Javascript must be enabled to continue!
Karakteristik bahasa suluk dan janturan dalam pagelaran wayang purwa Jawa Timuran lakon Resa Saputra oleh Ki Dalang Bambang Sugia
View through CrossRef
Pagelaran wayang menjadi salah satu hal yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat Jawa. Setiap pagelaran wayang digelar selalu menggunakan gaya bahasa yang memiliki karakteristik tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengaji karakteristik bahasa suluk dan janturan Ki Bambang Sugia ditinjau dari aspek sosiopragmatiknya, sebab aspek bahasa sebagai media ekspresi seninya begitu variatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa tuturan dalang yang berupa kata-kata, frasa, dan kalimat. Sumber data penelitian ini berupa rekaman pertunjukan wayang purwa oleh Ki Bambang Sugia. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat. Berdasarkan hasil analisis data penelitian dihasilkan simpulan sebagai berikut: Bentuk Register bahasa suluk dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia terbagi menjadi 6 (enam) bagian. Bentuk register pada bahasa janturan terbagi menjadi 3 (tiga). Bentuk dan fungsi diksi/ungkapan dalam bahasa suluk dan janturan dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia yaitu berupa kata denotasi, konotasi, kata khusus, kata umum, kata konkret, dan kata abstrak. Makna implikatur dalam bahasa suluk dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia di antaranya yaitu informasi, sindiran, perintah, ajakan, dan permohonan. Sedangkan bahasa janturan memiliki empat makna implikatur, di antaranya informasi, sindiran, protes, dan apresiasi.
Universitas Muhammadiyah Malang
Title: Karakteristik bahasa suluk dan janturan dalam pagelaran wayang purwa Jawa Timuran lakon Resa Saputra oleh Ki Dalang Bambang Sugia
Description:
Pagelaran wayang menjadi salah satu hal yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat Jawa.
Setiap pagelaran wayang digelar selalu menggunakan gaya bahasa yang memiliki karakteristik tersendiri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengaji karakteristik bahasa suluk dan janturan Ki Bambang Sugia ditinjau dari aspek sosiopragmatiknya, sebab aspek bahasa sebagai media ekspresi seninya begitu variatif.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.
Data penelitian ini berupa tuturan dalang yang berupa kata-kata, frasa, dan kalimat.
Sumber data penelitian ini berupa rekaman pertunjukan wayang purwa oleh Ki Bambang Sugia.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat.
Berdasarkan hasil analisis data penelitian dihasilkan simpulan sebagai berikut: Bentuk Register bahasa suluk dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia terbagi menjadi 6 (enam) bagian.
Bentuk register pada bahasa janturan terbagi menjadi 3 (tiga).
Bentuk dan fungsi diksi/ungkapan dalam bahasa suluk dan janturan dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia yaitu berupa kata denotasi, konotasi, kata khusus, kata umum, kata konkret, dan kata abstrak.
Makna implikatur dalam bahasa suluk dalam pertunjukan wayang purwa lakon Resa Saputra oleh Ki Bambang Sugia di antaranya yaitu informasi, sindiran, perintah, ajakan, dan permohonan.
Sedangkan bahasa janturan memiliki empat makna implikatur, di antaranya informasi, sindiran, protes, dan apresiasi.
Related Results
Struktur Janturan Wayang Kulit Purwa Yogyakarta
Struktur Janturan Wayang Kulit Purwa Yogyakarta
The purpose of this study was to find the structure janturan of the Yogyakarta shadow puppet. A further goal of this research is to find a method for learning puppetry language, es...
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
Retorika I Dewa Made Rai Mesi dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Lakon Irawan Rabi
Retorika I Dewa Made Rai Mesi dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Lakon Irawan Rabi
Rai Mesi is an interesting phenomenon in the world of puppetry in Bali because its presence offers a different color and is able to revive the wayang kulit purwa. It is also what m...
TINJAUAN INTRINSIK DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM DAN EDAN KARYA PUTU WIJAYA (INTRINSIC REVIEW OF BILA MALAM BERTAMBAH MALAM AND EDAN DRAMA BY PUTU WIJAYA)
TINJAUAN INTRINSIK DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM DAN EDAN KARYA PUTU WIJAYA (INTRINSIC REVIEW OF BILA MALAM BERTAMBAH MALAM AND EDAN DRAMA BY PUTU WIJAYA)
Tinjauan Intrinsik Drama Bila Malam Bertambah Malam dan Edan karya Putu Wijaya.Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pembaharuan yang dilakukan Putu Wijaya dalam menulislakon dra...
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Masyarakat Jawa sejak dulu sampai sekarang, merasa diri bagian dari sistem dunia, hingga merasa wajib memayu hayuning bawana dalam bidang apapun termasuk budaya seni wayang, agar d...
Lakon Carangan Nurkala Kalidasa Karya R.H Tjetjep Supriadi
Lakon Carangan Nurkala Kalidasa Karya R.H Tjetjep Supriadi
Lakon adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang golek ataupun pertunjukan lainnya. Hal tersebut di peruntukan untuk mempertegas cerita dalam sebuah pertunjukan. Dalam wayan...
KESANTUNAN TUTURAN DALANG TEGALAN DALAM LIMBUKAN PADA PEMENTASAN WAYANG PURWA
KESANTUNAN TUTURAN DALANG TEGALAN DALAM LIMBUKAN PADA PEMENTASAN WAYANG PURWA
Penelitian ini diberi judul “Kesantunan Tuturan Dalang Tegalan dalam Limbukan pada Pemenetasan Wayang Purwa”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) pelanggaran prinsip ...
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika merupakan sebuah ilmu kritis dan rasional yang mempelajari tingkah laku manusia. Etika selalu berkembang dengan membuka cakrawala dialog melalui gagasan dan pemikiran baru, s...

