Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

DYNAMICS OF INTERFAITH COMMUNICATION IN SEGREGATED COMMUNITIES

View through CrossRef
Abstract This study aimed to analyze interfaith communication between Muslims in Aoma and Christians in Ambesakoa, focusing on whether the in-group/out-group dichotomy acted as a barrier and identifying factors that fostered mindful communication. Employing a descriptive phenomenological approach, data were collected through semi-structured interviews and participant observation. Instruments included interview guides and field notes. Thematic analysis of the data revealed the following findings: Firstly, communication occurred nominally but with moderate intensity, shaped by long-term acquaintance and familial ties, and influenced by segregated living environments and individual busyness. Secondly, social interactions transcend primordial boundaries, avoiding stereotypes and prejudices, thereby promoting mindful communication. Thirdly, both communities fostered mindful interfaith communication driven by nationalism, shared family lines, and adherence to kalosara values. This study underscored the importance of inclusive education and cultural values in enhancing interfaith communication in segregated societies. It suggests that promoting deeper understanding and respect across religious divides can mitigate barriers created by in-group/out-group dynamics. By acknowledging and fostering these factors, societies can cultivate environments conducive to harmonious interfaith relations. This research contributes to the broader discourse on interfaith dialogue, highlighting practical strategies for promoting mutual respect and understanding in culturally diverse communities. Abstrak Studi ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi lintas agama antara Muslim di Aoma dan Kristen di Ambesakoa, dengan fokus pada apakah dikotomi dalam kelompok/luar kelompok bertindak sebagai penghalang dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong komunikasi yang penuh perhatian. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara semi-struktural dan observasi partisipan. Instrumen yang digunakan meliputi panduan wawancara dan catatan lapangan. Analisis tematik dari data mengungkapkan temuan sebagai berikut: Pertama, komunikasi terjadi secara nominal namun dengan intensitas moderat, dipengaruhi oleh kenalan jangka panjang dan ikatan keluarga, serta dipengaruhi oleh lingkungan hidup yang terpisah dan kesibukan individual. Kedua, interaksi sosial melampaui batas-batas primordial, menghindari stereotip dan prasangka, sehingga mendorong komunikasi yang penuh perhatian. Ketiga, kedua komunitas mempromosikan komunikasi lintas agama yang penuh perhatian didorong oleh nasionalisme, garis keturunan bersama, dan nilai-nilai kalosara. Studi ini menekankan pentingnya pendidikan inklusif dan nilai-nilai budaya dalam meningkatkan komunikasi lintas agama di masyarakat yang terpisah. Studi ini juga menyarankan bahwa mempromosikan pemahaman yang lebih dalam dan saling menghormati di antara perbedaan agama dapat mengurangi hambatan yang diciptakan oleh dinamika kelompok dalam/luar kelompok. Dengan mengakui dan mengembangkan faktor-faktor ini, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung hubungan lintas agama yang harmonis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus lebih luas mengenai dialog lintas agama, dengan menyoroti strategi praktis untuk mempromosikan saling menghormati dan pemahaman dalam komunitas yang beragam budaya.
Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementrian Agama RI
Title: DYNAMICS OF INTERFAITH COMMUNICATION IN SEGREGATED COMMUNITIES
Description:
Abstract This study aimed to analyze interfaith communication between Muslims in Aoma and Christians in Ambesakoa, focusing on whether the in-group/out-group dichotomy acted as a barrier and identifying factors that fostered mindful communication.
Employing a descriptive phenomenological approach, data were collected through semi-structured interviews and participant observation.
Instruments included interview guides and field notes.
Thematic analysis of the data revealed the following findings: Firstly, communication occurred nominally but with moderate intensity, shaped by long-term acquaintance and familial ties, and influenced by segregated living environments and individual busyness.
Secondly, social interactions transcend primordial boundaries, avoiding stereotypes and prejudices, thereby promoting mindful communication.
Thirdly, both communities fostered mindful interfaith communication driven by nationalism, shared family lines, and adherence to kalosara values.
This study underscored the importance of inclusive education and cultural values in enhancing interfaith communication in segregated societies.
It suggests that promoting deeper understanding and respect across religious divides can mitigate barriers created by in-group/out-group dynamics.
By acknowledging and fostering these factors, societies can cultivate environments conducive to harmonious interfaith relations.
This research contributes to the broader discourse on interfaith dialogue, highlighting practical strategies for promoting mutual respect and understanding in culturally diverse communities.
Abstrak Studi ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi lintas agama antara Muslim di Aoma dan Kristen di Ambesakoa, dengan fokus pada apakah dikotomi dalam kelompok/luar kelompok bertindak sebagai penghalang dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong komunikasi yang penuh perhatian.
Dengan menggunakan pendekatan deskriptif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara semi-struktural dan observasi partisipan.
Instrumen yang digunakan meliputi panduan wawancara dan catatan lapangan.
Analisis tematik dari data mengungkapkan temuan sebagai berikut: Pertama, komunikasi terjadi secara nominal namun dengan intensitas moderat, dipengaruhi oleh kenalan jangka panjang dan ikatan keluarga, serta dipengaruhi oleh lingkungan hidup yang terpisah dan kesibukan individual.
Kedua, interaksi sosial melampaui batas-batas primordial, menghindari stereotip dan prasangka, sehingga mendorong komunikasi yang penuh perhatian.
Ketiga, kedua komunitas mempromosikan komunikasi lintas agama yang penuh perhatian didorong oleh nasionalisme, garis keturunan bersama, dan nilai-nilai kalosara.
Studi ini menekankan pentingnya pendidikan inklusif dan nilai-nilai budaya dalam meningkatkan komunikasi lintas agama di masyarakat yang terpisah.
Studi ini juga menyarankan bahwa mempromosikan pemahaman yang lebih dalam dan saling menghormati di antara perbedaan agama dapat mengurangi hambatan yang diciptakan oleh dinamika kelompok dalam/luar kelompok.
Dengan mengakui dan mengembangkan faktor-faktor ini, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung hubungan lintas agama yang harmonis.
Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus lebih luas mengenai dialog lintas agama, dengan menyoroti strategi praktis untuk mempromosikan saling menghormati dan pemahaman dalam komunitas yang beragam budaya.

Related Results

The Impact of Interfaith Learning
The Impact of Interfaith Learning
In our rapidly evolving societies, interfaith learning is increasingly valued as a way to foster understanding and build relationships among people who orient around religion diffe...
GEOSPATIAL ASPECTS OF FINANCIAL CAPACITY OF TERRITORIAL COMMUNITIES OF TERNOPIL REGION
GEOSPATIAL ASPECTS OF FINANCIAL CAPACITY OF TERRITORIAL COMMUNITIES OF TERNOPIL REGION
In the article geospatial aspects of the financial capacity of territorial communities of Ternopil region are described. The need to conduct such a study has been updated, since no...
Pendampingan Pastoral bagi Pacaran Beda Agama di Gereja Beth-El Tabernakel Sei Menggaris Menurut 2 Korintus 6:14-18
Pendampingan Pastoral bagi Pacaran Beda Agama di Gereja Beth-El Tabernakel Sei Menggaris Menurut 2 Korintus 6:14-18
Interfaith dating is a phenomenon that cannot be avoided. Regardless of the pros and cons of the church on whether or not different religions are allowed to date. The church thinks...
Realitas Perkawinan Beda Agama Perspektif Keluarga Sakinah
Realitas Perkawinan Beda Agama Perspektif Keluarga Sakinah
This paper concentrates on a happy family in Interfaith Marriage. According to the majority ulama, marriage is a theological activity that couple interfaith marriage will not a hap...
Just a Cup of Tea? Jewish-Muslim Interfaith Activism and the Gendered Politics of Representation
Just a Cup of Tea? Jewish-Muslim Interfaith Activism and the Gendered Politics of Representation
During the past 15 years, there has been a rapid increase in interfaith initiatives in the United Kingdom. Even though the “interfaith industry,” as some have cynically called it, ...
Di Antara Iman dan Cinta: Eksplorasi Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Filsafat, Agama, dan Hukum
Di Antara Iman dan Cinta: Eksplorasi Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Filsafat, Agama, dan Hukum
This article explores the phenomenon of interfaith marriages in Indonesia from the perspectives of philosophy, religion and law, with the aim of providing a comprehensive understan...
HAMKA’s Interpretation on Interfaith Marriage: Its Relevance in Malaysia
HAMKA’s Interpretation on Interfaith Marriage: Its Relevance in Malaysia
The paper seeks to examine the relevance of HAMKA’s discourse on interfaith marriage in the context of present Malaysia. Interfaith marriage is one of the contributing factors to t...
Interfaith Marriage in Indonesia: Polemics and Perspectives of Religious Leaders and Community Organizations
Interfaith Marriage in Indonesia: Polemics and Perspectives of Religious Leaders and Community Organizations
Abstract The increasing number of interfaith marriages has recently sparked polemics in society. This study aims to investigate the polemics between the ulama (Muslim religious sch...

Back to Top