Javascript must be enabled to continue!
Rekonstruksi Makna Cinta Dalam Tradisi Sufistik: Pendekatan Semantik Terhadap Teks dan Konteks
View through CrossRef
Cinta (al-ḥubb) dalam tradisi tasawuf yang sering mengalami reduksi dalam pembacaan modern menjadi sekadar emosi atau simbol romantik. Padahal, dalam khazanah sufistik, cinta memiliki dimensi yang lebih luas, mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis. Oleh karena itu, diperlukan upaya rekonstruksi makna cinta yang tidak hanya bertumpu pada analisis leksikal, tetapi juga mempertimbangkan konteks historis dan kultural dari teks-teks sufistik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merekonstruksi makna cinta dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan semantik yang integratif antara teks dan konteks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan semantik dan analisis teks (textual analysis). Sumber data utama berupa teks-teks klasik sufistik seperti Fuṣūṣ al-Ḥikam, Mathnawi, dan Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Teknik analisis dilakukan melalui identifikasi istilah kunci yang berkaitan dengan konsep cinta, kemudian dianalisis relasi maknanya dalam konteks tekstual dan historis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna cinta dalam tasawuf mengalami transformasi dari dimensi emosional menuju dimensi ontologis sebagai prinsip kosmik yang mendasari keberadaan. Selain itu, cinta juga berfungsi sebagai jalan spiritual yang terstruktur dalam maqāmāt dan aḥwāl, serta memiliki keterkaitan erat dengan konsep ma‘rifah dan fanā’. Analisis kontekstual mengungkap adanya perbedaan ekspresi cinta antara tradisi Arab yang cenderung normatif dan Persia yang lebih simbolik dan puitis. Rekonstruksi makna menunjukkan bahwa cinta dalam tasawuf dapat dipahami sebagai energi ontologis, epistemologi spiritual, dan etika transformatif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa cinta dalam tradisi sufistik bukan sekadar emosi, melainkan struktur makna yang kompleks dan multidimensional yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis secara simultan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan studi tasawuf melalui integrasi pendekatan semantik dan analisis kontekstual, serta membuka peluang bagi kajian lanjutan yang lebih interdisipliner dalam memahami konsep cinta dalam Islam.
Title: Rekonstruksi Makna Cinta Dalam Tradisi Sufistik: Pendekatan Semantik Terhadap Teks dan Konteks
Description:
Cinta (al-ḥubb) dalam tradisi tasawuf yang sering mengalami reduksi dalam pembacaan modern menjadi sekadar emosi atau simbol romantik.
Padahal, dalam khazanah sufistik, cinta memiliki dimensi yang lebih luas, mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis.
Oleh karena itu, diperlukan upaya rekonstruksi makna cinta yang tidak hanya bertumpu pada analisis leksikal, tetapi juga mempertimbangkan konteks historis dan kultural dari teks-teks sufistik klasik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merekonstruksi makna cinta dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan semantik yang integratif antara teks dan konteks.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan semantik dan analisis teks (textual analysis).
Sumber data utama berupa teks-teks klasik sufistik seperti Fuṣūṣ al-Ḥikam, Mathnawi, dan Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn.
Teknik analisis dilakukan melalui identifikasi istilah kunci yang berkaitan dengan konsep cinta, kemudian dianalisis relasi maknanya dalam konteks tekstual dan historis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna cinta dalam tasawuf mengalami transformasi dari dimensi emosional menuju dimensi ontologis sebagai prinsip kosmik yang mendasari keberadaan.
Selain itu, cinta juga berfungsi sebagai jalan spiritual yang terstruktur dalam maqāmāt dan aḥwāl, serta memiliki keterkaitan erat dengan konsep ma‘rifah dan fanā’.
Analisis kontekstual mengungkap adanya perbedaan ekspresi cinta antara tradisi Arab yang cenderung normatif dan Persia yang lebih simbolik dan puitis.
Rekonstruksi makna menunjukkan bahwa cinta dalam tasawuf dapat dipahami sebagai energi ontologis, epistemologi spiritual, dan etika transformatif.
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa cinta dalam tradisi sufistik bukan sekadar emosi, melainkan struktur makna yang kompleks dan multidimensional yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis secara simultan.
Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan studi tasawuf melalui integrasi pendekatan semantik dan analisis kontekstual, serta membuka peluang bagi kajian lanjutan yang lebih interdisipliner dalam memahami konsep cinta dalam Islam.
Related Results
Metafora cinta dalam bahasa Batak Toba
Metafora cinta dalam bahasa Batak Toba
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategorisasi metafora konseptual cinta dalam bahasa Batak Toba. Data yang digunakan adalah data tulis dan data lisan. Data tulis dipe...
Analisis Wacana Surat Filemon
Analisis Wacana Surat Filemon
Perkembangan studi linguistik di dalam penafsiran teks kitab suci memang masih lambat dan dalam tahap perkembangan. Tulisan ini adalah suatu penelitian untuk mengembangkan studi li...
Konstelasi Makna Mahabbah dan Raghiba dalam Al-Quran: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu
Konstelasi Makna Mahabbah dan Raghiba dalam Al-Quran: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu
Kosa kata dalam Al-Quran memiliki peran penting dalam menentukan standar pandangan dunia terhadap pemaknaan teks suci tersebut. Studi semantik, sebagaimana dirumuskan oleh Toshihik...
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Rokhmawan,Tristan. 2011. Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas...
ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA CINTA PADA LIRIK LAGU “TAK SEKEDAR CINTA” KARYA DNANDA
ANALISIS SEMIOTIKA MAKNA CINTA PADA LIRIK LAGU “TAK SEKEDAR CINTA” KARYA DNANDA
This study examines the meaning of love in the lyrics of Dnanda's song "Tak Sekedar Cinta" by using Roland Barthes' semiotic theory. In this semiotic analysis, Roland Barthes exami...
Mistisisme Sastra Lisan: Kearifan Lingkungan dalam Tradisi Cepetan Alas
Mistisisme Sastra Lisan: Kearifan Lingkungan dalam Tradisi Cepetan Alas
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tradisi kebudayaan sebagai aktivitas dan proses berpikir, bertindak dan bersikap secara arif dan bijaksana dalam mengamati, memanfaatkan dan m...
Ragam Corak Tafsir: Tafsir Sufi
Ragam Corak Tafsir: Tafsir Sufi
Karya-karya tafsir al-Qur’ân bercorak sufistik seperti halnya tasawuf sebagai disiplin ilmu, mendapat label plus-minus dari para pengkaji. Imam al-Thusiy mengomentari penafsiran s...

