Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KETIKA UPACARA BENDERA DAN MENJADI PEMBINA UPACARA DIHARAMKAN

View through CrossRef
Pradana, Daniel Putra: “Ketika Upacara Bendera Dan Menjadi Pembina Upacara Diharamkan”.Upacara bendera merupakan kegiatan penurunan atau menaikkan bendera kebangsaan Republik Indonesia bendera Merah Putih, dilaksanakan pada saat tertentu atau waktu yang telah ditentukan, dihadiri oleh peserta didik, aparat sekolah, diselenggarakan secara tertib dan khidmat. Upacara bendera memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air, bangsa, dan agama; menumbuhkan rasa tanggungjawab dan disiplin pribadi;memiliki jiwa gotong royong dan percaya kepada orang lain; dapat memimpin dan di pimpin; dapat melaksanakan upacara dengan khidmat dan tertib; meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.upacara bendera yang dilaksanakan saat ini dianggap sebagai sarana untuk menyeru dan menanamkan pada paham nasionalisme yang haram. “Haram juga hukumnya segala macam jalan atau sarana yang mengantarkan pada perbuatan menyeru kepada ‘ashabiyah, seperti upacara bendera atau menjadi Pembina upacara. Upacara bendera merupakan salah satu kegiatan yang memiliki andil dalam membentuk karakter siswa. Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah sebagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan
Center for Open Science
Title: KETIKA UPACARA BENDERA DAN MENJADI PEMBINA UPACARA DIHARAMKAN
Description:
Pradana, Daniel Putra: “Ketika Upacara Bendera Dan Menjadi Pembina Upacara Diharamkan”.
Upacara bendera merupakan kegiatan penurunan atau menaikkan bendera kebangsaan Republik Indonesia bendera Merah Putih, dilaksanakan pada saat tertentu atau waktu yang telah ditentukan, dihadiri oleh peserta didik, aparat sekolah, diselenggarakan secara tertib dan khidmat.
Upacara bendera memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air, bangsa, dan agama; menumbuhkan rasa tanggungjawab dan disiplin pribadi;memiliki jiwa gotong royong dan percaya kepada orang lain; dapat memimpin dan di pimpin; dapat melaksanakan upacara dengan khidmat dan tertib; meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
upacara bendera yang dilaksanakan saat ini dianggap sebagai sarana untuk menyeru dan menanamkan pada paham nasionalisme yang haram.
“Haram juga hukumnya segala macam jalan atau sarana yang mengantarkan pada perbuatan menyeru kepada ‘ashabiyah, seperti upacara bendera atau menjadi Pembina upacara.
Upacara bendera merupakan salah satu kegiatan yang memiliki andil dalam membentuk karakter siswa.
Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan.
Nasionalisme adalah sebagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan.

Related Results

DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
ABSTRAK             Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura...
Kajian Etnobotani Tumbuhan Dalam Upacara Kehamilan (Posipo) Hingga Masa Anak-Anak (Dole-Dole) Pada Masyarakat Wolio Kota Bau-Bau
Kajian Etnobotani Tumbuhan Dalam Upacara Kehamilan (Posipo) Hingga Masa Anak-Anak (Dole-Dole) Pada Masyarakat Wolio Kota Bau-Bau
Tujuan dari penelitia ini adalah untuk mengetahui (1) jenis-jenis tumbuhan apa saja yang digunakan dalam upacara kehamilan (posipo) hingga upacara masa anak-anak (dole-dole), (2) o...
TRADISI TEDAK SITI PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU
TRADISI TEDAK SITI PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU
Indonesia mempunyai keanekaragaman tradisi dan budaya warisan leluhur yang masih diteruskan dari generasi ke generasi hingga kini. Upacara peringatan daur hidup seseorang, sejak se...
PERBANDINGAN UPACARA SEIJIN SHIKI DI JEPANG DAN UPACARA METATAH DI BALI
PERBANDINGAN UPACARA SEIJIN SHIKI DI JEPANG DAN UPACARA METATAH DI BALI
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan upacara ketika memasuki usia dewasa pada dua jenis upacara yaitu seijin shiki di Jepang dan upacara metatah (upacara potong gigi...
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
PENGGUNAAN PALAKIWA DALAM UPACARA NGABEN DI DESA ADAT KULUB KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR
Dalam mewujudkan rasa bhakti  memuja  kebesaran Tuhan, masyarakat di Desa  Adat Kulub Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, melakukan upacara pitra yadnya yang dimana di dalam...
PELATIHAN PEMBINA PRAMUKA DI MADRASAH ISLAMIYAH PEKAN DOLOK MASIHUL
PELATIHAN PEMBINA PRAMUKA DI MADRASAH ISLAMIYAH PEKAN DOLOK MASIHUL
Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada guru madrasah Islamiyah Pekan Dolok Masihul menjadi Pembina pramuka dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka di ...
Karya Karawitan Eksperimental “Marebu Agung”
Karya Karawitan Eksperimental “Marebu Agung”
Karya karawitan eksperimental “Marebu Agung” adalah komposisi yang terinspirasi dari upacara ngerebong di Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Kota Denpasar. Ketertarikan pencipta...

Back to Top