Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Studi Kemampuan Adsorpsi Ion Logam Cr6+ oleh Tanah Vulkanik “Studi Kasus Wilayah Industri Penyamakan Kulit, Garut”

View through CrossRef
ABSTRACTThe leather tanning industry in Sukaregang, Garut Regency, produces liquid waste containing Chromium and is discharged directly into the Ciwalen River without a waste treatment process. The content of Cr6+ as metal ions in the waste can also contaminating groundwater. The movement of Cr6+ will pass through the soil media before entering to the groundwater wells. The capability of the soil to adsorb the contaminant will reduce the impact on groundwater. The purpose of this study was to determine the ability of the soil in adsorbing and inhibiting the movement of Cr6+ into groundwater. The study was carried out at Sukaregang, Garut Regency and conducting adsorption experiments with a batch system. The analysis was carried out using the Langmuir and Freundlich isotherm model. The experimental results showed that Cr6+ adsorbed ranged from 38% to 57% of the initial concentration. The results from Langmuir Isotherm were: the distribution coefficient (Kads) was 0.45 L/mg and the maximum adsorption capacity (qm) was 2.44 mg/100g sorbent with R2 = 0.959 and Freundlich Isotherm was: qm was 2,86 mg/100g sorbent and Kads was 0,35 L/mg with R2 = 0,860. This large adsorption capacity is caused by soil texture and soil organic content. The soil in Sukaregang tanning industries has a high adsorption capacity towards Cr6+ contaminants.Keywords: adsorption, chromium, Cr6+, contaminant, volcanic soil, GarutABSTRAKIndustri penyamakan kulit di wilayah Sukaregang, Kabupaten Garut, menghasilkan limbah cair yang mengandung Kromium dan dibuang ke Sungai Ciwalen tanpa proses pengolahan limbah. Kandungan ion logam Cr6+ pada limbah dapat mencemari air tanah. Pergerakan ion logam Cr6+ akan melalui media tanah sebelum memasuki sumur-sumur penduduk. Beberapa jenis tanah mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi ion pencemar sehingga tidak semua limbah yang meresap ke dalam tanah mencemari air tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan tanah dalam menghambat pergerakan ion logam Cr6+ ke dalam air tanah. Penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah di daerah Sukaregang, Garut, dan melakukan percobaan adsorpsi dengan sistem batch. Sementara analisis dilakukan dengan menggunakan model isotherm Langmuir dan Freundlich. Hasil percobaan menunjukkan konsentrasi Cr6+ yang teradsorpsi berkisar 38 – 57 % dari konsentrasi awal. Kads sebesar 0,45 L/mg dan qm sebesar 2,44 mg/100g tanah dengan nilai R2 = 0,959 menggunakan isoterm Langmuir dan isoterm Freundlich memberikan nilai qm sebesar 2,86 mg/100 g sorbent dan Kads sebesar 0,35 L/mg dengan R2 = 0,860. Tingginya daya adsorpsi ini disebabkan oleh tekstur tanah dan kandungan bahan organik. Tanah di wilayah penelitian memiliki daya adsorpsi yang besar terhadap kontaminan Cr6+.Kata kunci: adsorpsi, kromium, Cr6+, kontaminan, tanah vulkanik, Garut
Title: Studi Kemampuan Adsorpsi Ion Logam Cr6+ oleh Tanah Vulkanik “Studi Kasus Wilayah Industri Penyamakan Kulit, Garut”
Description:
ABSTRACTThe leather tanning industry in Sukaregang, Garut Regency, produces liquid waste containing Chromium and is discharged directly into the Ciwalen River without a waste treatment process.
The content of Cr6+ as metal ions in the waste can also contaminating groundwater.
The movement of Cr6+ will pass through the soil media before entering to the groundwater wells.
The capability of the soil to adsorb the contaminant will reduce the impact on groundwater.
The purpose of this study was to determine the ability of the soil in adsorbing and inhibiting the movement of Cr6+ into groundwater.
The study was carried out at Sukaregang, Garut Regency and conducting adsorption experiments with a batch system.
The analysis was carried out using the Langmuir and Freundlich isotherm model.
The experimental results showed that Cr6+ adsorbed ranged from 38% to 57% of the initial concentration.
The results from Langmuir Isotherm were: the distribution coefficient (Kads) was 0.
45 L/mg and the maximum adsorption capacity (qm) was 2.
44 mg/100g sorbent with R2 = 0.
959 and Freundlich Isotherm was: qm was 2,86 mg/100g sorbent and Kads was 0,35 L/mg with R2 = 0,860.
 This large adsorption capacity is caused by soil texture and soil organic content.
The soil in Sukaregang tanning industries has a high adsorption capacity towards Cr6+ contaminants.
Keywords: adsorption, chromium, Cr6+, contaminant, volcanic soil, GarutABSTRAKIndustri penyamakan kulit di wilayah Sukaregang, Kabupaten Garut, menghasilkan limbah cair yang mengandung Kromium dan dibuang ke Sungai Ciwalen tanpa proses pengolahan limbah.
Kandungan ion logam Cr6+ pada limbah dapat mencemari air tanah.
Pergerakan ion logam Cr6+ akan melalui media tanah sebelum memasuki sumur-sumur penduduk.
Beberapa jenis tanah mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi ion pencemar sehingga tidak semua limbah yang meresap ke dalam tanah mencemari air tanah.
 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan tanah dalam menghambat pergerakan ion logam Cr6+ ke dalam air tanah.
Penelitian dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah di daerah Sukaregang, Garut, dan melakukan percobaan adsorpsi dengan sistem batch.
Sementara analisis dilakukan dengan menggunakan model isotherm Langmuir dan Freundlich.
Hasil percobaan menunjukkan konsentrasi Cr6+ yang teradsorpsi berkisar 38 – 57 % dari konsentrasi awal.
 Kads sebesar 0,45 L/mg dan qm sebesar 2,44 mg/100g tanah dengan nilai R2 = 0,959 menggunakan isoterm Langmuir dan isoterm Freundlich memberikan nilai qm sebesar 2,86 mg/100 g sorbent dan Kads sebesar 0,35 L/mg dengan R2 = 0,860.
Tingginya daya adsorpsi ini disebabkan oleh tekstur tanah dan kandungan bahan organik.
 Tanah di wilayah penelitian memiliki daya adsorpsi yang besar terhadap kontaminan Cr6+.
Kata kunci: adsorpsi, kromium, Cr6+, kontaminan, tanah vulkanik, Garut.

Related Results

        Keberadaan logam Pb (II) dan Cr (VI) sangat berbahaya bagi lingkungan hingga menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan, terutama pada ekosistem perairan. Upaya untuk men...
Lead time merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah pada suatu proses produksi. Proses penyamakan kulit ...
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. ...
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM KADMIUM DALAM LARUTAN
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM KADMIUM DALAM LARUTAN
Kadmium (Cd) menjadi salah satu logam berat yang berbahaya di perairan dan bersifat toksik tinggi setelah merkuri. Sumber pencemar Cd terdapat pada limbah cair industri cat, indust...
Kapasitas Adsorpsi Arang Aktif dari Kulit Singkong terhadap Ion Logam Timbal
Kapasitas Adsorpsi Arang Aktif dari Kulit Singkong terhadap Ion Logam Timbal
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mensintesis karbon aktif dari limbah kulit singkong dan menentukan kapasitas adsorpsi maksimum karbon aktif hasil sintesis terhadap ion logam ...
Rancang Bangun Prototipe Alat Pengukuran Suhu Kerut Kulit Tersamak Analog
Rancang Bangun Prototipe Alat Pengukuran Suhu Kerut Kulit Tersamak Analog
Proses penyamakan kulit merupakan suatu proses konversi bahan organik yang mudah membusuk menjadi bahan stabil yang mampu menahan serangan biokimia Salah satu parameter penting dal...
Cekaman Logam Berat Cromium Terhadap Tanaman
Cekaman Logam Berat Cromium Terhadap Tanaman
Logam berat adalah unsur logam dengan berat/ massa atom tinggi. Dalam kajian lingkungan logam dikategorikan menjadi logam berat jika memilki berat jenis lebih besar dari 5 g/ml. Se...
ANALISIS GEOGRAFIS KONSENTRASI INDUSTRI KULIT DI KABUPATEN GARUT
ANALISIS GEOGRAFIS KONSENTRASI INDUSTRI KULIT DI KABUPATEN GARUT
Persebaran industri termasuk ke dalam proses yang selektif, dimana ada faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membentuk suatu pola persebaran industri. Secara geografis, ke...

Back to Top