Javascript must be enabled to continue!
Ahimsa:Nalar Gandhi Tentang Perlawanan
View through CrossRef
Kedamaian adalah dambaan setiap makhluk, tidak hanya bagi umat manusia, tumbuhan dan binatang pun memerlukan kedamaian itu. Sayangnya, harapan itu tidak semudah yang dipikirkan. Thomas Hobbes berasumsi bahwa manusia adalah sebuah mesin anti sosial. Seluruh tindakan manusia mencakup penggabungan rasio dan keinginan dalam bentuk nafsu dan pengelakan. Keinginan memberi tujuan tindakan manusia, rasio mengintimkan sarana untuk mencapai tujuan itu, yang oleh Hobbes disebut ‘kekuasaan’. Oleh karena itu, kehidupan manusia adalah hasrat abadi yang tidak kunjung padam untuk meraih kekuasaan demi kekuasaan dan hanya berhenti ketika kematian tiba. Derasnya hasrat manusia atas banyak hal yang hadir secara alamiah adakalanya tidak sebanding dengan kemampuan pengendaliannya. Akibatnya, ia menjadi bias dan menerabas kaidah-kaidah moral, serta turut andil atas lahirnya kekerasan. Kekerasan adalah pelanggaran terhadap kebutuhan dasar kehidupan manusia. Kabar baiknya, sejarah memberikan catatan bahwa kekerasan dapat dielakkan. Inilah tujuan yang menantang setiap kita untuk memusatkan segenap akal budi, daya cipta, kekuatan jiwa dan badani pada peluang mewujudkan perdamaian. Tulisan ini adalah studi tentang pemikiran Gandhi mengenai tindakan tanpa kekerasan (Ahimsa) yang menawarkan satu gagasan dimana dilema-dilema moral mampu diselesaikan dengan mereduksi begitu banyak luka.
Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Title: Ahimsa:Nalar Gandhi Tentang Perlawanan
Description:
Kedamaian adalah dambaan setiap makhluk, tidak hanya bagi umat manusia, tumbuhan dan binatang pun memerlukan kedamaian itu.
Sayangnya, harapan itu tidak semudah yang dipikirkan.
Thomas Hobbes berasumsi bahwa manusia adalah sebuah mesin anti sosial.
Seluruh tindakan manusia mencakup penggabungan rasio dan keinginan dalam bentuk nafsu dan pengelakan.
Keinginan memberi tujuan tindakan manusia, rasio mengintimkan sarana untuk mencapai tujuan itu, yang oleh Hobbes disebut ‘kekuasaan’.
Oleh karena itu, kehidupan manusia adalah hasrat abadi yang tidak kunjung padam untuk meraih kekuasaan demi kekuasaan dan hanya berhenti ketika kematian tiba.
Derasnya hasrat manusia atas banyak hal yang hadir secara alamiah adakalanya tidak sebanding dengan kemampuan pengendaliannya.
Akibatnya, ia menjadi bias dan menerabas kaidah-kaidah moral, serta turut andil atas lahirnya kekerasan.
Kekerasan adalah pelanggaran terhadap kebutuhan dasar kehidupan manusia.
Kabar baiknya, sejarah memberikan catatan bahwa kekerasan dapat dielakkan.
Inilah tujuan yang menantang setiap kita untuk memusatkan segenap akal budi, daya cipta, kekuatan jiwa dan badani pada peluang mewujudkan perdamaian.
Tulisan ini adalah studi tentang pemikiran Gandhi mengenai tindakan tanpa kekerasan (Ahimsa) yang menawarkan satu gagasan dimana dilema-dilema moral mampu diselesaikan dengan mereduksi begitu banyak luka.
Related Results
Nalar dan Iman dalam Kehidupan Beragama: Dikotomi atau Harmoni
Nalar dan Iman dalam Kehidupan Beragama: Dikotomi atau Harmoni
Reason is the nature of human beings and those who are religious also have faith. Therefore, believers have two fundamental basics in their life: reason and faith. In the reality, ...
Perlawanan Penyintas Body Shaming Melalui Media Sosial
Perlawanan Penyintas Body Shaming Melalui Media Sosial
As the era progresses, technological advances bring ease in accessing information from various media, one of which is social media. One of the most popular social media is Instagra...
RELEVANSI AJARAN MAHATMA GANDHI DENGAN KONSEP KEBEBASAN (STUDI KASUS HAK ASASI MANUSIA)
RELEVANSI AJARAN MAHATMA GANDHI DENGAN KONSEP KEBEBASAN (STUDI KASUS HAK ASASI MANUSIA)
Mahatma Gandhi menggulirkan konsep bermasyarakat yang lebih menekankan pada aspek-aspek kesetaraan manusia, sebagai kaum tertindas di india pada masa itu. Ahimsa, Nir-Kekerasan, sa...
Gandhi for the Twenty-First Century
Gandhi for the Twenty-First Century
In this author-meets-critics dialogue, Douglas Allen, author of argues that Gandhi-informed philosophies and practices, when creatively reformulated and applied, are essential for ...
REPRESENTASI KEKERASAN DALAM NOVEL LAUT BERCERITA KARYA LEILA S. CHUDORI (REPRESENTATION OF VIOLENCE IN LAUT BERCERITA NOVEL BY LEILA S. CHUDORI)
REPRESENTASI KEKERASAN DALAM NOVEL LAUT BERCERITA KARYA LEILA S. CHUDORI (REPRESENTATION OF VIOLENCE IN LAUT BERCERITA NOVEL BY LEILA S. CHUDORI)
AbstractRepresentation of Violence in Laut Bercerita Novel by Leila S. Chudori. This study aims to describe the forms of violence and resistance in the novel Laut Bercerita by Leil...
Mohandas Karamchand Gandhi
Mohandas Karamchand Gandhi
Mohandas Karamchand Gandhi (2 October 1869–30 January 1948) is internationally known for his leadership in India’s independence movement and the methods of ahiṃsā (nonviolence) and...
Gandhi and Gandhi: Modernity, Gender and Reform in the Films of Rajesh Khanna
Gandhi and Gandhi: Modernity, Gender and Reform in the Films of Rajesh Khanna
Meghnad Desai fittingly described the twentieth-century India as ‘a tale of two Gandhi dynasties’ – Mahatma Gandhi and Indira Gandhi. The confluence of two Gandhi(s) – former, ideo...
Is Gandhi a Vedantist?
Is Gandhi a Vedantist?
There is a strong tendency among many scholars to claim that true Hinduism is Vedanta and its highest form is Advaita. Many scholars claim that Gandhi is a Hindu Vedantist and espe...

