Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Inovasi Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi Sabun Cair Antibakteri

View through CrossRef
Minyak goreng bekas atau disebut minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang sering dijumpai disekitar tempat tinggal kita. Pemanfaatan yang belum maksimal dapat mencemari lingkungan bahkan berpotensi menjadi limbah B3, sehingga peluang pemanfaatan minyak jelantah terbuka lebar. Salah satu pemanfaatan minyak jelantah adalah menjadikan produk sabun. Sabun umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun padat dan sabun cair. Perbedaannya adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Pada pandemic covid 19 yang lalu, sabun digunakan pencegahan tertularnya penyakit karena sabun dapat membunuh kuman dan bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk baru dari minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci tangan antibakteri dan untuk mengetahui kemampuan daun pare (Momordica charantia) sebagai antibakteri dalam sabun pencuci tangan. Daun pare mengandung senyawa kimia seperti, tannin, flavonioid, saponin, triterpenoid dan alkaloid yang memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimental laboratorium melalui 4 tahap yaitu tahap maserasi, tahap pemurnian minyak jelantah, tahap saponifikasi dan tahap uji kualitas sabun. Variasi penambahan ekstrak daun pare yaitu 0%, 25%, dan 50%. Hasil penelitian yang terbaik adalah dengan variasi penambahan ekstrak daun 50% diperoleh hasil nilai pH 10, kandungan alkali bebas 0,26665. Ekstrak daun pare juga mempunyai kemampuan antibakteri ditunjukkan dengan uji saponin menggunakan metode KLT diperoleh hasil positif yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna ungu saat diamati pada sinar uv 365 nm. Selain itu pada uji saponin menggunakan metode spektrofotometri Uv-VIS juga menunjukan kadar saponin sebanyak 0,17% b/v. Agar produk sabun cair pencucui tangan antibakteri ini dapat dikembangkan maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi sabun pada telapak tangan dan perhitungan angka kuman yang terbentuk saat sebelum dan sesudah menggunakan sabun ini.
Title: Inovasi Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi Sabun Cair Antibakteri
Description:
Minyak goreng bekas atau disebut minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang sering dijumpai disekitar tempat tinggal kita.
Pemanfaatan yang belum maksimal dapat mencemari lingkungan bahkan berpotensi menjadi limbah B3, sehingga peluang pemanfaatan minyak jelantah terbuka lebar.
Salah satu pemanfaatan minyak jelantah adalah menjadikan produk sabun.
Sabun umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun padat dan sabun cair.
Perbedaannya adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun.
Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali.
Pada pandemic covid 19 yang lalu, sabun digunakan pencegahan tertularnya penyakit karena sabun dapat membunuh kuman dan bakteri.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk baru dari minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci tangan antibakteri dan untuk mengetahui kemampuan daun pare (Momordica charantia) sebagai antibakteri dalam sabun pencuci tangan.
Daun pare mengandung senyawa kimia seperti, tannin, flavonioid, saponin, triterpenoid dan alkaloid yang memiliki sifat antibakteri.
Penelitian ini dilakukan dengan eksperimental laboratorium melalui 4 tahap yaitu tahap maserasi, tahap pemurnian minyak jelantah, tahap saponifikasi dan tahap uji kualitas sabun.
Variasi penambahan ekstrak daun pare yaitu 0%, 25%, dan 50%.
Hasil penelitian yang terbaik adalah dengan variasi penambahan ekstrak daun 50% diperoleh hasil nilai pH 10, kandungan alkali bebas 0,26665.
Ekstrak daun pare juga mempunyai kemampuan antibakteri ditunjukkan dengan uji saponin menggunakan metode KLT diperoleh hasil positif yang ditandai dengan munculnya bercak berwarna ungu saat diamati pada sinar uv 365 nm.
Selain itu pada uji saponin menggunakan metode spektrofotometri Uv-VIS juga menunjukan kadar saponin sebanyak 0,17% b/v.
Agar produk sabun cair pencucui tangan antibakteri ini dapat dikembangkan maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi sabun pada telapak tangan dan perhitungan angka kuman yang terbentuk saat sebelum dan sesudah menggunakan sabun ini.

Related Results

Pelatihan Penjernihan Minyak Jelantah Menggunakan Bleaching Earth Di Desa Padang Rejo Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu
Pelatihan Penjernihan Minyak Jelantah Menggunakan Bleaching Earth Di Desa Padang Rejo Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu
Minyak goreng merupkan salah satu kebutuhan pokok sehari-hari. Hampir semua makanan dan jajanan membutuhkan minyak goreng dalam proses pembuatannya. Salah satu cara agar dapat meng...
Pemanfaatan Minyak Jelantah Dalam Pembuatan Sabun: Sebuah Enterpreunership Bagi Guru Kimia
Pemanfaatan Minyak Jelantah Dalam Pembuatan Sabun: Sebuah Enterpreunership Bagi Guru Kimia
Latar belakang: Limbah minyak jelantah dapat terjadi dari aktivitas rumah tangga maupun industri. Minyak jelantah adalah minyak goreng yang digunakan secara berulang sehingga bilan...
Pelatihan Pembuatan Sabun Minyak Jelantah pada Paguyuban Kader Puskesmas Bangun Galih, Tegal
Pelatihan Pembuatan Sabun Minyak Jelantah pada Paguyuban Kader Puskesmas Bangun Galih, Tegal
Pengetahuan akan pengolahan limbah di masyarakat dilakukan untuk meminimalisir polusi lingkungan.Salah satu limbah yang cukup banyak di daerah Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal adal...
Pemanfaatan Minyak Jelantah Hasil Pemurnian Arang Kayu untuk Sabun Cuci Padat
Pemanfaatan Minyak Jelantah Hasil Pemurnian Arang Kayu untuk Sabun Cuci Padat
Abstract. Used cooking oil is used cooking oil and waste which is quite dangerous for the ecosystem if carelessly discharged can result in clogged waterways and contamination of wa...
PEMANFAATAN MINYAK BEKAS PAKAI (JELANTAH) UNTUK PENGHARUM RUANGAN
PEMANFAATAN MINYAK BEKAS PAKAI (JELANTAH) UNTUK PENGHARUM RUANGAN
Minyak bekas pakai (jelantah) merupakan minyak tumbuhan yang sudah digunakan untuk menggoreng. Penggunaan minyak bekas pakai mengakibatkan nilai ekonomis minyak tersebut turun diba...
PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK JELANTAH DAN ECO ENZIME
PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK JELANTAH DAN ECO ENZIME
Minyak goreng bekas yang sudah berwarna coklat kehitaman sebaiknya tidak digunakan lagi karena bersifat karsinogenik. Minyak goreng yang telah dipakai berulang kali biasa disebut d...
Status pengelolaan minyak jelantah di Kota Salatiga dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya
Status pengelolaan minyak jelantah di Kota Salatiga dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penggunaan minyak goreng secara berulang dapat membuatnya menjadi minyak jelantah...
PELATIHAN PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI DAN LILIN HIAS UNTUK MEMINIMALISIR MINYAK JELANTAH BAGI MASYARAKAT KELURAHAN PANTAI AMAL
PELATIHAN PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI DAN LILIN HIAS UNTUK MEMINIMALISIR MINYAK JELANTAH BAGI MASYARAKAT KELURAHAN PANTAI AMAL
Minyak goreng bekas atau minyak jelantah memiliki dampak pada penggunaannya yang secara terus menerus baik pada kesehatan tubuh maupun lingkungan.  Oleh karena itu, minyak jelantah...

Back to Top