Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KAJI ULANG DETERMINAN PENYIAPAN MOOCS BERKUALITAS MENGEMBANGKAN KOMPETENSI INOVASI MENUJU INDONESIA 4.0

View through CrossRef
Studi ini mengkaji kembali rincian determinan dan atribut yang dapat diamati dalam rangka pengembangan MOOCs berikut dengan konsekuensi logis turunannya. Tujuannya, memvisualisasikan bagaimana, dalam konteks apa, faktor yang terlibat dalam kajian ini saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Termasuk melihat bagaimana program dalam kemasan MOOCs berpotensi mendukung pengembangan kompetensi inovasi bagi generasi emas Menuju Indonesia 4.0. Studi ini menggunakan pendekatan bauran, tepatnya desain eksploratif. Secara kualitatif, terlebih dahulu digali kerangka konseptual pengembangan MOOCs yang berkualitas secara utuh. Hasil telaah kualitatif menemukan tujuh determinan membentuk MOOCs Berkualitas. Ketujuh determinan tersebut meliputi: presage, pattern, process, product, practicability, prospective dan power (7P). Melalui proses yang sama, ditemukan efek MOOCs Berkualitas, berpotensi membangun kompetensi inovasi. Melalui proses dan prosedur kuantitatif, MOOCs Berkualitas dan efek turunannya serta ketujuh determinan tersebut (7P) dikategorikan sebagai kerangka operasional. Ketujuh determinan tersebut diduga sebagai penentu kualitas MOOCs yang dapat digunakan sebagai wahana pengembangan kompetensi inovasi (critical thinking, creativity dan networking). Dengan demikian, 7P, MOOCs Berkualitas dan kompetensi inovasi masing-masing dikategorikan sebagai variabel bebas, variabel antara dan variabel terikat. Secara metodologis, importance performance analysis (IPA) dan customer satisfaction index (CSI) digunakan sebagai pendekatan memperkirakan tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan dari total 32 atribut yang jadi bagian pembentuk MOOCs Berkualitas. Sepuluh hipotesis dibangun dan kemudian diuji menggunakan structural equation modelling (SEM). Secara statistik, dilakukan langkah analitis memvalidasi 10 hipotesis yang dibangun. Populasi penelitian staf pengajar Universitas Terbuka. Responden eligibel ditentukan secara acak terhadap staf dari tiap fakultas di lingkungan Universitas Terbuka. Dari mereka dikumpulkan data melalui survei. Studi ini menemukan lima dari 7P memperlihatkan signifikansi terhadap MOOCs Berkualitas: product, pattern, product, practicability, prospective dan power (sementara presage dan process tidak termasuk). Product merupakan penentu paling signifikan terhadap MOOCs Berkualitas. Sejalan dengan itu, MOOCs Berkualitas secara parsial berpengaruh langsung pada kompetensi inovasi: critical thinking dan creativity (networking tidak termasuk). Ini memperlihatkan tujuh dari 10 hipotesis yang diuji nyata divalidasi secara analitis dan langsung. Studi ini juga menemukan 24 dari 32 atribut MOOCs Berkualitas merupakan pilar positip mengembangkan MOOCs Berkualitas dalam konteks Menuju Indonesia 4.0. Sebagai langkah konfirmatif, dengan pendekatan kualitatif (meski presage dan process tidak divalidasi secara analitis), ternyata tetap masuk sebagai determinan MOOCs Berkualitas. Dalam kondisi pandemi, tahapan presage dan process justru dianggap penting mendapat perhatian mengembangkan MOOC Berkualitas. Pengaruh langsung MOOCs Berkualitas terhadap kompetensi inovasi, networking, memang besar kemungkinan tidak (belum) terpengaruh langsung secara signifikan.
Title: KAJI ULANG DETERMINAN PENYIAPAN MOOCS BERKUALITAS MENGEMBANGKAN KOMPETENSI INOVASI MENUJU INDONESIA 4.0
Description:
Studi ini mengkaji kembali rincian determinan dan atribut yang dapat diamati dalam rangka pengembangan MOOCs berikut dengan konsekuensi logis turunannya.
Tujuannya, memvisualisasikan bagaimana, dalam konteks apa, faktor yang terlibat dalam kajian ini saling terkait dan berhubungan satu sama lain.
Termasuk melihat bagaimana program dalam kemasan MOOCs berpotensi mendukung pengembangan kompetensi inovasi bagi generasi emas Menuju Indonesia 4.
Studi ini menggunakan pendekatan bauran, tepatnya desain eksploratif.
Secara kualitatif, terlebih dahulu digali kerangka konseptual pengembangan MOOCs yang berkualitas secara utuh.
Hasil telaah kualitatif menemukan tujuh determinan membentuk MOOCs Berkualitas.
Ketujuh determinan tersebut meliputi: presage, pattern, process, product, practicability, prospective dan power (7P).
Melalui proses yang sama, ditemukan efek MOOCs Berkualitas, berpotensi membangun kompetensi inovasi.
Melalui proses dan prosedur kuantitatif, MOOCs Berkualitas dan efek turunannya serta ketujuh determinan tersebut (7P) dikategorikan sebagai kerangka operasional.
Ketujuh determinan tersebut diduga sebagai penentu kualitas MOOCs yang dapat digunakan sebagai wahana pengembangan kompetensi inovasi (critical thinking, creativity dan networking).
Dengan demikian, 7P, MOOCs Berkualitas dan kompetensi inovasi masing-masing dikategorikan sebagai variabel bebas, variabel antara dan variabel terikat.
Secara metodologis, importance performance analysis (IPA) dan customer satisfaction index (CSI) digunakan sebagai pendekatan memperkirakan tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan dari total 32 atribut yang jadi bagian pembentuk MOOCs Berkualitas.
Sepuluh hipotesis dibangun dan kemudian diuji menggunakan structural equation modelling (SEM).
Secara statistik, dilakukan langkah analitis memvalidasi 10 hipotesis yang dibangun.
Populasi penelitian staf pengajar Universitas Terbuka.
Responden eligibel ditentukan secara acak terhadap staf dari tiap fakultas di lingkungan Universitas Terbuka.
Dari mereka dikumpulkan data melalui survei.
Studi ini menemukan lima dari 7P memperlihatkan signifikansi terhadap MOOCs Berkualitas: product, pattern, product, practicability, prospective dan power (sementara presage dan process tidak termasuk).
Product merupakan penentu paling signifikan terhadap MOOCs Berkualitas.
Sejalan dengan itu, MOOCs Berkualitas secara parsial berpengaruh langsung pada kompetensi inovasi: critical thinking dan creativity (networking tidak termasuk).
Ini memperlihatkan tujuh dari 10 hipotesis yang diuji nyata divalidasi secara analitis dan langsung.
Studi ini juga menemukan 24 dari 32 atribut MOOCs Berkualitas merupakan pilar positip mengembangkan MOOCs Berkualitas dalam konteks Menuju Indonesia 4.
Sebagai langkah konfirmatif, dengan pendekatan kualitatif (meski presage dan process tidak divalidasi secara analitis), ternyata tetap masuk sebagai determinan MOOCs Berkualitas.
Dalam kondisi pandemi, tahapan presage dan process justru dianggap penting mendapat perhatian mengembangkan MOOC Berkualitas.
Pengaruh langsung MOOCs Berkualitas terhadap kompetensi inovasi, networking, memang besar kemungkinan tidak (belum) terpengaruh langsung secara signifikan.

Related Results

Learning Behaviour Towards MOOCS: Data Analysis Through Excel in Research (Dater) Under UNESCO
Learning Behaviour Towards MOOCS: Data Analysis Through Excel in Research (Dater) Under UNESCO
MOOCs is a flexible online learning. Which brings together all the learners of the same interest at the global level. It emphasizes on learning by overcoming and leaving aside weak...
Analisis Penerimaan MOOCs Dengan Model UTAUT Yang Telah Dimodifikasi
Analisis Penerimaan MOOCs Dengan Model UTAUT Yang Telah Dimodifikasi
MOOCs mengatasi potensi hambatan dalam hal ini keterlibatan pendidikan, dengan menawarkan akses gratis, dan fleksibilitas melalui teknologi informasi dan komunikasi mereka (TIK) be...
Investigating Teachers’ Changing Perceptions Towards MOOCs Through the Technology Acceptance Model
Investigating Teachers’ Changing Perceptions Towards MOOCs Through the Technology Acceptance Model
While MOOCs have gained prominence in higher education, their role in fostering pedagogical and technological readiness among teachers remains underexplored. This study addresses t...
Massive Open Online Courses (MOOCs) in Sub-Saharan African Higher Education Landscape: A Bibliometric Review
Massive Open Online Courses (MOOCs) in Sub-Saharan African Higher Education Landscape: A Bibliometric Review
In this study, we examined articles focused on Massive Open Online Courses (MOOCs) implemented in the sub-Saharan African (SSA) Higher Education context that describes the differen...
ARTIKEL KOMPETENSI GURU DALAM PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN E-LEARNING DI TENGAH PANDEMI COVID-19
ARTIKEL KOMPETENSI GURU DALAM PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN E-LEARNING DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Guru merupakan profesi yang memerlukan keahlian khusus. Tugas guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai hidup. Mengajar bera...
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Rokhmawan,Tristan. 2011. Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas...
Pemetaan Kompetensi Kepala SD di Kota Makassar
Pemetaan Kompetensi Kepala SD di Kota Makassar
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan penguasaan dimensi kompetensi kepala sekolah khususnya bagi Kepala Sekolah Dasar di Kota Makassar berdasarkan Standar Kompetensi Kepala Sek...
KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN SEBAGAI FAKTOR PENENTU KINERJA USAHA KECIL KAMPOENG RADJOET
KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN SEBAGAI FAKTOR PENENTU KINERJA USAHA KECIL KAMPOENG RADJOET
Usaha kecil Kampoeng Radjoet binong jati telah memberikan kontribusi dan berperan penting dalam perekonomian Kota Bandung. Permasalah pokok yang di hadapi pelaku usaha sebenarnya b...

Back to Top