Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Indonesia dalam Kancah Geopolitik di Indo-Pasifik

View through CrossRef
Buku ini membahas tentang konseptualisasi Indonesia dalam memaknai rivalitas Amerika Serikat (AS) melawan Tiongkok dalam geopolitik di Indo-Pasifik. Hal ini diawali dengan pemahaman tentang rivalitas kedua negara besar dalam enam aspek utama, yaitu ekonomi dan persaingan dagang, militer, kemajuan teknologi dan inovasi, politik dan ideologi, diplomasi dan aliansi, serta konflik kawasan. Buku ini menggunakan kerangka pemikiran mengenai keterkaitan antara geopolitik dan geoekonomi dalam rivalitas negara besar di kawasan. Pembahasan mengenai dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik selalu melibatkan berbagai negara sebagai pelaku utamanya. AS pada awalnya mengembangkan pivot to Asia, disambut dengan Jepang yang membangun Free and Open Indo-Pacific (FOIP), Australia menggunakan Australia’s Asian Century untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia, India yang merespons dengan Security and Growth for All in the Region (SAGAR) khususnya di kawasan Samudera Hindia, dan Tiongkok yang membangun koridor dunia melalui Belt and Road Initiative (BRI). Sepuluh negara anggota ASEAN merespons dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik dengan pemahaman dan kebijakan yang berbeda satu sama lain.   Peningkatan aktivitas dan kekuatan ekonomi Tiongkok di kawasan Asia Pasifik membuat berbagai negara termasuk Indonesia merespons dengan berbagai cara. Salah satunya melalui de-risking atau pengurangan risiko sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada negara-negara yang dianggap berbahaya secara geopolitik, baik terhadap AS maupun Tiongkok.  Persaingan strategis AS melawan Tiongkok juga muncul dalam industri nikel di Indonesia. Nikel yang merupakan komponen utama baterai lithium-ion menjadi bahan utama kendaraan listrik dan produk teknologi semikonduktor lainnya. Pemerintah Indonesia mengundang AS dan Tiongkok dalam pengembangan industri nikel domestik walaupun keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda di mana AS menerapkan prinsip pasar bebas dan Tiongkok melancarkan pendekatan nasionalisme sumber daya.  Irisan antara Belt and Road Initiative (BRI) dan Poros Maritim Dunia (PMD) membuat pemerintah Indonesia mengundang investasi Tiongkok mengenai konektivitas maritim dan pembangunan ekonomi, khususnya energi hijau di Kalimantan Utara melalui Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI). KIPI menjadi salah satu perpanjangan investasi Tiongkok di Indonesia mengenai energi bersih dan terbarukan.  Rivalitas AS-Tiongkok di ruang siber juga memengaruhi keamanan siber di Asia Tenggara. Hal ini terjadi karena persaingan kedua negara besar tersebut menjadi struktur yang membatasi upaya diplomasi siber negara-negara Asia Tenggara dan menghambat terbentuknya arsitektur norma keamanan siber yang solid di kawasan.  Kerja sama Selatan-Selatan Triangular (KSST) melalui kebijakan Look East merupakan strategi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Pasifik Selatan yang mencakup bantuan pembangunan, kerja sama sektoral, dan bantuan teknis. Dalam hal ini, diplomasi biru menjadi instrumen penting dalam memanfaatkan dan melestarikan sumber daya kelautan dan mendukung berbagai inisiatif ekonomi berbasis laut.
Title: Indonesia dalam Kancah Geopolitik di Indo-Pasifik
Description:
Buku ini membahas tentang konseptualisasi Indonesia dalam memaknai rivalitas Amerika Serikat (AS) melawan Tiongkok dalam geopolitik di Indo-Pasifik.
Hal ini diawali dengan pemahaman tentang rivalitas kedua negara besar dalam enam aspek utama, yaitu ekonomi dan persaingan dagang, militer, kemajuan teknologi dan inovasi, politik dan ideologi, diplomasi dan aliansi, serta konflik kawasan.
Buku ini menggunakan kerangka pemikiran mengenai keterkaitan antara geopolitik dan geoekonomi dalam rivalitas negara besar di kawasan.
Pembahasan mengenai dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik selalu melibatkan berbagai negara sebagai pelaku utamanya.
AS pada awalnya mengembangkan pivot to Asia, disambut dengan Jepang yang membangun Free and Open Indo-Pacific (FOIP), Australia menggunakan Australia’s Asian Century untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia, India yang merespons dengan Security and Growth for All in the Region (SAGAR) khususnya di kawasan Samudera Hindia, dan Tiongkok yang membangun koridor dunia melalui Belt and Road Initiative (BRI).
Sepuluh negara anggota ASEAN merespons dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik dengan pemahaman dan kebijakan yang berbeda satu sama lain.
   Peningkatan aktivitas dan kekuatan ekonomi Tiongkok di kawasan Asia Pasifik membuat berbagai negara termasuk Indonesia merespons dengan berbagai cara.
Salah satunya melalui de-risking atau pengurangan risiko sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada negara-negara yang dianggap berbahaya secara geopolitik, baik terhadap AS maupun Tiongkok.
  Persaingan strategis AS melawan Tiongkok juga muncul dalam industri nikel di Indonesia.
Nikel yang merupakan komponen utama baterai lithium-ion menjadi bahan utama kendaraan listrik dan produk teknologi semikonduktor lainnya.
Pemerintah Indonesia mengundang AS dan Tiongkok dalam pengembangan industri nikel domestik walaupun keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda di mana AS menerapkan prinsip pasar bebas dan Tiongkok melancarkan pendekatan nasionalisme sumber daya.
  Irisan antara Belt and Road Initiative (BRI) dan Poros Maritim Dunia (PMD) membuat pemerintah Indonesia mengundang investasi Tiongkok mengenai konektivitas maritim dan pembangunan ekonomi, khususnya energi hijau di Kalimantan Utara melalui Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI).
KIPI menjadi salah satu perpanjangan investasi Tiongkok di Indonesia mengenai energi bersih dan terbarukan.
  Rivalitas AS-Tiongkok di ruang siber juga memengaruhi keamanan siber di Asia Tenggara.
Hal ini terjadi karena persaingan kedua negara besar tersebut menjadi struktur yang membatasi upaya diplomasi siber negara-negara Asia Tenggara dan menghambat terbentuknya arsitektur norma keamanan siber yang solid di kawasan.
  Kerja sama Selatan-Selatan Triangular (KSST) melalui kebijakan Look East merupakan strategi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Pasifik Selatan yang mencakup bantuan pembangunan, kerja sama sektoral, dan bantuan teknis.
Dalam hal ini, diplomasi biru menjadi instrumen penting dalam memanfaatkan dan melestarikan sumber daya kelautan dan mendukung berbagai inisiatif ekonomi berbasis laut.

Related Results

INDONESIA'S DIGITAL DIPLOMACY STRATEGY TOWARD THE INDO-PACIFIC REGION
INDONESIA'S DIGITAL DIPLOMACY STRATEGY TOWARD THE INDO-PACIFIC REGION
Abstrak Indo-Pasifik ialah konsep geografi yang meliputi kawasan Lautan Hindi dan Lautan Pasifik. Kawasan yang luas di rantau Indo-Pasifik dan ramai pelakon yang terlibat telah men...
Pembentukan AUKUS : Solusi atau Polemik di Kawasan Indo-Pasifik?
Pembentukan AUKUS : Solusi atau Polemik di Kawasan Indo-Pasifik?
Pembentukan AUKUS mendorong munculnya berbagai perdebatan dalam kancah internasional. AUKUS berkomitmen untuk menciptakan keamanan kolektif bagi kawasan Indo-Pasifik yang memiliki ...
Indo-Anglian: Connotations and Denotations
Indo-Anglian: Connotations and Denotations
A different name than English literature, ‘Anglo-Indian Literature’, was given to the body of literature in English that emerged on account of the British interaction with India un...
Pengaruh AUKUS terhadap Keamanan Maritim di Kawasan Indo-Pasifik
Pengaruh AUKUS terhadap Keamanan Maritim di Kawasan Indo-Pasifik
Sebagai kawasan yang memiliki posisi dan nilai strategis dalam dinamika politik global, Indo-Pasifik merupakan kawasan yang krusial dalam menjaga stabilitas keamanan dan politik gl...
Strategi Diplomasi Indonesia Dalam Memperkuat Kepemimpinan Di ASEAN Pada Era Geopolitik Yang Berubah
Strategi Diplomasi Indonesia Dalam Memperkuat Kepemimpinan Di ASEAN Pada Era Geopolitik Yang Berubah
Perubahan geopolitik Indo-Pasifik meningkatkan tekanan strategis terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara dan menuntut ASEAN memperkuat sentralitasnya di tengah rivalitas kekuatan...
Conference Committee
Conference Committee
Abstract Advisory Committee Prof. Dr. Dwia Ariestina Pulubuhu, MA. (Hasanuddin University, Indonesia) Prof. Dr. Ir....
Melambungnya Harga Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Tekanan Inflasi Global
Melambungnya Harga Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Tekanan Inflasi Global
Kenaikan harga emas global yang signifikan dalam satu dekade terakhir mencerminkan respons pasar terhadap dinamika makroekonomi dunia yang sarat ketidakpastian. Dua faktor utama ya...
STRATEGI PERTAHANAN AUSTRALIA SEBAGAI NEGARA KEKUATAN MENENGAH DI INDO-PASIFIK
STRATEGI PERTAHANAN AUSTRALIA SEBAGAI NEGARA KEKUATAN MENENGAH DI INDO-PASIFIK
Sebagai salah satu kawasan yang dianggap sebagai “arena pertempuran” baru bagi Amerika Serikat dan China, kawasan Indo-Pasifik pada saat ini menjadi salah satu bahasan menarik kare...

Back to Top