Javascript must be enabled to continue!
Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur
View through CrossRef
<p>Orang utan (Pongo pygmaeus) is a protected animal with restricted distribution was only in Sumatera and Kalimantan. With its restricted habitat and population in the conservation area, the occurrence of forest degradation would have significant impact to the habitat and population of this species, therefore forest area outside conservation area became important for conservation of orang utan. In this matter, production forest had been known as essential ecosystem for orang utan conservation objective. Population of orang utan was studied in Muara Lesan, former Concession Area of PT Alas Helau, Berau, East Kalimantan that covered area of 12,228 ha, with method of nest counting. Nest counting was carried out in transect lines 500-1000 m length. Total length of lines within transect was 28 km, or equal with 5.7 percent of study area. Population density of orang utan in Muara Lesan was between 1.92-7.13 individuals/km&sup2; (average of 3.69 individuals) with total population of 365-450 individuals. Estimation of population by nest counting method was influenced by age of nest (new to 285 days old), potency of food trees, movement behavior, including migration and condition of habitat. Based on its total population, orang utan in this area was categorized as critical. Protection of orang utan habitat and population in Forest Concession Areas of Kalimantan, in its management should determine sufficient conservation area, or should propose essential ecosystem for habitat and population of orang utan in former area of forest concession that was not managed as conservation area.</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Orang utan (Pongo pygmaeus) adalah satwa langka yang dilindungi dengan penyebaran yang sangat terbatas di Sumatera dan Kalimantan. Dengan terbatasnya habitat dan populasi orang utan yang termasuk dalam kawasan konservasi, terjadinya degradasi hutan yang berdampak penting bagi habitat dan populasi, maka kawasan hutan di luar kawasan konservasi menjadi penting untuk pelestarian orang utan. Dalam hal ini hutan produksi telah diketahui sebagai ekosistem esensial untuk tujuan pelestarian. Populasi orang utan yang diteliti di kawasan Muara Lesan eks HPH PT Alas Helau seluas 12.228 ha dilakukan dengan metode penghitungan sarang. Penghitungan sarang dilakukan dalam jalur yang dibuat pada transek 500-1000 m. Dengan panjang total jalur 28 km, areal survei setara dengan 5,7% luas kawasan. Kerapatan populasi orang utan di Muara Lesan berkisar antara 1,92-7,13 individu/km&sup2; (rata-rata 3,69 individu) dengan jumlah total populasi 365-450 individu. Estimasi populasi dengan metode penghitungan sarang ini dipengaruhi oleh umur sarang yang mencapai 285 hari, potensi pohon pakan, perilaku pergerakan, termasuk migrasi serta kondisi habitat. Berdasarkan jumlah total populasi, orang utan di kawasan ini tergolong dalam populasi kritis. Perlindungan habitat dan populasi orang utan di kawasan HPH di Kalimantan, dalam pengelolaannya harus menetapkan wilayah konservasi yang cukup atau mengusulkan ekosistem esensial bagi habitat dan populasi orang utan di areal eks HPH yang tidak dikelola menjadi kawasan konservasi.</p><p> </p>
Title: Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur
Description:
<p>Orang utan (Pongo pygmaeus) is a protected animal with restricted distribution was only in Sumatera and Kalimantan.
With its restricted habitat and population in the conservation area, the occurrence of forest degradation would have significant impact to the habitat and population of this species, therefore forest area outside conservation area became important for conservation of orang utan.
In this matter, production forest had been known as essential ecosystem for orang utan conservation objective.
Population of orang utan was studied in Muara Lesan, former Concession Area of PT Alas Helau, Berau, East Kalimantan that covered area of 12,228 ha, with method of nest counting.
Nest counting was carried out in transect lines 500-1000 m length.
Total length of lines within transect was 28 km, or equal with 5.
7 percent of study area.
Population density of orang utan in Muara Lesan was between 1.
92-7.
13 individuals/km&sup2; (average of 3.
69 individuals) with total population of 365-450 individuals.
Estimation of population by nest counting method was influenced by age of nest (new to 285 days old), potency of food trees, movement behavior, including migration and condition of habitat.
Based on its total population, orang utan in this area was categorized as critical.
Protection of orang utan habitat and population in Forest Concession Areas of Kalimantan, in its management should determine sufficient conservation area, or should propose essential ecosystem for habitat and population of orang utan in former area of forest concession that was not managed as conservation area.
</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Orang utan (Pongo pygmaeus) adalah satwa langka yang dilindungi dengan penyebaran yang sangat terbatas di Sumatera dan Kalimantan.
Dengan terbatasnya habitat dan populasi orang utan yang termasuk dalam kawasan konservasi, terjadinya degradasi hutan yang berdampak penting bagi habitat dan populasi, maka kawasan hutan di luar kawasan konservasi menjadi penting untuk pelestarian orang utan.
Dalam hal ini hutan produksi telah diketahui sebagai ekosistem esensial untuk tujuan pelestarian.
Populasi orang utan yang diteliti di kawasan Muara Lesan eks HPH PT Alas Helau seluas 12.
228 ha dilakukan dengan metode penghitungan sarang.
Penghitungan sarang dilakukan dalam jalur yang dibuat pada transek 500-1000 m.
Dengan panjang total jalur 28 km, areal survei setara dengan 5,7% luas kawasan.
Kerapatan populasi orang utan di Muara Lesan berkisar antara 1,92-7,13 individu/km&sup2; (rata-rata 3,69 individu) dengan jumlah total populasi 365-450 individu.
Estimasi populasi dengan metode penghitungan sarang ini dipengaruhi oleh umur sarang yang mencapai 285 hari, potensi pohon pakan, perilaku pergerakan, termasuk migrasi serta kondisi habitat.
Berdasarkan jumlah total populasi, orang utan di kawasan ini tergolong dalam populasi kritis.
Perlindungan habitat dan populasi orang utan di kawasan HPH di Kalimantan, dalam pengelolaannya harus menetapkan wilayah konservasi yang cukup atau mengusulkan ekosistem esensial bagi habitat dan populasi orang utan di areal eks HPH yang tidak dikelola menjadi kawasan konservasi.
</p><p> </p>.
Related Results
Analisis Bentuk dan Makna Kata Berafiks yang Berkategori Verbal pada Bahasa Berau
Analisis Bentuk dan Makna Kata Berafiks yang Berkategori Verbal pada Bahasa Berau
Penelitian ini difokuskan pada analisis bentuk dan makna kata berafiks yang berkategori verbal pada bahasa Berau, alasan pengambilan objek bahasa Berau karena bahasa Berau merupaka...
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sektor kehutanan dan dampaknya terhadap kesempatan kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sektor kehutanan dan dampaknya terhadap kesempatan kerja
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk Menganalisis pengaruh tenaga kerja subsektor Kehutanan secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sektor Kehutanan di Kabupaten Berau. ...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Analisis Kesehatan Hutan dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Pola Tanam Agroforestri di Wilayah Kabupaten Lampung Timur
Analisis Kesehatan Hutan dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Pola Tanam Agroforestri di Wilayah Kabupaten Lampung Timur
Hutan rakyat dengan pola tanam agroforestri memiliki pengaruh terhadap aspek ekologi, seperti: udara bersih, erosi terkendali, serapan karbon, pengaturan tata air, penyangga ekosis...
Students and Orang Utan Conservation: High School Students’ Perceptions of Orang Utan Sanctuary Establishment in Balikpapan Bay, East Kalimantan, Indonesia
Students and Orang Utan Conservation: High School Students’ Perceptions of Orang Utan Sanctuary Establishment in Balikpapan Bay, East Kalimantan, Indonesia
The role of young generations including students was crucial in orang utan conservation. They are not only agent of change, but they are also capable of distinguishing attitudes wh...
PEMETAAN TUTUPAN VEGETASI PADA PETAK 76 DI DESA PITU KECAMATAN PITU KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR
PEMETAAN TUTUPAN VEGETASI PADA PETAK 76 DI DESA PITU KECAMATAN PITU KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR
Perubahan tutupan hutan akibat rusaknya hutan dapat diatasi dengan rehabilitasi. Rehabilitasi hutan dilakukan untuk menjaga prinsip kelestaria hutan. Keberhasilan rehabilitasi dini...
PEMANFAATAN AREN (Arenge pinnata) OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK MUARA DI DESA SUNGAI ILAI KECAMATAN BEDUAI KABUPATEN SANGGAU
PEMANFAATAN AREN (Arenge pinnata) OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK MUARA DI DESA SUNGAI ILAI KECAMATAN BEDUAI KABUPATEN SANGGAU
AbstractSugar palm is non timber forest products from the starch and fruits types. Sugar palm spread from East India to Indonesia and has many benefits for the community one of the...
Pembelajaran Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa (Studi di KPH Yogyakarta, TN Gunung Halimun Salak, dan TN Gunung Ciremai)
Pembelajaran Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa (Studi di KPH Yogyakarta, TN Gunung Halimun Salak, dan TN Gunung Ciremai)
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyebutkan bahwa penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan...

