Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PENGARUH KEPADATAN UDANG WINDU YANG BERBEDA PADA KONSEP IMTA (INTEGRATED MULTITROPHIC AQUACULTURE) TERHADAP RASIO C/N DALAM MEDIA AIR BUDIDAYA

View through CrossRef
    Budidaya udang windu dengan sistem IMTA yaitu mengkombinasikan dua atau tiga komoditas budidaya, dimana limbah nutrisi/pakan dari hewan tingkat tinggi dikonsumsi oleh hewan tingkat rendah. Budidaya sistem IMTA saat ini belum banyak diketahui nilai C/N dalam memenuhi persyaratan yang optimal. Bakteri heterotrof di perairan akan tumbuh dengan baik apabila rasio C/N bernilai 10 atau lebih. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis rasio C/N dalam air pada budidaya dengan sistem IMTA (Integrated Multitrophic Aquaculture). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan udang windu terhadap rasio C/N dalam air dan mengetahui kepadatan udang windu yang optimal untuk menghasilkan rasio C/N pada lingkungan budidaya. Udang windu dengan stadia PL-30 (0.092±0,84 cm) dibudidayakan pada sistem IMTA dengan menggunakan ikan nila dengan kepadatan 20 ekor/m3 (0.69±0,3 cm), rumput laut dengan kepadatan 100 g/m2 dan kerang hijau dengan kepadatan 90 g/m2 (3,32±0,79 cm). Pakan udang windu yang digunakan memiliki kandungan  protein 40% dengan metode pemberian pakan secara fix feeding rate. Pakan ikan nila yang digunakan memiliki kandungan  protein 30% dengan metode pemberian pakan yang diberikan secara ad satiation. Wadah yang digunakan adalah menggunakan bak fiber dengan ukuran panjang 1 m2dan lebar 1 m2dan kedalaman air 0,7 m2. Media yang digunakan untuk membuat sebuah ekosistem yang menyerupai ekosistem tambak ditambahkan substrat berupa pasir berlumpur. Substrat berupa lumpur berpasir mengacu pada penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan. Kepadatan yang digunakan yaitu perlakuan A (tanpa udang), B (60), C (80), dan D (100). Data yang diamati adalah rasio C/N, laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan udang windu yang berbeda pada sistem IMTA berpengaruh (P<0,05) terhadap kelulushidupan tetapi tidak berpengaruh terhadap rasio C/N dan laju pertumbuhan spesifik. Perlakuan kepadatan udang windu 60, 80 dan 100 ekor mempunyai hasil rasio C/N yang baik dalam persyaratan rasio C/N air.Kata Kunci : IMTA, Kepadatan, Rasio C/N, Udang windu.
Institute of Research and Community Services Diponegoro University (LPPM UNDIP)
Title: PENGARUH KEPADATAN UDANG WINDU YANG BERBEDA PADA KONSEP IMTA (INTEGRATED MULTITROPHIC AQUACULTURE) TERHADAP RASIO C/N DALAM MEDIA AIR BUDIDAYA
Description:
    Budidaya udang windu dengan sistem IMTA yaitu mengkombinasikan dua atau tiga komoditas budidaya, dimana limbah nutrisi/pakan dari hewan tingkat tinggi dikonsumsi oleh hewan tingkat rendah.
Budidaya sistem IMTA saat ini belum banyak diketahui nilai C/N dalam memenuhi persyaratan yang optimal.
Bakteri heterotrof di perairan akan tumbuh dengan baik apabila rasio C/N bernilai 10 atau lebih.
Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis rasio C/N dalam air pada budidaya dengan sistem IMTA (Integrated Multitrophic Aquaculture).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan udang windu terhadap rasio C/N dalam air dan mengetahui kepadatan udang windu yang optimal untuk menghasilkan rasio C/N pada lingkungan budidaya.
Udang windu dengan stadia PL-30 (0.
092±0,84 cm) dibudidayakan pada sistem IMTA dengan menggunakan ikan nila dengan kepadatan 20 ekor/m3 (0.
69±0,3 cm), rumput laut dengan kepadatan 100 g/m2 dan kerang hijau dengan kepadatan 90 g/m2 (3,32±0,79 cm).
Pakan udang windu yang digunakan memiliki kandungan  protein 40% dengan metode pemberian pakan secara fix feeding rate.
Pakan ikan nila yang digunakan memiliki kandungan  protein 30% dengan metode pemberian pakan yang diberikan secara ad satiation.
Wadah yang digunakan adalah menggunakan bak fiber dengan ukuran panjang 1 m2dan lebar 1 m2dan kedalaman air 0,7 m2.
Media yang digunakan untuk membuat sebuah ekosistem yang menyerupai ekosistem tambak ditambahkan substrat berupa pasir berlumpur.
Substrat berupa lumpur berpasir mengacu pada penelitian.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan.
Kepadatan yang digunakan yaitu perlakuan A (tanpa udang), B (60), C (80), dan D (100).
Data yang diamati adalah rasio C/N, laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan udang windu yang berbeda pada sistem IMTA berpengaruh (P<0,05) terhadap kelulushidupan tetapi tidak berpengaruh terhadap rasio C/N dan laju pertumbuhan spesifik.
Perlakuan kepadatan udang windu 60, 80 dan 100 ekor mempunyai hasil rasio C/N yang baik dalam persyaratan rasio C/N air.
Kata Kunci : IMTA, Kepadatan, Rasio C/N, Udang windu.

Related Results

PERFORMA BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) PADA MUSIM KEMARAU DI TAMBAK KECAMATAN MARUSU KABUPATEN MAROS
PERFORMA BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) PADA MUSIM KEMARAU DI TAMBAK KECAMATAN MARUSU KABUPATEN MAROS
Salah satu program dari Gubernur Sulawesi Selatan periode 2018-2023 adalah mengembalikan kejayaan udang windu di Sulawesi Selatan. Telah dilakukan kegiatan yang bertujuan mengetahu...
Optimising Integrated Multitrophic Aquaculture (IMTA) on a South African abalone farm
Optimising Integrated Multitrophic Aquaculture (IMTA) on a South African abalone farm
The efficiency of fed nutrient utilisation in integrated multitrophic aquaculture (IMTA) system was evaluated on a South African abalone farm. On many commercial abalone farms in S...
“Memproduksi” Manusia lewat Psikologi
“Memproduksi” Manusia lewat Psikologi
Saat membicarakan mengenai tegangan politik antara Red Shirts dengan Yellow Shirts di Thailand, Benedict Anderson (2016) – seorang ahli Kajian Asia Tenggara – menuliskan bahwa seor...
Teknologi RNAi dan Transgenesis terhadap Pengembangan Induk dan Benih Unggul Udang Windu (Penaeus monodon)
Teknologi RNAi dan Transgenesis terhadap Pengembangan Induk dan Benih Unggul Udang Windu (Penaeus monodon)
Udang windu (Penaeus monodon) adalah spesies asli Indonesia dan komoditas perikanan utama yang berkontribusi pada devisa negara. Udang windu memiliki potensi besar di Indonesia kar...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...

Back to Top