Javascript must be enabled to continue!
Evaluasi data curah hujan terukur dan satelit PERSIANN-CCS dalam analisis debit banjir rancangan terhadap debit banjir terukur di DAS Tukad Petanu
View through CrossRef
Analisis debit banjir rancangan diperlukan dalam perencanaan bangunan air, terutama untuk mengetahui besarnya debit banjir rancangan di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Metode hidrograf satuan merupakan metode yang umum digunakan pada perhitungan debit banjir rancangan, dimana metode ini membutuhkan data curah hujan dalam analisisnya. Teknologi saat ini memungkinkan untuk menggunakan data satelit sebagai alternatif pengganti data dari stasiun penakar hujan yang sebarannya sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat kesesuaian dari pemanfaatan data hujan satelit dan terukur yang nantinya dijadikan solusi dalam memprediksi debit banjir rancangan. Data curah hujan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data curah hujan terukur dari stasiun penakar hujan dan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS. Hasil perhitungan dari kedua data tersebut selanjutnya akan divalidasi dengan debit banjir sungai yang tercatat di Stasiun Automatic Water Level Recorder (AWLR) Tukad Petanu Hulu dan dilihat tingkat kesesuaiannya. Penelitian ini memberikan hasil bahwa debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu yang dianalisis menggunakan HSS Nakayasu berdasarkan data curah hujan terukur untuk kala ulang 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun secara berturut-turut adalah sebesar 58.16 m3/detik, 67.99 m3/detik, 82.76 m3/detik, 95.88 m3/detik, dan 110.81 m3/detik, sedangkan berdasarkan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS untuk kala ulang yang sama masing-masing sebesar 93.00 m3/detik, 101.12 m3/detik, 109.42 m3/detik, 113.98 m3/detik, dan 117.65 m3/detik. Debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu berdasarkan data debit terukur di Stasiun AWLR Tukad Petanu Hulu secara berturut-turut sebesar 15.75 m3/detik, 24.94 m3/detik, 42.47 m3/detik, 61.28 m3/detik, dan 86.63 m3/detik untuk kala ulang yang sama. Debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu yang dianalisis dengan Metode HSS Nakayasu berdasarkan data curah hujan terukur memiliki tingkat kesesuaian yang lebih baik daripada data curah hujan satelit PERSIANN-CCS, dimana data curah hujan terukur memberikan nilai VE, RE, dan RMSE yang lebih rendah jika dibandingkan dengan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS.
Title: Evaluasi data curah hujan terukur dan satelit PERSIANN-CCS dalam analisis debit banjir rancangan terhadap debit banjir terukur di DAS Tukad Petanu
Description:
Analisis debit banjir rancangan diperlukan dalam perencanaan bangunan air, terutama untuk mengetahui besarnya debit banjir rancangan di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS).
Metode hidrograf satuan merupakan metode yang umum digunakan pada perhitungan debit banjir rancangan, dimana metode ini membutuhkan data curah hujan dalam analisisnya.
Teknologi saat ini memungkinkan untuk menggunakan data satelit sebagai alternatif pengganti data dari stasiun penakar hujan yang sebarannya sangat terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh tingkat kesesuaian dari pemanfaatan data hujan satelit dan terukur yang nantinya dijadikan solusi dalam memprediksi debit banjir rancangan.
Data curah hujan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan data curah hujan terukur dari stasiun penakar hujan dan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS.
Hasil perhitungan dari kedua data tersebut selanjutnya akan divalidasi dengan debit banjir sungai yang tercatat di Stasiun Automatic Water Level Recorder (AWLR) Tukad Petanu Hulu dan dilihat tingkat kesesuaiannya.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu yang dianalisis menggunakan HSS Nakayasu berdasarkan data curah hujan terukur untuk kala ulang 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun secara berturut-turut adalah sebesar 58.
16 m3/detik, 67.
99 m3/detik, 82.
76 m3/detik, 95.
88 m3/detik, dan 110.
81 m3/detik, sedangkan berdasarkan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS untuk kala ulang yang sama masing-masing sebesar 93.
00 m3/detik, 101.
12 m3/detik, 109.
42 m3/detik, 113.
98 m3/detik, dan 117.
65 m3/detik.
Debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu berdasarkan data debit terukur di Stasiun AWLR Tukad Petanu Hulu secara berturut-turut sebesar 15.
75 m3/detik, 24.
94 m3/detik, 42.
47 m3/detik, 61.
28 m3/detik, dan 86.
63 m3/detik untuk kala ulang yang sama.
Debit banjir rancangan di DAS Tukad Petanu yang dianalisis dengan Metode HSS Nakayasu berdasarkan data curah hujan terukur memiliki tingkat kesesuaian yang lebih baik daripada data curah hujan satelit PERSIANN-CCS, dimana data curah hujan terukur memberikan nilai VE, RE, dan RMSE yang lebih rendah jika dibandingkan dengan data curah hujan satelit PERSIANN-CCS.
Related Results
Rancang Bangun Penakar Hujan Dengan Peringatan Dini Hujan Lebat Menggunakan Tipping Bucket dan Mikrokontroler ESP32
Rancang Bangun Penakar Hujan Dengan Peringatan Dini Hujan Lebat Menggunakan Tipping Bucket dan Mikrokontroler ESP32
Indonesia merupakan negara yang memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan hujan. Salah satu parameter yang menjadi salah satu penyebab bencana alam ialah hujan Pengamatan curah h...
Analisis Debit Banjir Rancangan dengan Metode HSS Nakayasu, HSS ITB-1, dan HSS Limantara pada DAS Manikin di Kabupaten Kupang
Analisis Debit Banjir Rancangan dengan Metode HSS Nakayasu, HSS ITB-1, dan HSS Limantara pada DAS Manikin di Kabupaten Kupang
East Nusa Tenggara Province is a dry area where the rain season is relatively short and the rainfall intensity is low. This causes the production of food crops can not be maximized...
Peluang bencana banjir pada saat hujan lebat dan sangat lebat di kawasan Pantura Provinsi Jawa BaratPeluang Bencana Banjir Pada Saat Hujan Lebat dan Sangat Lebat di Kawasan Pantura Provinsi Jawa Barat
Peluang bencana banjir pada saat hujan lebat dan sangat lebat di kawasan Pantura Provinsi Jawa BaratPeluang Bencana Banjir Pada Saat Hujan Lebat dan Sangat Lebat di Kawasan Pantura Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat adalah salah satu daerah yang berpotensi terjadinya banjir. Hal ini disebabkan oleh karakteristik topografi dataran rendah dimana banyak terdapat anak sungai da...
Pengaruh Central Pacific dan eastern Pacific El Nino terhadap variabilitas curah hujan di Sulawesi
Pengaruh Central Pacific dan eastern Pacific El Nino terhadap variabilitas curah hujan di Sulawesi
Pulau Sulawesi dipengaruhi oleh fenomena Central Pacific (CP) dan Eastern Pacific (EP) El Niño. Curah hujan Sulawesi mencakup ketiga pola hujan yang ada di Indonesia yaitu Monsunal...
ANALISIS KAPASITAS SALURAN DRAINASE PERUMAHAN Z DI JAKARTA TIMUR
ANALISIS KAPASITAS SALURAN DRAINASE PERUMAHAN Z DI JAKARTA TIMUR
Flooding is a land event that is Arid areas (non-swamp) are generally inundated, this is caused by high rainfall and lowland conditions. One of the causes of flooding is rainfall. ...
ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN MENGGUNAKAN METODE HSS NAKAYASU PADA BENDUNGAN BENER KABUPARTEN PURWOREJO
ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN MENGGUNAKAN METODE HSS NAKAYASU PADA BENDUNGAN BENER KABUPARTEN PURWOREJO
Bendungan merupakan sebuah struktur atau bangunan yang memberikan banyak manfaat, salah satunya adalah sebagai pengendali banjir. Oleh karena itu, dalam perencanaan bendungan diper...
DESAIN JARINGAN DRAINASE DESA GANDANG BARAT KECAMATAN MALIKU KABUPATEN PULANG PISAU
DESAIN JARINGAN DRAINASE DESA GANDANG BARAT KECAMATAN MALIKU KABUPATEN PULANG PISAU
Daerah rawa di Indonesia mempunyai lahan seluas 39.424.500 hektar.Jumlah rawa Pasang surut di Kabupaten Pulang Pisau 9.063.000 hektar, di Kecamatan...
ANALISIS CURAH HUJAN PENYEBAB BANJIR BANDANG DI UJUNG BERUNG, BANDUNG
ANALISIS CURAH HUJAN PENYEBAB BANJIR BANDANG DI UJUNG BERUNG, BANDUNG
Banjir bandang di Ujungberung terjadi sebanyak 3 kali selama tahun 2019. Kejadian banjir ini terjadi pada sungai yang sama. Kejadian banjir tersebut disebabkan oleh hujan yang sang...

