Javascript must be enabled to continue!
Konsep Tazkiyat Al-Nafs Perspektif Al-Qur’an (Studi Pemikiran HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar)
View through CrossRef
Tazkiyat Al-Nafs sangat penting bagi dunia saat ini, sebab masyarakat telah terperangkap dalam pola pikir rasional dan mencampakkan dimensi batin. Kondisi tersebut melahirkan gaya hidup yang materialis dan hidonis, dalam arti masyarakat hanya berfikir kehidupan duniawi semata tanpa menghiraukan kehidupan ukhrawi. Akibatnya berbagai penyimpangan, kejahatan, kekejian, dan kemungkaran terjadi disegala sektor kehidupan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana konsep Tazkiyat al-Nafs perspektif Al-Qur’an, bagaimana pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs dalam Al-Qur’an, dan bagaimana implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern. Bentuk Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Metode Maudhu’i dengan analisis data diskriptif-kualitatif dan analisis isi (content analysi). Batasan dalam penelitian ini mengkaji makna, maksud dan tujuan dari lafazh tazkiyat al- nafs perspektif HAMKA dalam tafsir Al-zhar. Adapun hasil penelitian adalah: pertama konsep tazkiyat al-nafs perspektif Al-Qur’an adalah jiwa yang bersih, suci, dan terealisasinya Tauhid. Kedua, barangsiapa yang selalu mensucikan atau membersihkan dirinya dari pada kesyirikan, kerusakan akhlak, ilmu, harta, makanan, jalan yang sesat dan dari pada maksiat serta dosa lainnya melalui tazkiyah al-nafs maka menanglah dalam kehidupan ini serta menjadi orang-orang al-Muqarrabin.“sejauh mana tingkat kepedulian seseorang terhadap tazkiyat al-nafs dalam dirinya, maka sejauh itu pulalah tingkat keselamatannya”. Ketiga, implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern adalah untuk melahirkan sikap menahan diri, mensucikan diri, dan memanfaatkan harta untuk kepentingan produktif. Yaitu dengan konsep zuhud yang dibawakan HAMKA yang memiliki nuansa Ilahiyyah, ekonomis, sosialis, serta memiliki makna filosofis yang dalam, melalui perantara akhlak mulia yang diterapkan dalam kehidupan, dengan sebutan istilah kecerdasan spiritual dan keshalehan sosial. “Bukan tidak memiliki dunia, tetapi tidak dimilki oleh dunia”.
Kata Kunci: Tazkiyat al-Nafs, Tafsir Al-Azhar, HAMKA
Title: Konsep Tazkiyat Al-Nafs Perspektif Al-Qur’an (Studi Pemikiran HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar)
Description:
Tazkiyat Al-Nafs sangat penting bagi dunia saat ini, sebab masyarakat telah terperangkap dalam pola pikir rasional dan mencampakkan dimensi batin.
Kondisi tersebut melahirkan gaya hidup yang materialis dan hidonis, dalam arti masyarakat hanya berfikir kehidupan duniawi semata tanpa menghiraukan kehidupan ukhrawi.
Akibatnya berbagai penyimpangan, kejahatan, kekejian, dan kemungkaran terjadi disegala sektor kehidupan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana konsep Tazkiyat al-Nafs perspektif Al-Qur’an, bagaimana pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs dalam Al-Qur’an, dan bagaimana implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern.
Bentuk Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research).
Metode Maudhu’i dengan analisis data diskriptif-kualitatif dan analisis isi (content analysi).
Batasan dalam penelitian ini mengkaji makna, maksud dan tujuan dari lafazh tazkiyat al- nafs perspektif HAMKA dalam tafsir Al-zhar.
Adapun hasil penelitian adalah: pertama konsep tazkiyat al-nafs perspektif Al-Qur’an adalah jiwa yang bersih, suci, dan terealisasinya Tauhid.
Kedua, barangsiapa yang selalu mensucikan atau membersihkan dirinya dari pada kesyirikan, kerusakan akhlak, ilmu, harta, makanan, jalan yang sesat dan dari pada maksiat serta dosa lainnya melalui tazkiyah al-nafs maka menanglah dalam kehidupan ini serta menjadi orang-orang al-Muqarrabin.
“sejauh mana tingkat kepedulian seseorang terhadap tazkiyat al-nafs dalam dirinya, maka sejauh itu pulalah tingkat keselamatannya”.
Ketiga, implementasi pemikiran HAMKA terhadap Tazkiyat al-Nafs di era modern adalah untuk melahirkan sikap menahan diri, mensucikan diri, dan memanfaatkan harta untuk kepentingan produktif.
Yaitu dengan konsep zuhud yang dibawakan HAMKA yang memiliki nuansa Ilahiyyah, ekonomis, sosialis, serta memiliki makna filosofis yang dalam, melalui perantara akhlak mulia yang diterapkan dalam kehidupan, dengan sebutan istilah kecerdasan spiritual dan keshalehan sosial.
“Bukan tidak memiliki dunia, tetapi tidak dimilki oleh dunia”.
Kata Kunci: Tazkiyat al-Nafs, Tafsir Al-Azhar, HAMKA .
Related Results
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...
KONSEP AL-NAFS DALAM KAJIAN TASAWUF AL-GHAZᾹLĪ
KONSEP AL-NAFS DALAM KAJIAN TASAWUF AL-GHAZᾹLĪ
Abstract: This article will elaborate on al-nafs (soul) which is an essential part of human nature. The Sufis divide understanding al-nafs in three senses. First, al-nafs is a subs...
Tazkiyat Al-Nafs and Scientific Worldview: Contrast and Critique
Tazkiyat Al-Nafs and Scientific Worldview: Contrast and Critique
This research argues that to understand the position of the scientific worldview and Islam on Tazkiyat Al-Nafs we need first to study from a new perspective the relation between sc...
Idealisasi Metode Living Qur’an
Idealisasi Metode Living Qur’an
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Living Qur’an is one of the contemporary method which needs some supports to be ...
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
Al-Qur’an is the Final divine revelation sent down to the Final Messenger of God, the Prophet Muhammad (PBUH). Allah SWT is the creator of all humankind, Jinns, and all creatures...
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh S...
Tazkiyatun Nafs Terminology: Buya Hamka's View
Tazkiyatun Nafs Terminology: Buya Hamka's View
Humans need tazkiyatun Nafs in life for the process of approaching oneself to Allah so that life is always directed. Buya Hamka is a figure who is concerned about tazkiyatun nafs i...
Tafsir Politik: Studi terhadap Pemikiran Politik Hamka dan Pengaruhnya dalam Tafsir Al-Azhar
Tafsir Politik: Studi terhadap Pemikiran Politik Hamka dan Pengaruhnya dalam Tafsir Al-Azhar
This article aims to reveal Hamka's political thoughts and their influence on interpretation. Many predictions can be made to the figure of Hamka. Hamka is not only known as a w...

