Javascript must be enabled to continue!
KUAT TARIK DAN LENTUR KOMPOSIT EPOKSI/SERAT BAMBU YANG DIBUAT DENGAN METODE HOT-PRESS
View through CrossRef
Salah satu kelemahan komposit yang dibuat secara manual dengan metode hand lay-up adalah masih banyaknya rongga udara didalam produk komposit yang dihasilkan. Salah satu metode mengatasi kelemahan tersebut adalah metode hot-press. Beberapa penelitian terdahulu mengindikasikan bahwa metode pembuatan komposit dengan cara hot press ini mampu menghasilkan komposit dengan kualitas yang lebih baik. Artikel ini menyajikan analisis perbedaan karateristik mekanis komposit yang dibuat dengan metode hand lay-up dan metode hot-press, yang dilihat dari 2 parameter, yakni kekuatan tarik dan tekannya. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah resin epoksi, hardener dan serat bambu, yang dalam penelitian ini digunakan bambu Petung. Pengujian kekuatan tarik dan lentur komposit dilakukan menggunakan alat UTM. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposit yang dibuat dengan metode hot press mempunyai kuat tarik dan kuat lentur lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang dibuat dengan metode hand lay-up. Kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit yang dibuat dengan metode hot press dengan suhu 800C (V2), yakni sebesar 20.484 MPa. Nilai ini sedikit lebih tinggi, 5,08%, dibandingkan dengan komposit yang dibuat secara manual atau hand lay-up (H) yang memiliki kuat tarik sebesar 19.443 MPa. Selanjutnya, kuat lentur paling tinggi dimiliki oleh komposit yang dibuat dengan metode hot press dengan suhu 800C (V2), yakni sebesar 49,04 MPa. Nilai ini 16,25% lebih tinggidibandingkan dengan komposit yang dibuat secara manual atau hand lay-up (H) yang memiliki kuat lentur sebesar 41,07 MPa
Title: KUAT TARIK DAN LENTUR KOMPOSIT EPOKSI/SERAT BAMBU YANG DIBUAT DENGAN METODE HOT-PRESS
Description:
Salah satu kelemahan komposit yang dibuat secara manual dengan metode hand lay-up adalah masih banyaknya rongga udara didalam produk komposit yang dihasilkan.
Salah satu metode mengatasi kelemahan tersebut adalah metode hot-press.
Beberapa penelitian terdahulu mengindikasikan bahwa metode pembuatan komposit dengan cara hot press ini mampu menghasilkan komposit dengan kualitas yang lebih baik.
Artikel ini menyajikan analisis perbedaan karateristik mekanis komposit yang dibuat dengan metode hand lay-up dan metode hot-press, yang dilihat dari 2 parameter, yakni kekuatan tarik dan tekannya.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah resin epoksi, hardener dan serat bambu, yang dalam penelitian ini digunakan bambu Petung.
Pengujian kekuatan tarik dan lentur komposit dilakukan menggunakan alat UTM.
Hasil penelitian menunjukan bahwa komposit yang dibuat dengan metode hot press mempunyai kuat tarik dan kuat lentur lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang dibuat dengan metode hand lay-up.
Kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh komposit yang dibuat dengan metode hot press dengan suhu 800C (V2), yakni sebesar 20.
484 MPa.
Nilai ini sedikit lebih tinggi, 5,08%, dibandingkan dengan komposit yang dibuat secara manual atau hand lay-up (H) yang memiliki kuat tarik sebesar 19.
443 MPa.
Selanjutnya, kuat lentur paling tinggi dimiliki oleh komposit yang dibuat dengan metode hot press dengan suhu 800C (V2), yakni sebesar 49,04 MPa.
Nilai ini 16,25% lebih tinggidibandingkan dengan komposit yang dibuat secara manual atau hand lay-up (H) yang memiliki kuat lentur sebesar 41,07 MPa.
Related Results
Sintesis Biokomposit Resin Epoksi/Serat Ijuk/Serat Kelapa dengan Alkalisasi KOH
Sintesis Biokomposit Resin Epoksi/Serat Ijuk/Serat Kelapa dengan Alkalisasi KOH
Saat ini penggunaan polimer di dunia industri semakin berkembang, salah satunya dengan dibentuk menjadi komposit polimer. Matriks yang dapat digunakan dalam pembuatan komposit sala...
Komposit Epoksi Diperkuat Serat Corypha Utan: Karakterisasi Morpologi, Kekuatan Tarik Dan kekuatan Lentur
Komposit Epoksi Diperkuat Serat Corypha Utan: Karakterisasi Morpologi, Kekuatan Tarik Dan kekuatan Lentur
Serat Corypha utan lamarck, yang kaya selulosa, murah, berlimpah memiliki potensi untuk penguatan pada komposit termoset. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki sifat-sifat dar...
Kekuatan Tarik Dan Lentur Komposit Poliester Berpenguat Serat Cordyline Australis (Daun Praksok) Dengan Perlakuan Air Laut
Kekuatan Tarik Dan Lentur Komposit Poliester Berpenguat Serat Cordyline Australis (Daun Praksok) Dengan Perlakuan Air Laut
Komposit didesain untuk menjadi material alternatif pengganti logam. Unsur utama dari komposit adalah serat dan matriks, serat adalah sumber dari kekuatan dan kekakuan pada komposi...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Karakterisasi Mekanik Komposit Serat Hybrid Serat Lidah Mertua dan Serat Eceng Gondok
Karakterisasi Mekanik Komposit Serat Hybrid Serat Lidah Mertua dan Serat Eceng Gondok
Penggunaan dan pemanfaatan komposit serat alam sebagai pengganti serat sintesis merupakan langkah yang bijak dalam meningkatkan nilai ekonomis serat alam mengingat keterbatasan sum...
SIFAT KOMPOSIT EPOKSI BERPENGUAT SERAT BAMBU PADA AKIBAT PENYERAPAN AIR
SIFAT KOMPOSIT EPOKSI BERPENGUAT SERAT BAMBU PADA AKIBAT PENYERAPAN AIR
Serat bambu memiliki potensi sebagai serat penguat pengganti serat gelas dalam pembuatan komposit polimer, karena sifatnya yang terbaharui dan ramah lingkungan. Namun, karena serat...
KARAKTERISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI BAHAN PEMBANGUNAN KAPAL PERIKANAN
KARAKTERISASI BAMBU LAMINASI SEBAGAI BAHAN PEMBANGUNAN KAPAL PERIKANAN
Penggunaan bambu dibidang konstruksi sampai saat ini masih sangat terbatas dan hanya digunakan pada struktur ringan. Pengembangan penggunaan bambu dibidang struktur, khususnya dibi...

