Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Representasi Toxic Masculinity pada Tokoh Pria dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

View through CrossRef
Toxic masculinity menjadi salah satu bukti dari adanya ketidakadilan gender, di mana tidak hanya wanita yang dirugikan dalam budaya patriarki, namun pria juga mengalami ketidakadilan tersebut. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas merupakan salah satu film yang mengangkat isu toxic masculinity dimana menceritakan seorang pria yang menunjukkan maskulinitas untuk menyembunyikan impoten yang dia miliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos toxic masculinity pada tokoh pria dalam film. Penelitian menggunakan metode kualitatif yang dianalisa melalui teori semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian mengambil 12 dari 95 scene yang merepresentasikan toxic masculinity. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi, dan menggunakan triangulasi sumber sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data. Hasil penelitian menemukan makna denotasi toxic masculinity tokoh pria merupakan penggambaran pria yang ingin mendominasi melalui kekerasan jika dihadapkan dengan suatu masalah. Makna konotasi toxic masculinity tokoh pria menggambarkan adanya sifat untuk memenuhi stereotipe maskulinitas, yang mana konstruksi laki-laki adalah sosok yang memiliki rasa ingin mendominasi, ingin terlihat kuat, selalu mengutamakan kekerasan jika dihadapkan dengan masalah agar tidak terlihat lemah dan selalu terlihat maskulin. Untuk makna mitos toxic masculinity tokoh pria dibuktikan dengan penggambaran bahwa laki-laki ditampilkan sesuai dengan konstruksi sosial menurut sistem budaya patriarki yang mengakibatkan ketimpangan gender.
Title: Representasi Toxic Masculinity pada Tokoh Pria dalam Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Description:
Toxic masculinity menjadi salah satu bukti dari adanya ketidakadilan gender, di mana tidak hanya wanita yang dirugikan dalam budaya patriarki, namun pria juga mengalami ketidakadilan tersebut.
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas merupakan salah satu film yang mengangkat isu toxic masculinity dimana menceritakan seorang pria yang menunjukkan maskulinitas untuk menyembunyikan impoten yang dia miliki.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos toxic masculinity pada tokoh pria dalam film.
Penelitian menggunakan metode kualitatif yang dianalisa melalui teori semiotika Roland Barthes.
Subjek penelitian mengambil 12 dari 95 scene yang merepresentasikan toxic masculinity.
Teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi, dan menggunakan triangulasi sumber sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data.
Hasil penelitian menemukan makna denotasi toxic masculinity tokoh pria merupakan penggambaran pria yang ingin mendominasi melalui kekerasan jika dihadapkan dengan suatu masalah.
Makna konotasi toxic masculinity tokoh pria menggambarkan adanya sifat untuk memenuhi stereotipe maskulinitas, yang mana konstruksi laki-laki adalah sosok yang memiliki rasa ingin mendominasi, ingin terlihat kuat, selalu mengutamakan kekerasan jika dihadapkan dengan masalah agar tidak terlihat lemah dan selalu terlihat maskulin.
Untuk makna mitos toxic masculinity tokoh pria dibuktikan dengan penggambaran bahwa laki-laki ditampilkan sesuai dengan konstruksi sosial menurut sistem budaya patriarki yang mengakibatkan ketimpangan gender.

Related Results

Myth of Masculinity in Novels Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan
Myth of Masculinity in Novels Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan
This research aims to investigate the myth of masculinity in novels such as Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, and its influence on the characters' personalities, as well as the i...
PERILAKU ABNORMAL TOKOH AJO KAWIR PADA NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN
PERILAKU ABNORMAL TOKOH AJO KAWIR PADA NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN
A family of liquid literary works an expression of life through a form of language. Literary works were created through the events witnessed and perceived A person about an interes...
Ketidakadilan Gender dalam Novel Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan (Perspektif Feminis Sara Mills)
Ketidakadilan Gender dalam Novel Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas Karya Eka Kurniawan (Perspektif Feminis Sara Mills)
Ketidakadilan gender sampai saat ini masih banyak terjadi di lingkungan sosial. Perempuan sebagai korban dari bentuk ketidakadilan gender ini. Fenomena ketidakadilan gender tereali...
Perubahan Perilaku Tokoh Utama dalam Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan:
Perubahan Perilaku Tokoh Utama dalam Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan:
This study aims to determine the form of changes in the main character's behavior in the novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas by Eka Kurniawan, the stimulus received by ...
Welcome to the Robbiedome
Welcome to the Robbiedome
One of the greatest joys in watching Foxtel is to see all the crazy people who run talk shows. Judgement, ridicule and generalisations slip from their tongues like overcooked lamb ...
KARAKTER TOKOH DALAM NOVEL SOGI KARYA FAIKA BURHAN
KARAKTER TOKOH DALAM NOVEL SOGI KARYA FAIKA BURHAN
Abstract : Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana karakter tokoh dalam novel “Sogi karya Faika Burhan?”Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakter tokoh dalam novel Sog...
Reclaiming the Wasteland: Samson and Delilah and the Historical Perception and Construction of Indigenous Knowledges in Australian Cinema
Reclaiming the Wasteland: Samson and Delilah and the Historical Perception and Construction of Indigenous Knowledges in Australian Cinema
It was always based on a teenage love story between the two kids. One is a sniffer and one is not. It was designed for Central Australia because we do write these kids off there. N...

Back to Top