Javascript must be enabled to continue!
NILAI BUDAYA PALI DAYAK NGAJU (CULTURAL VALUE AS REPRESENTED IN THE PALI OF DAYAK NGAJU)
View through CrossRef
Abstract Cultural Values as Represented in the Pali of Dayak Ngaju Community. This research aims to (1) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards nature, (2) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the human interaction, (3) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the spiritual performance. This research uses (1) recording techniques, both audio and audiovisual, (2) recording, (3) in-depth interviews, (4) literature study and documentation analysis.The results of the study show that the representation of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community in relation to nature includes: (1) the prohibition of not asking for permission when going to farming; (2) prohibition to kill animals carelessly while hunting; (3) prohibition of burning forest carelessly; (4) mapas lewu 'cleaning the village'; (5) manyanggar (‘someone should excuse me from the forest rangers’ otherwise it can cause danger and take victims); (6) prohibition of making images (statues) of animals carelessly in a forest inhabited by supernatural beings. The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community concerning the human interactions, including: (1) prohibitions against marrying in the wrong lineage or the same lineage; (2) prohibition to take or interfere with the rights of others; (3) prohibition of entering another's house without permission; (4) prohibition to pick up the fallen fruit without the owner's consent; and (5) prohibition to swear/curse children carelessly.The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community to the spiritual performance, including (1) the obligation to provide food to village guards (Pakanan Patahu); (2) the duty to always remember the Almighty while earning a living; (3) prohibition to laugh at broomstick; (4) prohibition of picking sawang leaves in front of the sangar patahu. Key words: value, representation, multiplier, dayak ngajuAbstrak Nilai Budaya Pali Dayak Ngaju. Tujuan Penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap alam. (2) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap interaksi sesama manusia. (3) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap kemampuan spritual.Metode atau teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan: (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pencatatan, (3) wawancara yang mendalam, (4) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi.Hasil penelitian menunjukan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju yang berhubungan dengan alam meliputi: (1) larangan tidak permisi jika hendak berladang; (2) tidak boleh membunuh binatang sembarangan saat berburu; (3) tidak boleh membakar hutan sembarangan; (4) mapas lewu ‘membersihkan Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 286 - 300 ISSN 2580-5932 (Online) Sugara,/ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya 11 (2) 2021, 286 - 300 Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 287 kampung’; (5) manyanggar ‘harus permisi dengan penjaga-penjaga hutan’ kalau tidak dapat menimbulkan bahaya dan memakan korban; (6) jangan membuat gambar (patung) hewan sembarangan di dalam hutan yang ada penunggunya.Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia meliputi: (1) Tidak boleh menikah salah silsilah atau dalam satu garis keturunan yang sama; (2) tidak boleh mengambil atau mengganggu hak orang lain; (3) tidak boleh masuk rumah orang lain tanpa permisi; (4) tidak boleh mangambil buah yang jatuh tanpa izin pemiliknya; dan (5) tidak boleh menyumpahi/mengutuk anak sembarangan.Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan kemampuan spritual adalah (1) tidak boleh tidak memberi makanan untuk penjaga kampung (Pakanan Patahu); (2) tidak boleh lupa dengan Sang Maha Kuasa saat mencari nafkah; (3) tidak boleh menertawakan sapundu; (4) tidak boleh memetik daun sawang di depan sangar patahu. Kata-kata kunci: nilai, representasi, pali, dayak ngaju
Center for Journal Management and Publication, Lambung Mangkurat University
Title: NILAI BUDAYA PALI DAYAK NGAJU (CULTURAL VALUE AS REPRESENTED IN THE PALI OF DAYAK NGAJU)
Description:
Abstract Cultural Values as Represented in the Pali of Dayak Ngaju Community.
This research aims to (1) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards nature, (2) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the human interaction, (3) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the spiritual performance.
This research uses (1) recording techniques, both audio and audiovisual, (2) recording, (3) in-depth interviews, (4) literature study and documentation analysis.
The results of the study show that the representation of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community in relation to nature includes: (1) the prohibition of not asking for permission when going to farming; (2) prohibition to kill animals carelessly while hunting; (3) prohibition of burning forest carelessly; (4) mapas lewu 'cleaning the village'; (5) manyanggar (‘someone should excuse me from the forest rangers’ otherwise it can cause danger and take victims); (6) prohibition of making images (statues) of animals carelessly in a forest inhabited by supernatural beings.
The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community concerning the human interactions, including: (1) prohibitions against marrying in the wrong lineage or the same lineage; (2) prohibition to take or interfere with the rights of others; (3) prohibition of entering another's house without permission; (4) prohibition to pick up the fallen fruit without the owner's consent; and (5) prohibition to swear/curse children carelessly.
The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community to the spiritual performance, including (1) the obligation to provide food to village guards (Pakanan Patahu); (2) the duty to always remember the Almighty while earning a living; (3) prohibition to laugh at broomstick; (4) prohibition of picking sawang leaves in front of the sangar patahu.
Key words: value, representation, multiplier, dayak ngajuAbstrak Nilai Budaya Pali Dayak Ngaju.
Tujuan Penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap alam.
(2) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap interaksi sesama manusia.
(3) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap kemampuan spritual.
Metode atau teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan: (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pencatatan, (3) wawancara yang mendalam, (4) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju yang berhubungan dengan alam meliputi: (1) larangan tidak permisi jika hendak berladang; (2) tidak boleh membunuh binatang sembarangan saat berburu; (3) tidak boleh membakar hutan sembarangan; (4) mapas lewu ‘membersihkan Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 286 - 300 ISSN 2580-5932 (Online) Sugara,/ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya 11 (2) 2021, 286 - 300 Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 287 kampung’; (5) manyanggar ‘harus permisi dengan penjaga-penjaga hutan’ kalau tidak dapat menimbulkan bahaya dan memakan korban; (6) jangan membuat gambar (patung) hewan sembarangan di dalam hutan yang ada penunggunya.
Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia meliputi: (1) Tidak boleh menikah salah silsilah atau dalam satu garis keturunan yang sama; (2) tidak boleh mengambil atau mengganggu hak orang lain; (3) tidak boleh masuk rumah orang lain tanpa permisi; (4) tidak boleh mangambil buah yang jatuh tanpa izin pemiliknya; dan (5) tidak boleh menyumpahi/mengutuk anak sembarangan.
Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan kemampuan spritual adalah (1) tidak boleh tidak memberi makanan untuk penjaga kampung (Pakanan Patahu); (2) tidak boleh lupa dengan Sang Maha Kuasa saat mencari nafkah; (3) tidak boleh menertawakan sapundu; (4) tidak boleh memetik daun sawang di depan sangar patahu.
Kata-kata kunci: nilai, representasi, pali, dayak ngaju.
Related Results
Pilihan Bahasa Dalam Komunikasi Mahasiswa Multietnik Pbsi Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Sma
Pilihan Bahasa Dalam Komunikasi Mahasiswa Multietnik Pbsi Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Sma
This study aims to describe the choice of language in the communication of PBSI muktiethnic students which include: (1) when doing lecture assignments, (2) during HMPS activities, ...
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
MAKNA TENUN IKAT DAYAK SINTANG DITINJAU DARI TEORI SEMIOTIKA SOSIAL THEO VAN LEEUWEN
<p>ABSTRACT<br />Sintang’s Dayak ikat weaving, which is one of the cultural artifacts of Sintang District, West Kalimantan, is used by indigenous peoples (Dayak tribes)...
Pemanfaatan Penawar Sampai (Tinospora crispa L.) sebagai Tanaman Obat Tradisional oleh Suku Dayak Ngaju
Pemanfaatan Penawar Sampai (Tinospora crispa L.) sebagai Tanaman Obat Tradisional oleh Suku Dayak Ngaju
Kehidupan sub rumpun Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah sangat bergantung pada hutan dan alam. Masyarakatnya menggunakan berbagai obat-obatan tradisional yang bermanfaat, salah...
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ANALISIS TUTURAN TRADISI UPACARA LADUNG BIO’ SUKU DAYAK KENYAH LEPO’ TAU DI DESA NAWANG BARU KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN MALINAU: KAJIAN FOLKLOR
ABSTRAK Penulis tertarik mengajikan Tuturan Tradisi Upacara Ladung Bio’ Suku Dayak Kenyah Lepo’ Tau karena Upacara Ladung Bio’ adalah upcara Adat Dayak Kenyah yang sangat penting. ...
ANALISIS NILAI BUDAYA DALAM HIKAYAT BANTA AMAT JILID I DAN II KARYA T. A. SAKTI
ANALISIS NILAI BUDAYA DALAM HIKAYAT BANTA AMAT JILID I DAN II KARYA T. A. SAKTI
This study aims to describe the cultural values contained in the Hikayat Banta Amat Volume I and II by T. A. Sakti. Cultural value is very important to be studied in order to pre...
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Komunitas Adat Dayak Meratus
ABSTRACT
Character education is one of the activities that aims to educate future generations by perfecting students self by training their self-ability towards a better life...
Literary Phenomenology in Ngaju Dayak Folklore
Literary Phenomenology in Ngaju Dayak Folklore
The objectives of this study are describing the phenomenology of plants in Ngaju Dayak folklore and describing the phenomenology of animals in Ngaju Dayak folklore. This research m...
Analisis jurnal ameliya putri
Analisis jurnal ameliya putri
Abstrak Di dalam upacara tiwah ini terdapat banyak leksikon yang berhubungan dengan upacara adat kematian. Leksikon ini mempunyai hubungan erat dengan nilai-nilai adat budaya suku ...

