brunei, Malay, manuscript, history, culture.

Related Results

URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1). Pengaturan Hukum Penyiaran Aceh dalam mengaktualisasi nilai keislaman dan Kearifan budaya local masyarakat Aceh (2) Program Penyiaran Ac...
Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh
Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh
The Dutch colonial presence in the eastern coastal region of Aceh had a significant influence on infrastructure development and cultural changes in the area. The buildings left ove...
Analisis Kewenangan Badan Pertanahan Nasional Aceh Dan Dinas Pertanahan Aceh di Kota Banda Aceh
Analisis Kewenangan Badan Pertanahan Nasional Aceh Dan Dinas Pertanahan Aceh di Kota Banda Aceh
Berdasarkan Pasal 253 Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh menegaskan tentang peralihan status Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Aceh dan Kantor Pertanaha...
KONSERVASI ARSITEKTUR RUMOH ACEH
KONSERVASI ARSITEKTUR RUMOH ACEH
Maintain the authenticity and identity of Architecture Rumoh Aceh, the mandate entrusted by its predecessor, the founder utoh or buildings in Aceh for the next generation of Acehne...
Efektivitas Program Pemerintah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap Pola Pangan Harapan Rumah Tangga di Kota Banda Aceh
Efektivitas Program Pemerintah Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) terhadap Pola Pangan Harapan Rumah Tangga di Kota Banda Aceh
Abstrak. Dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan, kementerian pertanian melalui Badan Litbang Pertanian mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang disebut dengan KRPL,...
Strategi Penanganan Kemacetan Arus Lalu Lintas Berdasarkan Persepsi Masyarakat
Strategi Penanganan Kemacetan Arus Lalu Lintas Berdasarkan Persepsi Masyarakat
Abstrak: Pasar sangatlah identik dengan pusat keramaian, karena pasar merupakan pusat perdagangan yang terletak di pusat kota yang sering disebut juga dengan kawasan Central Bussin...
Aceh’s Crescent and Star Flag: Negotiation of Collective Identity in Post-conflict Aceh vs Indonesia
Aceh’s Crescent and Star Flag: Negotiation of Collective Identity in Post-conflict Aceh vs Indonesia
The following article analyzes the post-conflict Aceh identity negotiation based on the case study of Aceh’s Crescent and Star Flag also known as the Aceh’s Flag. The paper focuses...
HUBUNGAN SOSIAL MAYORITAS ISLAM DENGAN MINORITAS AGAMA-AGAMA LAIN DI KOTA BANDA ACEH-INDONESIA
HUBUNGAN SOSIAL MAYORITAS ISLAM DENGAN MINORITAS AGAMA-AGAMA LAIN DI KOTA BANDA ACEH-INDONESIA
Abstract: Assumption from outsiders that Aceh is intolerant is truly disadvantage for Aceh which its majority is Muslims and implement Syria law. Looking on religious perspectives,...

Back to Top