Javascript must be enabled to continue!
Efektivitas Terapi Otot Progresif dalam Mengurangi Kram Otot pada Pasien Hemodialisa di RSAU Dr. Esnawan Antariksa
View through CrossRef
Gagal ginjal kronis adalah kondisi dimana peran ginjal menurun dan tidak dapat diperbaiki penyakit ini banyak diderita orang di dunia. Di Indonesia sendiri pada tahun 2018 terdapat 66.433 pasien baru. Salah satu terapi untuk penyakit gagal ginjal kronis adalah hemodialisa. Salah satu masalah yang kerap dirasakan oleh pasien hemodialisa adalah kram otot, sebanyak 46,9% pasien hemodialisa mengalami kram otot. Dalam mengurangi kram otot diperlukan teknik non-farmakologi, yaitu terapi otot progresif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskrisikan kram otot sebelum dan sesudah dilakukan Terapi Otot Progresif pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSAU Dr. Esnawan Antariksa. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi kasus. Penelitian ini menggunakan 2 subyek penelitian. Instrumen penelitian ini dengan alat ukur yang digunakan adalah Cramp Questionnaire Chart. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penurunan skor kram otot dengan klasifikasi kram sedang menjadi kram ringan. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi otot progresif dapat menurunkan skor kram otot pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa.
Chronic kidney failure is a condition where the function of the kidneys decreases and cannot be repaired. This disease affects many people in the world. In Indonesia alone, in 2018 there were 66,433 new patients. One of the therapies for chronic kidney failure is hemodialysis. One of the problems often experienced by hemodialysis patients is muscle cramps. As many as 46.9% of hemodialysis patients experience muscle cramps. To reduce muscle cramps, non-pharmacological techniques are needed, namely progressive muscle therapy. The aim of this study was to describe muscle cramps before and after Progressive Muscle Therapy in patients undergoing hemodialysis at RSAU dr. Esnawan Antariksa. This research design is descriptive with a case study. This study used 2 research subjects. The research instrument used for this research is the Cramp Questionnaire Chart. The results of this study showed that there was a decrease in muscle cramp scores with the classification of moderate cramps to mild cramps. The conclusion of this study is that progressive muscle therapy can reduce muscle cramp scores in patients undergoing hemodialysis therapy.
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
Title: Efektivitas Terapi Otot Progresif dalam Mengurangi Kram Otot pada Pasien Hemodialisa di RSAU Dr. Esnawan Antariksa
Description:
Gagal ginjal kronis adalah kondisi dimana peran ginjal menurun dan tidak dapat diperbaiki penyakit ini banyak diderita orang di dunia.
Di Indonesia sendiri pada tahun 2018 terdapat 66.
433 pasien baru.
Salah satu terapi untuk penyakit gagal ginjal kronis adalah hemodialisa.
Salah satu masalah yang kerap dirasakan oleh pasien hemodialisa adalah kram otot, sebanyak 46,9% pasien hemodialisa mengalami kram otot.
Dalam mengurangi kram otot diperlukan teknik non-farmakologi, yaitu terapi otot progresif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskrisikan kram otot sebelum dan sesudah dilakukan Terapi Otot Progresif pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSAU Dr.
Esnawan Antariksa.
Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi kasus.
Penelitian ini menggunakan 2 subyek penelitian.
Instrumen penelitian ini dengan alat ukur yang digunakan adalah Cramp Questionnaire Chart.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat penurunan skor kram otot dengan klasifikasi kram sedang menjadi kram ringan.
Kesimpulan penelitian ini adalah terapi otot progresif dapat menurunkan skor kram otot pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa.
Chronic kidney failure is a condition where the function of the kidneys decreases and cannot be repaired.
This disease affects many people in the world.
In Indonesia alone, in 2018 there were 66,433 new patients.
One of the therapies for chronic kidney failure is hemodialysis.
One of the problems often experienced by hemodialysis patients is muscle cramps.
As many as 46.
9% of hemodialysis patients experience muscle cramps.
To reduce muscle cramps, non-pharmacological techniques are needed, namely progressive muscle therapy.
The aim of this study was to describe muscle cramps before and after Progressive Muscle Therapy in patients undergoing hemodialysis at RSAU dr.
Esnawan Antariksa.
This research design is descriptive with a case study.
This study used 2 research subjects.
The research instrument used for this research is the Cramp Questionnaire Chart.
The results of this study showed that there was a decrease in muscle cramp scores with the classification of moderate cramps to mild cramps.
The conclusion of this study is that progressive muscle therapy can reduce muscle cramp scores in patients undergoing hemodialysis therapy.
Related Results
Implementasi Breathing Exercise Terhadap Fatigue pada Pasien Hemodialisa Di RSAU dr. Esnawan Antariksa
Implementasi Breathing Exercise Terhadap Fatigue pada Pasien Hemodialisa Di RSAU dr. Esnawan Antariksa
Gagal ginjal diartikan sebagai kerusakan ginjal yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus di angka 15 ml/menit/1,73 m2. Penyakit gagal ginjal kronis meningkat sebesar...
Implementasi Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Post Apendiktomi di Ruang Merak RSAU Dr. Esnawan Antariksa
Implementasi Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Post Apendiktomi di Ruang Merak RSAU Dr. Esnawan Antariksa
Apendiksitis merupakan kondisi gangguan pencernaan berupa peradangan pada usus buntu yang dipengaruhi beberapa faktor seperti konsumsi makanan cepat saji dan aktivitas yang berlebi...
EFEKTIFITAS PEMBERIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP HARGA DIRI PASIEN YANG DILAKUKAN HEMODIALISA DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT WILLIAM BOOTH SURABAYA
EFEKTIFITAS PEMBERIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP HARGA DIRI PASIEN YANG DILAKUKAN HEMODIALISA DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT WILLIAM BOOTH SURABAYA
Harga diri rendah merupakan perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. Harga diri ...
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh...
Implementasi Kompres Hangat Untuk Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Gastritis di RSAU dr. Esnawan Antariksa
Implementasi Kompres Hangat Untuk Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Gastritis di RSAU dr. Esnawan Antariksa
Gastritis atau penyakit maag merupakan suatu kondisi peradangan pada mukosa atau dinding lambung akibat peningkatan asam lambung yang menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut, kemb...
Efektivitas Pemberian Terapi Relaksasi Otot Progresif Dan Benson Pada Lansia Dengan Hipertensi
Efektivitas Pemberian Terapi Relaksasi Otot Progresif Dan Benson Pada Lansia Dengan Hipertensi
Pendahuluan: Penelitian ini bermula dari adanya angka kejadian hipertensi pada lansia masih tinggi. Peningkatan sensitifitas terhadap asupan natrium dan terjadinya penurunan elasti...
Kejadian Intradialitic Complication pada Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisa: Studi Deskritif
Kejadian Intradialitic Complication pada Pasien PGK yang Menjalani Hemodialisa: Studi Deskritif
Latar Belakang: Komplikasi intradialitik adalah kejadian komplikasi yang terjadi pada saat pasien menjalani dialisis atau terapi pengganti ginjal seperti hemodialisa. Pasien yang m...
Penerapan Teknik Relaksasi Otot Progresif dalam Penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu pada Penderita Diabetes di RSAU Jakarta
Penerapan Teknik Relaksasi Otot Progresif dalam Penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu pada Penderita Diabetes di RSAU Jakarta
Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit akibat fungsi atau struktur dari jaringan atau organ tubuh yang secara progresif menurun dari waktu ke waktu karena usia atau gaya hi...


