Javascript must be enabled to continue!
LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik)
View through CrossRef
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan perkembangan, struktur, dan nilai étnopédagogik lirik tembang Sunda Cigawiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, telaah pustaka, dan wawancara. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, pedoman inventaris, dan kartu data. Sumber data dalam penelitian ini adalah 14 lirik tembang yang diperoleh dari wawancara dan studi pustaka. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tembang Sunda Cigawiran mengalami perkembangan dan struktur puisi yang tentu. Perkembangan tembang Sunda Cigawiran berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman. Struktur lirik tembang Sunda Cigawiran mempunyai struktur fisik (imaji, simbol, musikalitas, dan gaya bahasa) serta struktur batin (tema, rasa, nada, dan amanat). Lirik tembang Sunda Cigawiran secara umum ditulis dalam bentuk pupuh, tapi tidak sepenuhnya memenuhi aturan pupuh yang digunakannya. Téma dari teks tembang Sunda Cigawiran pada umumnya berkaitan erat dengan keagamaan. Imaji yang paling banyak ditemukan dalam teks ini adalah imaji visual (penglihatan). Musikalitas/wirahma tembang Sunda Cigawiran mencakup pada bentuk pupuh, yang mempunyai guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Gaya bahasa umumnya merupakan bahasa yang umum, hiperbol, dan konotatif. Rasa yang paling banyak ditemukan menunjukkan rasa takut. Sedangkan amanat secara umum adalah memebrikan peringatan kepada manusia agar selamanya memohon perlindungan kepada Alloh swt. Dalam lirik tembang Sunda Cigawiran terkandung nilai etnopedagogik, yaitu Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), dan Moral Kemanusiaan (moral manusia kepada Tuhan, moral manusia kepada diri pribadi, moral manusia kepada manusia, moral manusia kepada alam, moral manusia kepada waktu, dan moral manusia dalam mencapai kepuasan lahir dan batin). ABSTRACTThe purpose of this study describes the development, structures, and etnopedagogic values of Cigawiran Sundanese song lyrics. The method used in this research is descriptive method, while the data is taken by observation technique, literature review, and interview. The instruments used are interview guides, inventory guides, and data cards. The data sources in this study are 14 songs lyrics obtained from the interviews and literature study. From the research results found that Cigawiran Sundanese song has developed and formed its structures of poetry. The development of Cigawiran Sundanese song changed from time to time along with the period. Cigawiran Sundanese song structure has the physical structures (images, symbols, musicalities, and language styles) and the inner structures (themes, tastes, tones, and messages). Cigawiran Sundanese song lyrics in generally are written in stanzas, but does not fully comply with the rules of the stanzas it used. The theme of the Cigawiran Sundanese song texts are generally closely related to religion. The most common images found in this text is the visual image (sight). Musicality of Cigawiran Sundanese song includes the stanza form, which has guru gatra, guru wilangan, and guru lagu. Language styles are generally a common language, hyperbole, and connotative. The most common sense shows fear. While the message in generally gives warning that people must always ask protection to Alloh SWT. In the Cigawiran Sundanese song lyrics contained etnopedagogic values. That are Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), and humanity moral (the moral of human to God, the moral of human to themself, the moral of human to other human being, the moral of human to nature, the moral of human to the time, and the moral of human in achieving physical and mental satisfaction).
Title: LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik)
Description:
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan perkembangan, struktur, dan nilai étnopédagogik lirik tembang Sunda Cigawiran.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, telaah pustaka, dan wawancara.
Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, pedoman inventaris, dan kartu data.
Sumber data dalam penelitian ini adalah 14 lirik tembang yang diperoleh dari wawancara dan studi pustaka.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tembang Sunda Cigawiran mengalami perkembangan dan struktur puisi yang tentu.
Perkembangan tembang Sunda Cigawiran berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman.
Struktur lirik tembang Sunda Cigawiran mempunyai struktur fisik (imaji, simbol, musikalitas, dan gaya bahasa) serta struktur batin (tema, rasa, nada, dan amanat).
Lirik tembang Sunda Cigawiran secara umum ditulis dalam bentuk pupuh, tapi tidak sepenuhnya memenuhi aturan pupuh yang digunakannya.
Téma dari teks tembang Sunda Cigawiran pada umumnya berkaitan erat dengan keagamaan.
Imaji yang paling banyak ditemukan dalam teks ini adalah imaji visual (penglihatan).
Musikalitas/wirahma tembang Sunda Cigawiran mencakup pada bentuk pupuh, yang mempunyai guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu.
Gaya bahasa umumnya merupakan bahasa yang umum, hiperbol, dan konotatif.
Rasa yang paling banyak ditemukan menunjukkan rasa takut.
Sedangkan amanat secara umum adalah memebrikan peringatan kepada manusia agar selamanya memohon perlindungan kepada Alloh swt.
Dalam lirik tembang Sunda Cigawiran terkandung nilai etnopedagogik, yaitu Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), dan Moral Kemanusiaan (moral manusia kepada Tuhan, moral manusia kepada diri pribadi, moral manusia kepada manusia, moral manusia kepada alam, moral manusia kepada waktu, dan moral manusia dalam mencapai kepuasan lahir dan batin).
ABSTRACTThe purpose of this study describes the development, structures, and etnopedagogic values of Cigawiran Sundanese song lyrics.
The method used in this research is descriptive method, while the data is taken by observation technique, literature review, and interview.
The instruments used are interview guides, inventory guides, and data cards.
The data sources in this study are 14 songs lyrics obtained from the interviews and literature study.
From the research results found that Cigawiran Sundanese song has developed and formed its structures of poetry.
The development of Cigawiran Sundanese song changed from time to time along with the period.
Cigawiran Sundanese song structure has the physical structures (images, symbols, musicalities, and language styles) and the inner structures (themes, tastes, tones, and messages).
Cigawiran Sundanese song lyrics in generally are written in stanzas, but does not fully comply with the rules of the stanzas it used.
The theme of the Cigawiran Sundanese song texts are generally closely related to religion.
The most common images found in this text is the visual image (sight).
Musicality of Cigawiran Sundanese song includes the stanza form, which has guru gatra, guru wilangan, and guru lagu.
Language styles are generally a common language, hyperbole, and connotative.
The most common sense shows fear.
While the message in generally gives warning that people must always ask protection to Alloh SWT.
In the Cigawiran Sundanese song lyrics contained etnopedagogic values.
That are Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), and humanity moral (the moral of human to God, the moral of human to themself, the moral of human to other human being, the moral of human to nature, the moral of human to the time, and the moral of human in achieving physical and mental satisfaction).
Related Results
Nilai dalam Tembang Cigawiran di Desa Cigawir Kabupaten Garut
Nilai dalam Tembang Cigawiran di Desa Cigawir Kabupaten Garut
This research aims to deepen the understanding of the values contained in the Cigawiran song in Cigawir Village, Garut Regency. By exploring the meaning of the lyrics, melody and t...
ANALISIS SUMBERDAYA IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) DI PERAIRAN SELAT SUNDA YANG DIDARATKAN DI PPP LABUAN, BANTEN (Analysis of Fringescale Sardinella (Sardinella fimbriata) Resources in Sunda Strait that Landed on PPP Labuan, Banten)
ANALISIS SUMBERDAYA IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) DI PERAIRAN SELAT SUNDA YANG DIDARATKAN DI PPP LABUAN, BANTEN (Analysis of Fringescale Sardinella (Sardinella fimbriata) Resources in Sunda Strait that Landed on PPP Labuan, Banten)
ABSTRACTFringescale sardinella (Sardinella fimbriata) is one of the economically important fish resources found in Sunda Strait waters. High economic value with the increasing dema...
Penggunaan Bahasa Sunda Pada Pembelajaran Bahasa Inggris
Penggunaan Bahasa Sunda Pada Pembelajaran Bahasa Inggris
ABSTRAK Bahasa Sunda merupakan bahasa pertama masyarakat Jawa Barat dan tidak sedikit orang yang menggunakan bahasa sunda diberbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam pendidikan...
ANALISIS IMPLIKATUR METAFORA DAN ALIRAN FEMINISME MULTIKULTURAL PADA LIRIK LAGU “NALA” CIPTAAN TULUS (ANALYSIS OF METAPHOR IMPLICATURE AND MULTICULTURAL FEMINISM FLOWS ON THE LYRICS OF THE SONG "NALA" CREATED BY TULUS)
ANALISIS IMPLIKATUR METAFORA DAN ALIRAN FEMINISME MULTIKULTURAL PADA LIRIK LAGU “NALA” CIPTAAN TULUS (ANALYSIS OF METAPHOR IMPLICATURE AND MULTICULTURAL FEMINISM FLOWS ON THE LYRICS OF THE SONG "NALA" CREATED BY TULUS)
AbstractAnalysis of Metaphor Implicature and Multicultural Feminism Flows on the Lyrics of the Song "Nala" Created by Tulus. The lyrics of the song entitled "Nala" by Tulus tell ab...
TEMBANG MACAPAT CENGKOK MERDI LAMBANG (MERSUDI LARAS LAGUNING TEMBANG)
TEMBANG MACAPAT CENGKOK MERDI LAMBANG (MERSUDI LARAS LAGUNING TEMBANG)
Macapat adalah salah satu karya sastra dalam bahasa daerah Jawa, Sunda, Bali dan Madura berbentuk puisi yang disusun menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu,...
Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran
Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran
AbstractThis paper is an analysis study on Dangdanggula Degung Song viewed with Antagonistic Dualism theory by Jakob Sumardjo. The song, textually, has a strong and dynamic charact...
Model Traffic Separation Scheme (TSS) Di Alur Laut Kepulauan Indonesia (AlKI) I Di Selat Sunda Dalam Mewujudkan Ketahanan Wilayah
Model Traffic Separation Scheme (TSS) Di Alur Laut Kepulauan Indonesia (AlKI) I Di Selat Sunda Dalam Mewujudkan Ketahanan Wilayah
ABSTRACT Maritime traffic increase consequently would make the intensity of the ASL surveillance respectively. Indonesia owned several vital and important straits for maritime traf...
PERBANDINGAN PERIBAHASA SUNDA DAN INDONESIA (Kajian Semantik Formal dan Etnopedagogik)
PERBANDINGAN PERIBAHASA SUNDA DAN INDONESIA (Kajian Semantik Formal dan Etnopedagogik)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan perbandingan peribahasa Sunda‐Indonesia secara semantik formal dan etnopedagogik dalam peribahasa yang memiliki makna ...


