Javascript must be enabled to continue!
TRANSFORMASI NILAI SOSIAL-SPIRITUAL PENGHAYAT KEPERCAYAAN DALAM MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA DI INDONESIA
View through CrossRef
Abstrak
Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika sosial para pengikut Penghayat Kepercayaan dan mengungkap transformasi sosio-spiritual Paguyuban Cahya Sejati dalam mempromosikan harmoni di Cilacap. Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen, dan tinjauan literatur komprehensif. Temuan penelitian menunjukkan: 1) komunitas Penghayat Kepercayaan di Cilacap mengalami transformasi sosio-spiritual setelah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah, yang memberi mereka kebebasan lebih untuk mengembangkan organisasi mereka; 2) Paguyuban Cahya Sejati, sebagai bagian dari organisasi MLKI di Cilacap, mewujudkan moderasi keagamaan melalui dialog antar komunitas, pertunjukan seni budaya, dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat. Ajaran spiritual seperti memayu hayuning sasomo (berbuat baik kepada sesama), memayu hayuning bawono (peduli pada alam semesta), karakter sosial, bantuan saling menolong, dan kepatuhan terhadap regulasi negara mewakili praktik moderasi keagamaan yang berkelanjutan. Implikasi dari penelitian ini menyoroti peran penting pengakuan resmi dalam memfasilitasi perkembangan sosio-spiritual komunitas Penghayat Kepercayaan dan kontribusi positif mereka terhadap harmoni sosial. Studi ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana pengakuan formal mendukung komunitas-komunitas ini dalam menjaga moderasi keagamaan dan mempengaruhi harmoni sosial secara positif.
Abstract
This study aimed to explore the social dynamics of Penghayat Kepercayaan followers and elucidate the socio-spiritual transformation of Paguyuban Cahya Sejati in promoting harmony in Cilacap. Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observations, document analysis, and comprehensive literature reviews. The research findings show: 1) the Penghayat Kepercayaan community in Cilacap experienced a socio-spiritual transformation after receiving official recognition from the state, allowing them more freedom to develop their organization; 2) Paguyuban Cahya Sejati, as part of the MLKI organization in Cilacap, embodies religious moderation through inter-community dialogues, cultural art performances, and participation in community activities. Spiritual teachings such as memayu hayuning sasomo (doing good to others), memayu hayuning bawono (caring for the universe), social character, mutual assistance, and adherence to state regulations represent a sustainable practice of religious moderation. The implications of this research highlight the pivotal role of official recognition in fostering the socio-spiritual development of Penghayat Kepercayaan communities and their constructive contribution to social cohesion. This study enriches our understanding of how formal acknowledgment supports these communities in maintaining religious moderation and positively influencing societal harmony.
Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementrian Agama RI
Title: TRANSFORMASI NILAI SOSIAL-SPIRITUAL PENGHAYAT KEPERCAYAAN DALAM MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA DI INDONESIA
Description:
Abstrak
Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika sosial para pengikut Penghayat Kepercayaan dan mengungkap transformasi sosio-spiritual Paguyuban Cahya Sejati dalam mempromosikan harmoni di Cilacap.
Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen, dan tinjauan literatur komprehensif.
Temuan penelitian menunjukkan: 1) komunitas Penghayat Kepercayaan di Cilacap mengalami transformasi sosio-spiritual setelah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah, yang memberi mereka kebebasan lebih untuk mengembangkan organisasi mereka; 2) Paguyuban Cahya Sejati, sebagai bagian dari organisasi MLKI di Cilacap, mewujudkan moderasi keagamaan melalui dialog antar komunitas, pertunjukan seni budaya, dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat.
Ajaran spiritual seperti memayu hayuning sasomo (berbuat baik kepada sesama), memayu hayuning bawono (peduli pada alam semesta), karakter sosial, bantuan saling menolong, dan kepatuhan terhadap regulasi negara mewakili praktik moderasi keagamaan yang berkelanjutan.
Implikasi dari penelitian ini menyoroti peran penting pengakuan resmi dalam memfasilitasi perkembangan sosio-spiritual komunitas Penghayat Kepercayaan dan kontribusi positif mereka terhadap harmoni sosial.
Studi ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana pengakuan formal mendukung komunitas-komunitas ini dalam menjaga moderasi keagamaan dan mempengaruhi harmoni sosial secara positif.
Abstract
This study aimed to explore the social dynamics of Penghayat Kepercayaan followers and elucidate the socio-spiritual transformation of Paguyuban Cahya Sejati in promoting harmony in Cilacap.
Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observations, document analysis, and comprehensive literature reviews.
The research findings show: 1) the Penghayat Kepercayaan community in Cilacap experienced a socio-spiritual transformation after receiving official recognition from the state, allowing them more freedom to develop their organization; 2) Paguyuban Cahya Sejati, as part of the MLKI organization in Cilacap, embodies religious moderation through inter-community dialogues, cultural art performances, and participation in community activities.
Spiritual teachings such as memayu hayuning sasomo (doing good to others), memayu hayuning bawono (caring for the universe), social character, mutual assistance, and adherence to state regulations represent a sustainable practice of religious moderation.
The implications of this research highlight the pivotal role of official recognition in fostering the socio-spiritual development of Penghayat Kepercayaan communities and their constructive contribution to social cohesion.
This study enriches our understanding of how formal acknowledgment supports these communities in maintaining religious moderation and positively influencing societal harmony.
Related Results
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
Strategi Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Komunitas Penghayat Kepercayaan di Kabupaten Kulonprogo
Strategi Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Komunitas Penghayat Kepercayaan di Kabupaten Kulonprogo
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi pembangunan dalam pemberdayaan kelompok penghayat kepercayaan di Kulonprogo Yogyakarta. Teori, model dan konsep y...
Moderasi Beragama: Praksis Kerukunan Antar Umat Beragama
Moderasi Beragama: Praksis Kerukunan Antar Umat Beragama
The Indonesian state has religious pluralism, therefore an effort is needed to maintain inter-religious harmony. One of them is through religious moderation. The principle of relig...
Manajemen Pendidik Dalam Mengimplementasikan Nilai-nilai Moderasi Beragama
Manajemen Pendidik Dalam Mengimplementasikan Nilai-nilai Moderasi Beragama
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan pendidik di SMAN 1 Garut terkait penerapan nilai-nilai moderasi beragama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ada...
Budaya Moderasi Beragama Melalui Aktualisasi Pendidikan Islam Wasatiyyah: Rekoneksi dan Toleransi
Budaya Moderasi Beragama Melalui Aktualisasi Pendidikan Islam Wasatiyyah: Rekoneksi dan Toleransi
Banyak isu dan aksi yang mencerminkan perilaku terorisme, ekstremisme, radikalisme, intoleransi, paham takfiri (senang khawatir), dan klaim kebenaran sepihak, dan sebagainya. Hal i...
MODERASI BERAGAMA BERBASIS KELUARGA
MODERASI BERAGAMA BERBASIS KELUARGA
Penelitian ini memiliki tujuan yang sangat penting untuk memahami setiap keluarga dapat memiliki dinamika yang berbeda, tetapi peran-peran tersebut mencerminkan pentingnya keluarga...
FENOMENA INTOLERANSI BERAGAMA PADA LINGKUNGAN MAHASISWA INDONESIA
FENOMENA INTOLERANSI BERAGAMA PADA LINGKUNGAN MAHASISWA INDONESIA
Indonesai merupakan sebuah negara kepulauan yang masyarakatnya memiliki beraneka ragam budaya meliputi perbedaan budaya, agama, ras, bahasa, suku, tradisi, dan lain-lain...
PERAN MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) DALAM PROSES DERADIKALISASI DAN MODERASI DI KOTA SURAKARTA
PERAN MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) DALAM PROSES DERADIKALISASI DAN MODERASI DI KOTA SURAKARTA
Masyarakat Kota Surakarta sangat majemuk dan multikultur, sering terjadi Radikalisme di Kota Surakarta yang menimbulkan ketegangan dan konflik antar kelompok. Tujuan penelitian ini...

