Javascript must be enabled to continue!
PERGESERAN MAKNA SOSIAL TRADISI TEDHAK SITEN: DARI SACRAL KE PROFAN
View through CrossRef
Tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai. Oleh sebab itu, upaya penjagaan, pemeliharaan dan pelestarian budaya merupakan kewajiban tiap individu dari daerah atau bangsa tersebut. Perubahan dan pergeseran dalam pelaksanaan upacara adat diperlukan adanya perhatian dari berbagai praktisi budaya maupun ilmuwan sosial. Sebab, menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan atau adat istiadat merupakan kewajiban setiap individu. Selain itu, tradisi adalah identitas sebuah daerah atau suku bangsa. Atas dasar itu, penelitian atas perubahan, pergeseran dan makna upacara tedhak siten ini kami lakukan. Tujuan dasar dari penelitian ini adalah agar masyarakat mengetahui adanya perubahan, pergeseran, dan juga memahami makna dibalik simbol-simbol dalam tradisi Tedhak Siten tersebut. Selain itu, juga agar masyarakat, terutama generasi sekarang, mengetahui bahwa bangsa kita memiliki tradisi yang unik, menarik, dan penuh makna serta fungsi.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, dengan tujuan untuk mendeskripsikan fakta secara sistematis dan objektif melalui sifat, ciri serta unsur- unsur yang terkait dengannya. Penelitian yang dilakukan di desa Bawen Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara, dan studi literature. Sedangkan teknik untuk menguji keabsahan dan validitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi, adapun peneliti menggunakan empat macam trianggulasi yakni, trianggulasi sumber data, trianggulasi peneliti, trianggulasi, trianggulasi metodologis, dan trianggulasi teoritis.
Secara teoritis, upacara tedhak siten masih sering dilakukan oleh masyarakat, khusunya di Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Namun, masyarakat yang masih melaksanakan tersebut bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: kelompok yang memegang pakem, dan kelompok yang mengurangi atau menambahi pakem. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yaitu: faktor ekonomi, perubahan cara pandang yang dikarenakan oleh tingginya pendidikan dan modernitas, dan faktor kegagalan transformasi nilai. Sehingga mengalami pergeseran, baik berkenaan dengan bentuk dzatiyah- nya maupun makna sosialnya. Pergeseran makna sosialnya adalah pergeseran dari yang awalnya sacral menjadi profan. Bentuk profan-nya bisa sebagai: upaya menunjukkan tingkat status sosial; menjaga gengsi keluarga; dan bahkan hanya biar dianggap ‘wah’ oleh kolega atau masyarakatnya.
Title: PERGESERAN MAKNA SOSIAL TRADISI TEDHAK SITEN: DARI SACRAL KE PROFAN
Description:
Tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai.
Oleh sebab itu, upaya penjagaan, pemeliharaan dan pelestarian budaya merupakan kewajiban tiap individu dari daerah atau bangsa tersebut.
Perubahan dan pergeseran dalam pelaksanaan upacara adat diperlukan adanya perhatian dari berbagai praktisi budaya maupun ilmuwan sosial.
Sebab, menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan atau adat istiadat merupakan kewajiban setiap individu.
Selain itu, tradisi adalah identitas sebuah daerah atau suku bangsa.
Atas dasar itu, penelitian atas perubahan, pergeseran dan makna upacara tedhak siten ini kami lakukan.
Tujuan dasar dari penelitian ini adalah agar masyarakat mengetahui adanya perubahan, pergeseran, dan juga memahami makna dibalik simbol-simbol dalam tradisi Tedhak Siten tersebut.
Selain itu, juga agar masyarakat, terutama generasi sekarang, mengetahui bahwa bangsa kita memiliki tradisi yang unik, menarik, dan penuh makna serta fungsi.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, dengan tujuan untuk mendeskripsikan fakta secara sistematis dan objektif melalui sifat, ciri serta unsur- unsur yang terkait dengannya.
Penelitian yang dilakukan di desa Bawen Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara, dan studi literature.
Sedangkan teknik untuk menguji keabsahan dan validitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi, adapun peneliti menggunakan empat macam trianggulasi yakni, trianggulasi sumber data, trianggulasi peneliti, trianggulasi, trianggulasi metodologis, dan trianggulasi teoritis.
Secara teoritis, upacara tedhak siten masih sering dilakukan oleh masyarakat, khusunya di Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.
Namun, masyarakat yang masih melaksanakan tersebut bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: kelompok yang memegang pakem, dan kelompok yang mengurangi atau menambahi pakem.
Hal ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yaitu: faktor ekonomi, perubahan cara pandang yang dikarenakan oleh tingginya pendidikan dan modernitas, dan faktor kegagalan transformasi nilai.
Sehingga mengalami pergeseran, baik berkenaan dengan bentuk dzatiyah- nya maupun makna sosialnya.
Pergeseran makna sosialnya adalah pergeseran dari yang awalnya sacral menjadi profan.
Bentuk profan-nya bisa sebagai: upaya menunjukkan tingkat status sosial; menjaga gengsi keluarga; dan bahkan hanya biar dianggap ‘wah’ oleh kolega atau masyarakatnya.
Related Results
MAKNA SIMBOLIK TRADISI TEDHAK SITEN PADA MASYARAKAT DUSUN SUKA DAMAI DESA BAGAN JAYA KECAMATAN ENOK KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
MAKNA SIMBOLIK TRADISI TEDHAK SITEN PADA MASYARAKAT DUSUN SUKA DAMAI DESA BAGAN JAYA KECAMATAN ENOK KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
Penelitian ini membahas tentang Makna Simbolik Tradisi Tedhak Siten Pada Masyarakat Suka Damai Desa Bagan Jaya Kecamatan Enok Kabupaten Indragiri Hilir. Tradisi dan kepercayaan te...
Analisis makna simbolik upacara tradisi Tedhak Siten
Analisis makna simbolik upacara tradisi Tedhak Siten
Javanese people are people who still maintain rituals that are still related to natural events, or disasters and still carried out in daily life. One of the traditions carried out ...
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
TRADISI NYADRAN PUNDEN DAN UMAT BUDDHA DI DUSUN LAMUK, KABUPATEN TEMANGGUNG
Tradisi Nyadran sebagai sebuah kearifan lokal yang turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya, kegiatan tradisi Nyadran Punden merupakan pembersihan makam leluhur dan mela...
KLASIFIKASI MAKNA (Ditinjau dari Ranah Komunikasi)
KLASIFIKASI MAKNA (Ditinjau dari Ranah Komunikasi)
Kajian ini merupakan kajian linguistik yang membahas tentang klasifikasi makna (ditinjau dari ranah komunikasi). Dalam kajian ini di bahas klasifikasi makna atau arti (types of mea...
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
<p>Umat Hindu selalu memegang teguh ajaran <em>Tri Hita Karana </em>yaitu tiga sumber</p><p>yang mendatangkan kebahagiaan, yakni hubungan manusia deng...
Analisis Makna Figuratif dan Pergeseran Fungsi Andung “Tangis Ni Tao Toba” dalam Upaya Melestarikan Tradisi Andung Batak Toba
Analisis Makna Figuratif dan Pergeseran Fungsi Andung “Tangis Ni Tao Toba” dalam Upaya Melestarikan Tradisi Andung Batak Toba
Penelitian tentang andung Batak Toba telah banyak dilakukan oleh peneliti dan akademisi yang
tertarik dengan topik penelitian ini. Tetapi penelitian andung dari segi makna figurat...
Makna dan Fungsi Tradisi Tedun di Desa Sambong Kecamatan Sumber, Rembang: Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce
Makna dan Fungsi Tradisi Tedun di Desa Sambong Kecamatan Sumber, Rembang: Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce
Latar Belakang: Tedun merupakan sebuah ritual adat yang berakar pada kepercayaan masyarakat terdahulu
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dan fungsi rangkaian p...
PERGESERAN MAKNA DALAM KESENIAN NDOLALAK DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT DI PURWOREJO
PERGESERAN MAKNA DALAM KESENIAN NDOLALAK DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT DI PURWOREJO
<p>Penelitian ini dilatar belakangi oleh asumsi adanya pergeseran makna dalam seni tari <em>ndolalak.</em> Awalnya ketika seni tari tersebut dikreasi mengandung p...

