Javascript must be enabled to continue!
Hubungan antara Relasi dalam Keluarga dan Kesejahteraan Subjektif Remaja Korban Perundungan Siber
View through CrossRef
Abstract. Cyberbullying is increasing and negatively impacts adolescents' subjective well-being (SWB). Victims of cyberbullying often experience disruptions in interpersonal satisfaction, especially within family relationships. Family relationships, which involve social interactions and closeness among members, are essential for fostering satisfaction and happiness. This study examines how family relationships contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City who experience cyberbullying. Participants included 239 students aged 12–16 years (N= 239; 51.6% female; 49.0% male) selected through stratified cluster random sampling in a cross-sectional survey. Family relationships were measured using the Children's World's tool and SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Victim categorization followed Patchin and Hinduja’s measurement instrument. Data analysis using linear regression techniques. Results showed that victims of cyberbullying had below-average SWB (M = 64.9; SD = 28.7) compared to Cummins’ theoretical mean of 75, with female victims reporting lower SWB than males. Family relationships, such as feeling safe at home (β = .349, p < .001) and parents listening and paying attention (β = .220, p < .011), significantly positively contributed to their SWB. Therefore, building positive family relationships and interactions is crucial for enhancing the SWB of adolescent victims of cyberbullying.
Abstrak. Perundungan siber semakin meningkat dan berdampak negatif pada kesejahteraan subjektif remaja. Korban sering kali mengalami gangguan dalam kepuasan interpersonal, terutama dalam hubungan keluarga. Hubungan keluarga, melibatkan interaksi sosial dan kedekatan antara anggota, sangat penting untuk menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan. Penelitian ini meneliti bagaimana hubungan keluarga berkontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung yang mengalami perundungan siber. Partisipan terdiri dari 239 siswa berusia 12-16 tahun (N= 239; 51.6% perempuan; 49.0% laki-laki) yang dipilih melalui stratified cluster random sampling dalam survei cross-sectional. Hubungan keluarga diukur dengan menggunakan alat Children's World’s dan SWB diukur dengan menggunakan Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5). Kategorisasi korban berdasarkan instrumen pengukuran Patchin dan Hinduja. Analisis data menggunakan teknik regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban memiliki kesejahteraan subjektif di bawah rata-rata (M = 64,9; SD = 28,7) dibandingkan dengan rata-rata teoritis Cummins yaitu 75, dengan korban perempuan melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hubungan keluarga, seperti merasa aman di rumah (β = .349, p <.001) dan orang tua yang mendengarkan dan memberi perhatian (β = .220, p <.011), secara signifikan memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif mereka. Oleh karena itu, membangun hubungan dan interaksi keluarga yang positif sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif korban.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Hubungan antara Relasi dalam Keluarga dan Kesejahteraan Subjektif Remaja Korban Perundungan Siber
Description:
Abstract.
Cyberbullying is increasing and negatively impacts adolescents' subjective well-being (SWB).
Victims of cyberbullying often experience disruptions in interpersonal satisfaction, especially within family relationships.
Family relationships, which involve social interactions and closeness among members, are essential for fostering satisfaction and happiness.
This study examines how family relationships contribute to the SWB of junior high school students in Bandung City who experience cyberbullying.
Participants included 239 students aged 12–16 years (N= 239; 51.
6% female; 49.
0% male) selected through stratified cluster random sampling in a cross-sectional survey.
Family relationships were measured using the Children's World's tool and SWB was measured using the Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5).
Victim categorization followed Patchin and Hinduja’s measurement instrument.
Data analysis using linear regression techniques.
Results showed that victims of cyberbullying had below-average SWB (M = 64.
9; SD = 28.
7) compared to Cummins’ theoretical mean of 75, with female victims reporting lower SWB than males.
Family relationships, such as feeling safe at home (β = .
349, p < .
001) and parents listening and paying attention (β = .
220, p < .
011), significantly positively contributed to their SWB.
Therefore, building positive family relationships and interactions is crucial for enhancing the SWB of adolescent victims of cyberbullying.
Abstrak.
Perundungan siber semakin meningkat dan berdampak negatif pada kesejahteraan subjektif remaja.
Korban sering kali mengalami gangguan dalam kepuasan interpersonal, terutama dalam hubungan keluarga.
Hubungan keluarga, melibatkan interaksi sosial dan kedekatan antara anggota, sangat penting untuk menumbuhkan kepuasan dan kebahagiaan.
Penelitian ini meneliti bagaimana hubungan keluarga berkontribusi terhadap SWB siswa SMP di Kota Bandung yang mengalami perundungan siber.
Partisipan terdiri dari 239 siswa berusia 12-16 tahun (N= 239; 51.
6% perempuan; 49.
0% laki-laki) yang dipilih melalui stratified cluster random sampling dalam survei cross-sectional.
Hubungan keluarga diukur dengan menggunakan alat Children's World’s dan SWB diukur dengan menggunakan Children's Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS5).
Kategorisasi korban berdasarkan instrumen pengukuran Patchin dan Hinduja.
Analisis data menggunakan teknik regresi linier.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban memiliki kesejahteraan subjektif di bawah rata-rata (M = 64,9; SD = 28,7) dibandingkan dengan rata-rata teoritis Cummins yaitu 75, dengan korban perempuan melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Hubungan keluarga, seperti merasa aman di rumah (β = .
349, p <.
001) dan orang tua yang mendengarkan dan memberi perhatian (β = .
220, p <.
011), secara signifikan memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan subjektif mereka.
Oleh karena itu, membangun hubungan dan interaksi keluarga yang positif sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif korban.
Related Results
Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan Reproduksi Remaja
Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, ...
Pesan dari Editor-in-Chief: Tantangan Psikologi Siber
Pesan dari Editor-in-Chief: Tantangan Psikologi Siber
Penelitian psikologi tentang tingkah laku di dunia siber (cyber), termasuk di situs jejaring sosial (seperti Facebook dan Instagram yang popularitas-nya sangat tinggi), masih sedik...
INTERVENSI PSIKOLOGIS UNTUK MENGATASI BULLYING DI DUSUN TEGAL BEDUG, TAMANSARI, LELEA, INDRAMAYU, JAWA BARAT
INTERVENSI PSIKOLOGIS UNTUK MENGATASI BULLYING DI DUSUN TEGAL BEDUG, TAMANSARI, LELEA, INDRAMAYU, JAWA BARAT
Bullying is behavior that is carried out by a person or group of people with the aim of hurting the heart, feelings, orphysically of another person. Bullying can be done by anyone ...
Resiliensi sebagai Moderator antara Perundungan dan Kesejahteraan Subjektif pada Siswa SMP
Resiliensi sebagai Moderator antara Perundungan dan Kesejahteraan Subjektif pada Siswa SMP
Abstract. Bullying negatively affects the subjective well-being of junior high school students. This study examines the moderating role of resilience in the relationship between bu...
PERANAN KESEPIAN TERHADAP KEKERASAN SIBER PADA REMAJA PEREMPUAN YANG AKTIF MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL
PERANAN KESEPIAN TERHADAP KEKERASAN SIBER PADA REMAJA PEREMPUAN YANG AKTIF MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL
Kekerasan siber dalam media sosial pada kalangan remaja menjadi fenomena yang serius dan perlu diperhatikan. Berbagai kasus kekerasan siber merupakan masalah kesehatan dalam masyar...
PSIKO-EDUKASI PENCEGAHAN KEKERASAN SIBER REMAJA PEREMPUAN DALAM BERMEDIA SOSIAL
PSIKO-EDUKASI PENCEGAHAN KEKERASAN SIBER REMAJA PEREMPUAN DALAM BERMEDIA SOSIAL
Social media is a platform that is actively used in everyday life to establish communication, especially among teenagers. The development of social media use has been followed by m...
APA CARA-CARA TERBAIK MENCEGAH PERUNDUNGAN DI SEKOLAH
APA CARA-CARA TERBAIK MENCEGAH PERUNDUNGAN DI SEKOLAH
Semua 50 negara bagian di Amerika Serikat mewajibkan sekolah untuk memiliki kebijakan pencegahan perundungan. Tetapi kebijakan itu sendiri belumlah cukup. Meskipun ada kewajiban it...

