Javascript must be enabled to continue!
Studi Keprimaan dalam Modul: Submodul Prima, Prima Lemah, Hampir Prima, dan n- Hampir Prima
View through CrossRef
Teori modul, sebagai cabang dari aljabar abstrak, merupakan bidang studi yang memperluas konsep ruang vektor ke dalam kerangka yang lebih umum, menemukan aplikasi yang luas di berbagai bidang matematika. Konsep bilangan prima, yang awalnya diabstraksi oleh Dedekind dalam bentuk ideal prima, mengalami pengembangan lebih lanjut oleh para matematikawan. Anderson memperumumkannya menjadi ideal prima lemah, sedangkan Sharma mengembangkan konsep ideal hampir prima. Setelah Noether memperkenalkan konsep modul, Dauns membawa gagasan keprimaan ini ke dalam teori modul dengan nama submodul prima. Selanjutnya, Khashan memperumumkannya menjadi submodul hampir prima dan submodul prima lemah. Pengembangan terakhir datang dari Azizi, yang memperkenalkan konsep submodul hampir prima menjadi submodul n-hampir prima. Dalam konteks ini, artikel ini membahas beberapa karakteristik kunci dari submodul prima beserta perumumannya, memberikan pemahaman mendalam tentang struktur dan sifat-sifat yang mendasarinya. Melalui pemahaman ini, kita dapat mengeksplorasi berbagai aplikasi teori modul dalam berbagai konteks matematika dan menyelami kompleksitas yang terkandung dalam studi keprimaan dan struktur submodul dalam modul. Tujuan penelitiaan ini adalah menjelaskan beberapa struktur dan sifat-sifat dari submodul prima. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai sumber bacaan yang berkaitan dengan submodul prima beserta perumumannya. Hasil penelitian ini berupa penjelasan mengenai beberapa struktur dan sifat-sifat dari submodul prima beserta contohnya.
Title: Studi Keprimaan dalam Modul: Submodul Prima, Prima Lemah, Hampir Prima, dan n- Hampir Prima
Description:
Teori modul, sebagai cabang dari aljabar abstrak, merupakan bidang studi yang memperluas konsep ruang vektor ke dalam kerangka yang lebih umum, menemukan aplikasi yang luas di berbagai bidang matematika.
Konsep bilangan prima, yang awalnya diabstraksi oleh Dedekind dalam bentuk ideal prima, mengalami pengembangan lebih lanjut oleh para matematikawan.
Anderson memperumumkannya menjadi ideal prima lemah, sedangkan Sharma mengembangkan konsep ideal hampir prima.
Setelah Noether memperkenalkan konsep modul, Dauns membawa gagasan keprimaan ini ke dalam teori modul dengan nama submodul prima.
Selanjutnya, Khashan memperumumkannya menjadi submodul hampir prima dan submodul prima lemah.
Pengembangan terakhir datang dari Azizi, yang memperkenalkan konsep submodul hampir prima menjadi submodul n-hampir prima.
Dalam konteks ini, artikel ini membahas beberapa karakteristik kunci dari submodul prima beserta perumumannya, memberikan pemahaman mendalam tentang struktur dan sifat-sifat yang mendasarinya.
Melalui pemahaman ini, kita dapat mengeksplorasi berbagai aplikasi teori modul dalam berbagai konteks matematika dan menyelami kompleksitas yang terkandung dalam studi keprimaan dan struktur submodul dalam modul.
Tujuan penelitiaan ini adalah menjelaskan beberapa struktur dan sifat-sifat dari submodul prima.
Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai sumber bacaan yang berkaitan dengan submodul prima beserta perumumannya.
Hasil penelitian ini berupa penjelasan mengenai beberapa struktur dan sifat-sifat dari submodul prima beserta contohnya.
Related Results
SUBMODUL PRIMA, PRIMA LEMAH DAN HAMPIR PRIMA DARI MODUL MATRIKS BILANGAN BULAT MODULO
SUBMODUL PRIMA, PRIMA LEMAH DAN HAMPIR PRIMA DARI MODUL MATRIKS BILANGAN BULAT MODULO
Bilangan prima berperan kunci dalam keamanan digital dan kriptografi, terutama dalam algoritma seperti RSA yang bergantung pada faktor bilangan prima besar untuk kunci enkripsi. Ta...
SIFAT-SIFAT MODUL SOFT
SIFAT-SIFAT MODUL SOFT
Suatu himpunan tak kosong disebut modul atas suatu ring dengan elemen satuan jika himpunan tersebut merupakan grup komutatif yang tertutup terhadap perkalian skalar yang memenuhi b...
KAJIAN KEINJEKTIFAN MODUL (MODUL INJEKTIF, MODUL INJEKTIF LEMAH, MODUL MININJEKTIF)
KAJIAN KEINJEKTIFAN MODUL (MODUL INJEKTIF, MODUL INJEKTIF LEMAH, MODUL MININJEKTIF)
Abstrak. Diberikan ÃÂ adalah -modul. Modul ÃÂ dikatakan injektif jika untuk setiap monomorfismaÃÂ ÃÂ dan setiap homomorfisma ÃÂ terdapat homomorfismaÃÂ ÃÂ sedemikian hingg...
DEKOMPOSISI MODUL AUTOMORFISMA INVARIAN ATAS MODUL KUASI-INJEKTIF DAN MODUL SQUARE-FREE
DEKOMPOSISI MODUL AUTOMORFISMA INVARIAN ATAS MODUL KUASI-INJEKTIF DAN MODUL SQUARE-FREE
Misalkan adalah modul atas ring . Injektif hull dari , dinotasikan , adalah suatu modul injektif yang memuat sebagai submodul essensialnya. Jika invarian dibawah sebarang autom...
Kesahan Modul Pengajaran dan Pembelajaran Topik Aplikasi Teknologi Bagi Mata Pelajaran RBT Tingkatan 3
Kesahan Modul Pengajaran dan Pembelajaran Topik Aplikasi Teknologi Bagi Mata Pelajaran RBT Tingkatan 3
Kajian ini dijalankan bagi menentukan kesahan terhadap Modul Pengajaran dan Pembelajaran Topik Aplikasi Teknologi bagi mata pelajaran Reka Bentuk dan Teknologi Tingkatan 3 daripada...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
Pengembangan Modul Deteksi Risiko Hipertensi Dalam Kehamilan
Pengembangan Modul Deteksi Risiko Hipertensi Dalam Kehamilan
The purpose of the module development research in pregnancy was to produce a learning media for hypertension risk detection modules, determine the level of module validity, test th...
Modul Laboratorium Observasi
Modul Laboratorium Observasi
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmatnya, modul laboratorium observasi ini bisa terselesaikan. Penyusunan modul ini bertujuan sebagai media mahasiswa...

