Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KONFLIK KEBIJAKAN PENGGUNAAN SISTEM BAHASA ISYARAT INDONESIA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN FORMAL

View through CrossRef
<p><em>This study aims to analyze and describe the issues, the particular parties involved and the sources of conflict in determining the policy of using SIBI in formal education. This research employs qualitative research method with descriptive research approach focusing on the conflict due to the policy of using SIBI in formal education. Informant in this research are 6 deaf peoplewho have meet specified informant criteria. The data iscollected through observation, interview and documentation. The researcher gained the information through in-depth interviews with the informants, and reinforced by documentation and literature study. The result of the study indicates that conflicts occur due to government policies regarding the establishment of SIBI languages in formal education which lateris recognized as general sign language for deaf people in Indonesia. Consequently there is a conflict between deaf community and government because SIBI, which has been officially recognized by the government, has not got the agreement and did not involve the Movement for the Welfare of the Indonesian Deaf (GERKATIN) in the deliberation process. It is necessarythat the government, in determining the policies related to the community, should involverelated parties, in this case is GERKATIN. Therefore,after the enactment of a policy, it becomes easier and beneficial for GERKATIN.</em></p><p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> <strong>Sign Language, Conflict, Formal Education.</strong></em></p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan masalah-masalah yang menjadi konflik, para aktor yang terlibat dan sumber-sumber konflik dalam penetapan kebijakan penggunaan SIBI di lingkungan pendidikan formal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif yang berfokus pada konfik akibat adanya kebijakan penggunaan SIBI di lingkungan pendidikan formal. Informan dalam penelitian ini adalah penyandang tuna rungu yang berjumlah 6 orang dan telah memenuhi kriteria informan yang ditentukan. Cara pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini, penulis dapatkan dari wawancara mendalam dengan para informan, serta diperkuat dengan studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan konflik terjadi karena kebijakan pemerintah terkait penetapan bahasa SIBI di lingkungan formal yang diakui sebagai bahasa isyarat bagi penyandang tuna rungu di Indonesia. Akibatnya terjadi konflik antara penyandang tuna rungu dan pemerintah karena SIBI yang secara resmi telah diakui oleh pemerintah tidak melewati persetujuan dan tidak melibatkan Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) dalam proses musyawarah. Direkomendasikan kepada pemerintah, dalam penetapan kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat sebaiknya dimusyawahkan kepada pihak terkait (GERKATIN), sehingga setelah ditetapkannya suatu kebijakan menjadi memudahkan dan menguntungkan bagi GERKATIN.</p><p><strong>Kata Kunci: Bahasa Isyarat, Konflik, Pendidikan Formal</strong>.</p>
Title: KONFLIK KEBIJAKAN PENGGUNAAN SISTEM BAHASA ISYARAT INDONESIA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN FORMAL
Description:
<p><em>This study aims to analyze and describe the issues, the particular parties involved and the sources of conflict in determining the policy of using SIBI in formal education.
This research employs qualitative research method with descriptive research approach focusing on the conflict due to the policy of using SIBI in formal education.
Informant in this research are 6 deaf peoplewho have meet specified informant criteria.
The data iscollected through observation, interview and documentation.
The researcher gained the information through in-depth interviews with the informants, and reinforced by documentation and literature study.
The result of the study indicates that conflicts occur due to government policies regarding the establishment of SIBI languages in formal education which lateris recognized as general sign language for deaf people in Indonesia.
Consequently there is a conflict between deaf community and government because SIBI, which has been officially recognized by the government, has not got the agreement and did not involve the Movement for the Welfare of the Indonesian Deaf (GERKATIN) in the deliberation process.
It is necessarythat the government, in determining the policies related to the community, should involverelated parties, in this case is GERKATIN.
Therefore,after the enactment of a policy, it becomes easier and beneficial for GERKATIN.
</em></p><p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> <strong>Sign Language, Conflict, Formal Education.
</strong></em></p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan masalah-masalah yang menjadi konflik, para aktor yang terlibat dan sumber-sumber konflik dalam penetapan kebijakan penggunaan SIBI di lingkungan pendidikan formal.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif yang berfokus pada konfik akibat adanya kebijakan penggunaan SIBI di lingkungan pendidikan formal.
Informan dalam penelitian ini adalah penyandang tuna rungu yang berjumlah 6 orang dan telah memenuhi kriteria informan yang ditentukan.
Cara pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.
Sumber data dalam penelitian ini, penulis dapatkan dari wawancara mendalam dengan para informan, serta diperkuat dengan studi dokumentasi dan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan konflik terjadi karena kebijakan pemerintah terkait penetapan bahasa SIBI di lingkungan formal yang diakui sebagai bahasa isyarat bagi penyandang tuna rungu di Indonesia.
Akibatnya terjadi konflik antara penyandang tuna rungu dan pemerintah karena SIBI yang secara resmi telah diakui oleh pemerintah tidak melewati persetujuan dan tidak melibatkan Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) dalam proses musyawarah.
Direkomendasikan kepada pemerintah, dalam penetapan kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat sebaiknya dimusyawahkan kepada pihak terkait (GERKATIN), sehingga setelah ditetapkannya suatu kebijakan menjadi memudahkan dan menguntungkan bagi GERKATIN.
</p><p><strong>Kata Kunci: Bahasa Isyarat, Konflik, Pendidikan Formal</strong>.
</p>.

Related Results

RAGAM BAHASA ISYARAT DAERAH DAN KOMUNITAS SEBAGAI AKAR BAHASA ISYARAT INDONESIA : BUKTI KEBINEKAAN BAHASA INDONESIA
RAGAM BAHASA ISYARAT DAERAH DAN KOMUNITAS SEBAGAI AKAR BAHASA ISYARAT INDONESIA : BUKTI KEBINEKAAN BAHASA INDONESIA
Bahasa adalah alat komunikasi manusia yang satu dengan manusia yang lainnya berupa bunyi,tanda dan simbol yang diucapkan, dituliskan, dan diperagakan. Bahasa Indonesia tidak hanyam...
SISTEM PENGENALAN HURUF BAHASA ISYARAT MENGGUNAKAN ADAPTIVE LEARNING VECTOR QUANTIZATION
SISTEM PENGENALAN HURUF BAHASA ISYARAT MENGGUNAKAN ADAPTIVE LEARNING VECTOR QUANTIZATION
Para tuna rungu dan tuna wicara menggunakan komunikasi non verbal dalam berkomunikasi. Komunikasi ini menggunakan bahasa isyarat baik berupa gerakan isyarat tangan, isyarat tubuh d...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
APLIKASI BAHASA ISYARAT SEDERHANA BERBASIS ANDROID
APLIKASI BAHASA ISYARAT SEDERHANA BERBASIS ANDROID
ABSTRAK-Bahasa isyarat merupakan penghubung untuk berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari seperti Di kampus Politeknik Gorontalo, sekarang ini masih menggunakan ...
Identifikasi Alfabet Bahasa Isyarat Indonesia dengan Menggunakan Convolutional LSTM
Identifikasi Alfabet Bahasa Isyarat Indonesia dengan Menggunakan Convolutional LSTM
Bagi orang dengan gangguan pendengaran, bahasa isyarat Indonesia sangat penting dikarenakan mereka dapat berkomunikasi dengan menggunakan isyarat tangan yang menunjukkan arti terte...
ILUSTRASI TENTANG PEMBELAJARAN BAHASA ISYARAT DASAR DALAM BENTUK ANIMASI
ILUSTRASI TENTANG PEMBELAJARAN BAHASA ISYARAT DASAR DALAM BENTUK ANIMASI
Bahasa isyarat luas dikenal sebagai sebuah bahasa yang lekat pada komunitas berkebutuhan khusus, sehingga tidak banyak yang mengetahui bahwa bahasa isyarat itu boleh untuk dipelaja...
Sistem Pengajaran Bahasa di Indonesia dan Problem Bahasa Arab Secara Aktif
Sistem Pengajaran Bahasa di Indonesia dan Problem Bahasa Arab Secara Aktif
Bahasa Arab telah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1973. Kemudian mulai tahun 1979 kedudukan bahasa Arab disejajarkan deng...
Merdeka Belajar dengan Pendidikan Resolusi Konflik di Sekolah Dasar
Merdeka Belajar dengan Pendidikan Resolusi Konflik di Sekolah Dasar
Abstrak Terdapat tiga hal yang menjadi pembahasan utama dari tulisan ini yakni 1) konflik dan kehidupan manusia, 2) pandangan tentang pendidikan resolusi konflik, 3)  pendidikan r...

Back to Top