Javascript must be enabled to continue!
PEMBELAJARAN SDGS SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN SOFT SKILL DAN HARD SKILL GENERASI MUDA DI INDONESIA DAN FILIPINA
View through CrossRef
Abstrak: Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) menuntut keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen perubahan strategis, khususnya di Indonesia dan Filipina. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan peran strategis generasi muda dalam mendukung pencapaian SDGs di kedua negara tersebut. Metode kegiatan yang digunakan adalah sosialisasi partisipatif, yang memadukan ceramah interaktif dan Forum Group Discussion (FGD) guna mendorong keterlibatan aktif peserta. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta aktif, terdiri dari mahasiswa dan pemuda komunitas di Indonesia dan Filipina. Instrumen evaluasi yang digunakan adalah observasi langsung, yang dilakukan secara kontinu oleh tim pelaksana selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, serta wawancara semi-terstruktur setelah sesi FGD untuk menggali pemahaman dan sikap peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa generasi muda berperan sebagai agen perubahan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan komunitas (15%), advokasi serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan (25%), peningkatan kesadaran dan pendidikan SDGs (20%), pemanfaatan teknologi dan inovasi digital (18%), serta penerapan gaya hidup berkelanjutan (22%). Persentase ini menegaskan bahwa advokasi dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan menjadi kontribusi terbesar, diikuti oleh penerapan gaya hidup berkelanjutan dan peningkatan literasi SDGs. Temuan ini mengindikasikan adanya kesadaran kritis yang berkembang serta kemampuan implementasi nilai-nilai SDGs dalam kehidupan sehari-hari.Abstract: The achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) requires the active involvement of the younger generation as strategic agents of change, especially in Indonesia and the Philippines. This community service aims to analyze and develop the younger generation's strategic role in supporting SDG achievement in both countries. The activity method used is participatory socialization, which combines interactive lectures and Forum Group Discussion (FGD) to encourage active involvement of participants. This activity was attended by 50 active participants, consisting of students and community youth in Indonesia and the Philippines. The evaluation instruments used were direct observation, which was carried out continuously by the implementation team during the entire series of activities, and semi-structured interviews after the FGD session to explore participants' understanding and attitudes. The evaluation results show that young people play a role as agents of change through active participation in social and community activities (15%), advocacy and involvement in decision-making (25%), increasing SDGs awareness and education (20%), utilizing technology and digital innovation (18%), and implementing sustainable lifestyles (22%). These percentages confirm that advocacy and involvement in decision-making are the biggest contributions, followed by applying sustainable lifestyles and increasing SDG literacy. This finding indicates a growing critical awareness and ability to implement SDGs values in daily life.
Universitas Muhammadiyah Mataram
Title: PEMBELAJARAN SDGS SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN SOFT SKILL DAN HARD SKILL GENERASI MUDA DI INDONESIA DAN FILIPINA
Description:
Abstrak: Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) menuntut keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen perubahan strategis, khususnya di Indonesia dan Filipina.
Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan peran strategis generasi muda dalam mendukung pencapaian SDGs di kedua negara tersebut.
Metode kegiatan yang digunakan adalah sosialisasi partisipatif, yang memadukan ceramah interaktif dan Forum Group Discussion (FGD) guna mendorong keterlibatan aktif peserta.
Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta aktif, terdiri dari mahasiswa dan pemuda komunitas di Indonesia dan Filipina.
Instrumen evaluasi yang digunakan adalah observasi langsung, yang dilakukan secara kontinu oleh tim pelaksana selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, serta wawancara semi-terstruktur setelah sesi FGD untuk menggali pemahaman dan sikap peserta.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa generasi muda berperan sebagai agen perubahan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan komunitas (15%), advokasi serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan (25%), peningkatan kesadaran dan pendidikan SDGs (20%), pemanfaatan teknologi dan inovasi digital (18%), serta penerapan gaya hidup berkelanjutan (22%).
Persentase ini menegaskan bahwa advokasi dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan menjadi kontribusi terbesar, diikuti oleh penerapan gaya hidup berkelanjutan dan peningkatan literasi SDGs.
Temuan ini mengindikasikan adanya kesadaran kritis yang berkembang serta kemampuan implementasi nilai-nilai SDGs dalam kehidupan sehari-hari.
Abstract: The achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) requires the active involvement of the younger generation as strategic agents of change, especially in Indonesia and the Philippines.
This community service aims to analyze and develop the younger generation's strategic role in supporting SDG achievement in both countries.
The activity method used is participatory socialization, which combines interactive lectures and Forum Group Discussion (FGD) to encourage active involvement of participants.
This activity was attended by 50 active participants, consisting of students and community youth in Indonesia and the Philippines.
The evaluation instruments used were direct observation, which was carried out continuously by the implementation team during the entire series of activities, and semi-structured interviews after the FGD session to explore participants' understanding and attitudes.
The evaluation results show that young people play a role as agents of change through active participation in social and community activities (15%), advocacy and involvement in decision-making (25%), increasing SDGs awareness and education (20%), utilizing technology and digital innovation (18%), and implementing sustainable lifestyles (22%).
These percentages confirm that advocacy and involvement in decision-making are the biggest contributions, followed by applying sustainable lifestyles and increasing SDG literacy.
This finding indicates a growing critical awareness and ability to implement SDGs values in daily life.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
PENDAMPINGAN PENDIDIKAN POLITIK UNTUK GENERASI MUDA DI KOTA JAMBI
PENDAMPINGAN PENDIDIKAN POLITIK UNTUK GENERASI MUDA DI KOTA JAMBI
Pendampingan Pendidikan Politik untuk Generasi Muda di Kota Jambi bertujuan untuk memberi pendidikan politik melalui sosialisasi terhadap generasi muda, dengan memberikan...
Perkembangan Sosial Islam di Filipina
Perkembangan Sosial Islam di Filipina
Filipina merupakan salah satu Negara yang terdapat di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik.Islam menjadi agama minoritas.Meskipun Islam menjadi minoritas, terd...
Sejarah Islam Asia Tenggara “Islam di Filipina”
Sejarah Islam Asia Tenggara “Islam di Filipina”
Islam di Filipina merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah masuknya Islam di Filipina, ...
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Filipina Tentang Penanganan Kasus Korupsi
Perbandingan Sistem Hukum Indonesia dan Filipina Tentang Penanganan Kasus Korupsi
Indonesia dengan Filipina menganut sistem hukum yang berbeda. Indonesia menganut sistem hukum civil law, sedangkan Filipina menganut sistem hukum campuran antara civil law dan comm...
Between the Classes of Soft Open Sets and Soft Omega Open Sets
Between the Classes of Soft Open Sets and Soft Omega Open Sets
In this paper, we define the class of soft ω0-open sets. We show that this class forms a soft topology that is strictly between the classes of soft open sets and soft ω-open sets, ...
Weaker Forms of Soft Regular and Soft T2 Soft Topological Spaces
Weaker Forms of Soft Regular and Soft T2 Soft Topological Spaces
Soft ω-local indiscreetness as a weaker form of both soft local countability and soft local indiscreetness is introduced. Then soft ω-regularity as a weaker form of both soft regul...
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Generasi muda saat ini mengalami krisis karakter yang ditandai dengan ketidakpedulian terhadap budaya sejak adanya perkembangan teknologi yang telah memasuki perkembangan era 4.0. ...

