Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

BIOAVAILABILITAS FORTIFIKAN, DAYA CERNA PROTEIN, SERTA KONTRIBUSI GIZI BISKUIT YANG DITAMBAH TEPUNG IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) DAN DIFORTIFIKASI SENG DAN BESI

View through CrossRef
This research aimed to evaluate the bioavailability of fortificant, protein digestibility, and nutrition contribution of biscuits supplemented with snakehead fish flour and fortified with Zn and Fe. Randomized complete design was used in this research which consisted of two steps, namely: 1) Zn and Fe microencapsulation, 2) formulation of biscuit supplemented with fish flour 15% which fortified with Zn and Fe. Level of Zn and Fe per serving size were to meet 25%, 50% and 100% of RDA. Based on ANOVA showed that there were no significantly difference on bioavailability of Zn and Fe on various fortification level (p>0.05). Biscuits fortified with Zn and Fe to meet 50% RDA per serving size had the highest bioavailability of 76.32% and 41.80%, respectively. This biscuits was chosen for further analysis namely physical and chemical characteristics and protein digestibility. Result of analysis showed that the chosen biscuits more crunchy than those the commercial biscuits. Each a hundred grams of biscuits contained moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, energy, Fe and Zn of about 2.73 g, 2.80 g, 13.34 g, 24.53 g, 57.32 g , 503 kcal, 11.7 % and 8.83%, respectively and had protein digestibility of 78.45%. This biscuits was in range of quality standards for biscuits SNI 01-2973-1992. The contribution of the chosen biscuits on RDA of energy, protein, Fe and Zn were 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.44%, respectively.Keywords: Bioavailability, biscuit of snakehead fish, protein digestability, fortificationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari bioavailabilitas fortifikan, daya cerna protein, dan kontribusi gizi biskuit ikan gabus yang ditambahkan tepung ikan gabus dan difortifikasi dengan Zn dan Fe. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL. Penelitian terdiri atas dua tahap, yaitu pertama adalah melakukan mikroenkapsulasi mineral Zn dan Fe, kedua formulasi biskuit berbasis 15% tepung ikan gabus yang difortifikasi dengan mineral Zn dan Fe dengan taraf fortifikasi, yaitu sebesar 25%, 50%, dan 100% AKG per serving size. Terhadap biskuit yang dihasilkandilakukan analisis bioavailabilitas Zn dan Fe. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bioavailabilitas Zn dan Fe tidak berbeda nyata pada berbagai taraf fortifikasi (p>0.05). Biskuit hasil fortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memiliki bioavailabilitas tertinggi, yaitu masing-masing 76,32% dan 41,80%. Formula biskuit ini dipilih untuk dianalisis lebih lanjut, yang meliputi analisis sifat fisik, kimia, dan daya cerna protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa biskuit terpilih tersebut lebih renyah daripada biskuit komersial. Dalam 100 g biskuit tersebut terkandung air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat berturut-turut sebesar 2,73 g; 2,08 g; 13,34 g; 24,53 g; 57,32 g; serta energi sebesar 503 kkal. Kadar Fe dan Zn biskuit terpilih tersebut adalah 11,7 mg dan 8,83 mg/100 g; dengan daya cerna protein sebesar 78,45%. Biskuit berbasis tepung ikan gabus 15% yang difortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memenuhi standar kualitas biskuit SNI 01-2973-1992. Kontribusi biskuit terpilih terhadap AKG energi, protein, Fe dan Zn berturut-turut adalah 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.44%.Kata kunci: Bioavailabilitas, biskuit ikan gabus, daya cerna protein, fortifikasi
Title: BIOAVAILABILITAS FORTIFIKAN, DAYA CERNA PROTEIN, SERTA KONTRIBUSI GIZI BISKUIT YANG DITAMBAH TEPUNG IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) DAN DIFORTIFIKASI SENG DAN BESI
Description:
This research aimed to evaluate the bioavailability of fortificant, protein digestibility, and nutrition contribution of biscuits supplemented with snakehead fish flour and fortified with Zn and Fe.
Randomized complete design was used in this research which consisted of two steps, namely: 1) Zn and Fe microencapsulation, 2) formulation of biscuit supplemented with fish flour 15% which fortified with Zn and Fe.
Level of Zn and Fe per serving size were to meet 25%, 50% and 100% of RDA.
Based on ANOVA showed that there were no significantly difference on bioavailability of Zn and Fe on various fortification level (p>0.
05).
Biscuits fortified with Zn and Fe to meet 50% RDA per serving size had the highest bioavailability of 76.
32% and 41.
80%, respectively.
This biscuits was chosen for further analysis namely physical and chemical characteristics and protein digestibility.
Result of analysis showed that the chosen biscuits more crunchy than those the commercial biscuits.
Each a hundred grams of biscuits contained moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, energy, Fe and Zn of about 2.
73 g, 2.
80 g, 13.
34 g, 24.
53 g, 57.
32 g , 503 kcal, 11.
7 % and 8.
83%, respectively and had protein digestibility of 78.
45%.
This biscuits was in range of quality standards for biscuits SNI 01-2973-1992.
The contribution of the chosen biscuits on RDA of energy, protein, Fe and Zn were 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.
44%, respectively.
Keywords: Bioavailability, biscuit of snakehead fish, protein digestability, fortificationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari bioavailabilitas fortifikan, daya cerna protein, dan kontribusi gizi biskuit ikan gabus yang ditambahkan tepung ikan gabus dan difortifikasi dengan Zn dan Fe.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL.
Penelitian terdiri atas dua tahap, yaitu pertama adalah melakukan mikroenkapsulasi mineral Zn dan Fe, kedua formulasi biskuit berbasis 15% tepung ikan gabus yang difortifikasi dengan mineral Zn dan Fe dengan taraf fortifikasi, yaitu sebesar 25%, 50%, dan 100% AKG per serving size.
Terhadap biskuit yang dihasilkandilakukan analisis bioavailabilitas Zn dan Fe.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bioavailabilitas Zn dan Fe tidak berbeda nyata pada berbagai taraf fortifikasi (p>0.
05).
Biskuit hasil fortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memiliki bioavailabilitas tertinggi, yaitu masing-masing 76,32% dan 41,80%.
Formula biskuit ini dipilih untuk dianalisis lebih lanjut, yang meliputi analisis sifat fisik, kimia, dan daya cerna protein.
Hasil analisis menunjukkan bahwa biskuit terpilih tersebut lebih renyah daripada biskuit komersial.
Dalam 100 g biskuit tersebut terkandung air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat berturut-turut sebesar 2,73 g; 2,08 g; 13,34 g; 24,53 g; 57,32 g; serta energi sebesar 503 kkal.
Kadar Fe dan Zn biskuit terpilih tersebut adalah 11,7 mg dan 8,83 mg/100 g; dengan daya cerna protein sebesar 78,45%.
Biskuit berbasis tepung ikan gabus 15% yang difortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memenuhi standar kualitas biskuit SNI 01-2973-1992.
Kontribusi biskuit terpilih terhadap AKG energi, protein, Fe dan Zn berturut-turut adalah 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.
44%.
Kata kunci: Bioavailabilitas, biskuit ikan gabus, daya cerna protein, fortifikasi.

Related Results

PERBEDAAN HASIL ABON YANG TERBUAT DARI IKAN GABUS DAN ABON IKAN BANDENG DITINJAU DARI BIAYA PRODUKSI DAN DAYA BELI KONSUMEN
PERBEDAAN HASIL ABON YANG TERBUAT DARI IKAN GABUS DAN ABON IKAN BANDENG DITINJAU DARI BIAYA PRODUKSI DAN DAYA BELI KONSUMEN
Abon merupakan salah satu produk olahan makanan yang sudah di kenal oleh masyarakat yang umumnya, di buat dari daging sapi, nangka muda, dan kluwih. Abon ikan saat ini sudah mulai ...
Kerentanan Jenis Tepung terhadap Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae)
Kerentanan Jenis Tepung terhadap Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae)
ABSTRACT Susceptibility of various flour types to the investation of red flour beetle ( Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae) The research on the level of flour...
Ikan Gabus : Ragam Produk Olahannya
Ikan Gabus : Ragam Produk Olahannya
Ikan Gabus(Channa Striata) adalah salah satu jenis ikan tawar yang sangat digemari masyarakat di Kalimantan Selatan, baik dalam bentuk segar maupun beragam produk olahannya, karena...
Pengolahan Ikan di Kabupaten Bantaeng
Pengolahan Ikan di Kabupaten Bantaeng
UKM Melati dan UKM Sipatujui adalah dua mitra yang bergerak dalam bidang pengolahan ikan di Kabupaten Bantaeng. Kedua mitra selama ini hanya mengembangkan kerupuk amplang dan bakso...
FORMULASI TEPUNG PISANG DAN TEPUNG MOCAF TERHADAP MUTU CAKE
FORMULASI TEPUNG PISANG DAN TEPUNG MOCAF TERHADAP MUTU CAKE
Pengembangan produk cake yang memanfaatkan tepung mocaf dan tepung pisang untuk menggantikan sebagian dan keseluruhan terigu ditujukan untuk memanfaatkan bahan pangan lokal, memper...
Daya Terima dan Kandungan Gizi Biskuit dengan Penambahan Mocaf dan Tepung Ikan Kembung
Daya Terima dan Kandungan Gizi Biskuit dengan Penambahan Mocaf dan Tepung Ikan Kembung
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, yang ditandai dengan tinggi bada...
Pemanfaatan Limbah Pelelangan Ikan Jembatan Puri Di Kota Sorong Sebagai Bahan Pembuatan Tepung Ikan
Pemanfaatan Limbah Pelelangan Ikan Jembatan Puri Di Kota Sorong Sebagai Bahan Pembuatan Tepung Ikan
Kegiatan pelelangan ikan di TPI Jembatan Puri atau PPI Klaligi berlangsung setiap hari demikian juga dengan limbah hasil pelelangan ikan sebagai hasil sampingan terbuang ke daerah ...
Dinamika hasil tangkapan jenis-jenis ikan gabus (Genus Channa) di Kota Palangka Raya
Dinamika hasil tangkapan jenis-jenis ikan gabus (Genus Channa) di Kota Palangka Raya
Penelitian ini mempelajari bagaimana jumlah hasil tangkapan ikan (Genus Channa) yang dihubungkan dengan jumlah curah selama 1 tahun. Penelitian bertujuan mengetahui jumlah hasil da...

Back to Top