Javascript must be enabled to continue!
KONSEP WASATHIYAH DALAM BERAGAMA PERSPEKTIF HADIS NABAWI
View through CrossRef
Wasathiyah Islam is Islam that is rahmatan lil 'alamin, not Islam such as the understanding of extremists who tend to put forward a hard attitude without compromise (ifrâth), or the understanding of liberal groups who often interpret religious teachings very loosely, freely, even almost leaving the line of religious truth. tafrîth). This article aims to explore the prophetic hadiths which are the basis for being moderate in Islam, both in aqidah, worship, and muamalah. This will result in a complete understanding of true religious moderation. This research is a qualitative research through literature study. The method used in the research is the thematic method, by collecting hadith and correlating it with the object of research. The results of the study indicate that there are several hadiths that prohibit Muslims from being extreme in religion, both in aqidah, worship, and muamalah with others. Sahih hadiths that exist invite to understand and practice religion must go through the path of balance and be in the middle way so that religion seems friendly, gentle and affectionate. The principle of moderation in religion (wasathiyah) described in the nabawi hadith is the principle of al-khairiyah (being the best), al-tawazun (balance), raf'u al-haraj (removing difficulties), al-'is (being fair), and al-tasamuh (tolerant). Islam wasathiyah adalah islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan Islam seperti pemahaman para ekstremis yang cenderung mengedepankan sikap keras tanpa kompromi (ifrâth), atau pemahaman kelompok liberalis yang sering menginterpretasikan ajaran agama dengan sangat longgar, bebas, bahkan nyaris meninggalkan garis kebenaran agama sekalipun (tafrîth). Artikel ini bertujuan untuk menggali hadits-hadits nabawi yang menjadi dasar untuk bersikap moderat dalam beragama Islam, baik dalam beraqidah, beribadah, dan bermuamalah. Sehingga akan menghasilkan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama yang sesungguhnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui studi pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode tematik, dengan cara pengumpulan hadis dan mengorelasikan dengan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa hadis yang melarang umat Islam untuk bersikap ekstrim dalam beragama baik dalam beraqidah, beribadah, dan bermuamalah dengan sesama. Hadits-hadits shahih yang ada mengajak untuk memahami dan mengamalkan agama harus melalui jalur keseimbangan dan berada di jalan tengah sehingga agama terkesan ramah, lembut dan kasih sayang. Prinsip moderasi dalam beragama (wasathiyah) yang diterangkan dalam hadis nabawi adalah prinsip al-khairiyah (menjadi yang terbaik), al-tawazun (keseimbangan), raf’u al-haraj (menghilangkan kesulitan), al-‘adalah (bersikap adil), dan al-tasamuh (toleran).
Universitas Muhammadiyah Surabaya
Title: KONSEP WASATHIYAH DALAM BERAGAMA PERSPEKTIF HADIS NABAWI
Description:
Wasathiyah Islam is Islam that is rahmatan lil 'alamin, not Islam such as the understanding of extremists who tend to put forward a hard attitude without compromise (ifrâth), or the understanding of liberal groups who often interpret religious teachings very loosely, freely, even almost leaving the line of religious truth.
tafrîth).
This article aims to explore the prophetic hadiths which are the basis for being moderate in Islam, both in aqidah, worship, and muamalah.
This will result in a complete understanding of true religious moderation.
This research is a qualitative research through literature study.
The method used in the research is the thematic method, by collecting hadith and correlating it with the object of research.
The results of the study indicate that there are several hadiths that prohibit Muslims from being extreme in religion, both in aqidah, worship, and muamalah with others.
Sahih hadiths that exist invite to understand and practice religion must go through the path of balance and be in the middle way so that religion seems friendly, gentle and affectionate.
The principle of moderation in religion (wasathiyah) described in the nabawi hadith is the principle of al-khairiyah (being the best), al-tawazun (balance), raf'u al-haraj (removing difficulties), al-'is (being fair), and al-tasamuh (tolerant).
Islam wasathiyah adalah islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan Islam seperti pemahaman para ekstremis yang cenderung mengedepankan sikap keras tanpa kompromi (ifrâth), atau pemahaman kelompok liberalis yang sering menginterpretasikan ajaran agama dengan sangat longgar, bebas, bahkan nyaris meninggalkan garis kebenaran agama sekalipun (tafrîth).
Artikel ini bertujuan untuk menggali hadits-hadits nabawi yang menjadi dasar untuk bersikap moderat dalam beragama Islam, baik dalam beraqidah, beribadah, dan bermuamalah.
Sehingga akan menghasilkan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama yang sesungguhnya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui studi pustaka.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode tematik, dengan cara pengumpulan hadis dan mengorelasikan dengan objek penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa hadis yang melarang umat Islam untuk bersikap ekstrim dalam beragama baik dalam beraqidah, beribadah, dan bermuamalah dengan sesama.
Hadits-hadits shahih yang ada mengajak untuk memahami dan mengamalkan agama harus melalui jalur keseimbangan dan berada di jalan tengah sehingga agama terkesan ramah, lembut dan kasih sayang.
Prinsip moderasi dalam beragama (wasathiyah) yang diterangkan dalam hadis nabawi adalah prinsip al-khairiyah (menjadi yang terbaik), al-tawazun (keseimbangan), raf’u al-haraj (menghilangkan kesulitan), al-‘adalah (bersikap adil), dan al-tasamuh (toleran).
Related Results
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Metode Penelitian Fiqh al-Hadis
Metode Penelitian Fiqh al-Hadis
Hadis Nabi dalam hierarki sumber hukum Islam berada pada kedudukan kedua selepas al-Quran. Hadis berfungsi untuk menjelaskan, menafsirkan apa yang terkandung dalam al-Qur...
PENGGUNAAN HADIS DALAM TAFSIR AL-MARAGHI
PENGGUNAAN HADIS DALAM TAFSIR AL-MARAGHI
"> Penafsiran Al-Quran telah berlangsung sejak zaman sahabat hingga zaman modern. Berbagai metodedan teori serta teknik penafsiran telah tumbuh berkembang. Seiring dengan mobili...
Peran Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari dalam Pengembangan Hadis di Indonesia
Peran Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari dalam Pengembangan Hadis di Indonesia
Sebagai negara yang penduduknya mayoritas Muslim, perkembangan hadis tentunya masuk ke Indonesia, menjadi menarik untuk dibahas karena sebagian besar penikmat ilmu hadis sendiri be...
PRINSIP DASAR WASATHIYAH DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
PRINSIP DASAR WASATHIYAH DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
The theme of wasathiyah (moderation) of Islam is a very important and interesting theme to be reviewed. Many parties, both individuals and institutions, have reviewed the theme bot...
HISTORITAS PERKEMBANGAN HADIS (DARI PERIODE KLASIK HINGGA KONTEMPORER)
HISTORITAS PERKEMBANGAN HADIS (DARI PERIODE KLASIK HINGGA KONTEMPORER)
ABSTRACT
The history of the study of hadith from time to time experienced a very significant development, initially the study of hadith from oral to oral developed into writing, t...
METODE DAN PENDEKATAN DALAM MENGATASI MUKHTALIF HADIS
METODE DAN PENDEKATAN DALAM MENGATASI MUKHTALIF HADIS
Hadis adalah sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-Quran. Hadis merangkum ajaran, tindakan, dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pedoman bagi umat Muslim dalam ...
IMPLEMENTASI WASATHIYAH MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI UMUM
IMPLEMENTASI WASATHIYAH MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI UMUM
Mahasiswa dalam perguruan tinggi umum memiliki latar belakang pendidikan agama yang tekstual sehingga akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal baru. Hal inilah yang mendasari begitu pen...

