Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

EKSTRAKSI FLAVONOID DARI TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) DAN APLIKASINYA PADA SABUN TRANSPARAN

View through CrossRef
Temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) merupakan salah satu dari sekian tanaman obat tradisional yang ada di Indonesia yang diketahui mengandung flavonoid. Flavonoid ini dapat berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba. Sedangkan pemanfaatan temu ireng masih sebatas sebagai obat tradisional. Maka perlu ada pemanfaatan temu ireng pada bidang yang lain.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak temu ireng dengan metode ekstraksi maserasi, mencari pengaruh waktu maserasi terhadap rendemen ekstrak flavonoid dari temu ireng, mendapatkan waktu maserasi yang optimal dan membuat sabun padat transparan dengan penambahan ekstrak temu ireng. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi maserasi dalam pelarut metanol 96% volume dan ratio volume pelarut 1:5 dengan lama waktu maserasi divariasikan 4 jam, 8 jam, 12 jam, 16 jam, dan 24 jam untuk mendapatkan flavonoid dari temu ireng. Hasilnya dianalisis dengan uji warna, dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil ekstrak flavonoid temu ireng (Curcuma aeruginosa) dibandingkan dengan pembanding kuersetin dimana dalam standar tersebut telah diketahui pasti kandungan flavonoid. Ekstrak yang terbaik lalu ditambahkan pada pembuatan sabun padat transparan. Semakin lama waktu maserasi semakin besar rendemen yang didapatkan. Hasil rendemen terbaik didapatkan pada waktu maserasi 24 jam sebesar 7,83%. Hubungan antara variabel waktu maserasi terhadap rendemen (% massa) dapat disajikan  dengan persamaan y= 0.002x + 0.012 dengan R2 = 0.989 dan kadar flavonoid terbaik yang didapat adalah 3.5 μg/mL dengan persamaan y = 0.114x+1.050 dengan R² = 0.879. Sabun padat transparan yang dihasilkan mempunyai pH 9, kandungan alkali 0,048 dan kadar air 0,31. Kata kunci: flavonoid, maserasi, sabun padat transparan, temu ireng  
Title: EKSTRAKSI FLAVONOID DARI TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) DAN APLIKASINYA PADA SABUN TRANSPARAN
Description:
Temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) merupakan salah satu dari sekian tanaman obat tradisional yang ada di Indonesia yang diketahui mengandung flavonoid.
Flavonoid ini dapat berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba.
Sedangkan pemanfaatan temu ireng masih sebatas sebagai obat tradisional.
Maka perlu ada pemanfaatan temu ireng pada bidang yang lain.
  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak temu ireng dengan metode ekstraksi maserasi, mencari pengaruh waktu maserasi terhadap rendemen ekstrak flavonoid dari temu ireng, mendapatkan waktu maserasi yang optimal dan membuat sabun padat transparan dengan penambahan ekstrak temu ireng.
Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi maserasi dalam pelarut metanol 96% volume dan ratio volume pelarut 1:5 dengan lama waktu maserasi divariasikan 4 jam, 8 jam, 12 jam, 16 jam, dan 24 jam untuk mendapatkan flavonoid dari temu ireng.
Hasilnya dianalisis dengan uji warna, dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Hasil ekstrak flavonoid temu ireng (Curcuma aeruginosa) dibandingkan dengan pembanding kuersetin dimana dalam standar tersebut telah diketahui pasti kandungan flavonoid.
Ekstrak yang terbaik lalu ditambahkan pada pembuatan sabun padat transparan.
Semakin lama waktu maserasi semakin besar rendemen yang didapatkan.
Hasil rendemen terbaik didapatkan pada waktu maserasi 24 jam sebesar 7,83%.
Hubungan antara variabel waktu maserasi terhadap rendemen (% massa) dapat disajikan  dengan persamaan y= 0.
002x + 0.
012 dengan R2 = 0.
989 dan kadar flavonoid terbaik yang didapat adalah 3.
5 μg/mL dengan persamaan y = 0.
114x+1.
050 dengan R² = 0.
879.
Sabun padat transparan yang dihasilkan mempunyai pH 9, kandungan alkali 0,048 dan kadar air 0,31.
 Kata kunci: flavonoid, maserasi, sabun padat transparan, temu ireng  .

Related Results

Pengaruh Tri-n-Oktil Posfin Oksida dan Tingkat Ekstraksi pada Pemurnian Konsentrat Thorium
Pengaruh Tri-n-Oktil Posfin Oksida dan Tingkat Ekstraksi pada Pemurnian Konsentrat Thorium
Telah dilakukan ekstraksi konsentrat thorium oksalat hasil olah monasit memakai ekstraktan Tri – n - Oktil Posfin Oksida (TOPO).  Pengotor  yang paling banyak  terkandung dalam kon...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Kinetika Perubahan Mutu Sediaan Sabun Padat Transparan Dari Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.)
Kinetika Perubahan Mutu Sediaan Sabun Padat Transparan Dari Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.)
Intisari— Daun pepaya mengandung pigmen klorofil yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami. Oleh karenanya, kandungan klorofil dari daun pepaya dapat dimanfaatkan menjadi ba...
UJI SKRINING FITOKIMIA DARI AMILUM FAMILIA ZINGIBERACEAE
UJI SKRINING FITOKIMIA DARI AMILUM FAMILIA ZINGIBERACEAE
Skrining fitokimia  bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat pada amilum familia zingiberaceae meliputi pemeriksaan alkalaoid, flavonoid, polifenolat, tanin, kui...
FORMULASI DAN EVALUASI SABUN TRANSPARAN BERBAHAN BAKU MINYAK JELANTAH
FORMULASI DAN EVALUASI SABUN TRANSPARAN BERBAHAN BAKU MINYAK JELANTAH
Latar belakang: Perawatan kulit menjadi sangat diperlukan untuk menjaganya tetap terlindung dari ancaman polusi, cara yang paling tepat untuk menjaga kesehatan kulit adalah dengan ...

Back to Top