Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Integrasi Kearifan Lokal Tradisi Perang Topat dalam Inovasi Pembelajaran IPA Berbasis Ekowisata

View through CrossRef
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kontekstualitas pembelajaran IPA di sekolah serta belum optimalnya pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi pengetahuan lokal dalam tradisi Perang Topat di kawasan Pura Lingsar, Lombok, ke dalam konsep-konsep ilmiah IPA serta mengintegrasikannya ke dalam inovasi pembelajaran berbasis ekowisata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif etnosains. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan tokoh adat dan pemandu lokal, serta dokumentasi di kawasan Pura Lingsar dan Kemaliq Lingsar. Teknik analisis data menggunakan model Miles & Huberman (reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan) yang divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Perang Topat mengandung enam konsep ilmiah utama, yaitu: (1) jaringan xilem, floem, dan lignin pada daun kelapa (Biologi, kelas XI); (2) gelatinisasi dan retrogradasi pati (Kimia, kelas XI–XII); (3) gerak parabola (Fisika, kelas XI); (4) hukum III Newton dan impuls-momentum (Fisika, kelas XI); (5) dekomposisi bahan organik dan kimia hijau (Kimia, kelas X); serta (6) polimer alami (Kimia, kelas XII). Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan model Problem Based Learning (PBL) dengan contoh masalah kontekstual yang disesuaikan pada setiap mata pelajaran. Simpulan penelitian ini adalah tradisi Perang Topat memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPA berbasis kearifan lokal dan ekowisata yang dapat meningkatkan literasi sains, berpikir kritis, serta kesadaran lingkungan peserta didik. Rekomendasi penelitian ditujukan bagi guru, sekolah, pemerintah daerah, dan peneliti selanjutnya untuk mengimplementasikan dan menguji efektivitas model pembelajaran berbasis etnosains ini secara lebih luas.   Integration of Local Wisdom of the Topat War Tradition in Ecotourism-Based Science Learning Innovation Abstract This research is motivated by the lack of contextualization in science learning in schools and the suboptimal utilization of local wisdom as a learning resource. The aim of this study is to reconstruct the local knowledge embedded in the Perang Topat tradition in the Pura Lingsar area, Lombok, into scientific science concepts and integrate them into ecotourism-based science learning innovation. A qualitative approach with a descriptive ethnoscience design was employed. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews with traditional elders and local guides, and documentation in the Pura Lingsar and Kemaliq Lingsar areas. Data analysis followed the Miles & Huberman model (reduction, display, conclusion drawing) validated by source and method triangulation. The results revealed that the Perang Topat tradition contains six main scientific concepts: (1) xylem, phloem, and lignin tissues in coconut leaves (Biology, grade XI); (2) starch gelatinization and retrogradation (Chemistry, grades XI–XII); (3) projectile motion (Physics, grade XI); (4) Newton’s Third Law and impulse-momentum (Physics, grade XI); (5) organic matter decomposition and green chemistry (Chemistry, grade X); and (6) natural polymers (Chemistry, grade XII). Based on these findings, a Problem Based Learning (PBL) model was developed with contextual problem examples tailored to each subject. This study concludes that the Perang Topat tradition holds great potential as a source of local wisdom-based and ecotourism-based science learning that can enhance students’ scientific literacy, critical thinking, and environmental awareness. Recommendations are addressed to teachers, schools, local governments, and further researchers to implement and test the effectiveness of this ethnoscience-based learning model more broadly.  
Title: Integrasi Kearifan Lokal Tradisi Perang Topat dalam Inovasi Pembelajaran IPA Berbasis Ekowisata
Description:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kontekstualitas pembelajaran IPA di sekolah serta belum optimalnya pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber belajar.
Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi pengetahuan lokal dalam tradisi Perang Topat di kawasan Pura Lingsar, Lombok, ke dalam konsep-konsep ilmiah IPA serta mengintegrasikannya ke dalam inovasi pembelajaran berbasis ekowisata.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif etnosains.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan tokoh adat dan pemandu lokal, serta dokumentasi di kawasan Pura Lingsar dan Kemaliq Lingsar.
Teknik analisis data menggunakan model Miles & Huberman (reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan) yang divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Perang Topat mengandung enam konsep ilmiah utama, yaitu: (1) jaringan xilem, floem, dan lignin pada daun kelapa (Biologi, kelas XI); (2) gelatinisasi dan retrogradasi pati (Kimia, kelas XI–XII); (3) gerak parabola (Fisika, kelas XI); (4) hukum III Newton dan impuls-momentum (Fisika, kelas XI); (5) dekomposisi bahan organik dan kimia hijau (Kimia, kelas X); serta (6) polimer alami (Kimia, kelas XII).
Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan model Problem Based Learning (PBL) dengan contoh masalah kontekstual yang disesuaikan pada setiap mata pelajaran.
Simpulan penelitian ini adalah tradisi Perang Topat memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPA berbasis kearifan lokal dan ekowisata yang dapat meningkatkan literasi sains, berpikir kritis, serta kesadaran lingkungan peserta didik.
Rekomendasi penelitian ditujukan bagi guru, sekolah, pemerintah daerah, dan peneliti selanjutnya untuk mengimplementasikan dan menguji efektivitas model pembelajaran berbasis etnosains ini secara lebih luas.
  Integration of Local Wisdom of the Topat War Tradition in Ecotourism-Based Science Learning Innovation Abstract This research is motivated by the lack of contextualization in science learning in schools and the suboptimal utilization of local wisdom as a learning resource.
The aim of this study is to reconstruct the local knowledge embedded in the Perang Topat tradition in the Pura Lingsar area, Lombok, into scientific science concepts and integrate them into ecotourism-based science learning innovation.
A qualitative approach with a descriptive ethnoscience design was employed.
Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews with traditional elders and local guides, and documentation in the Pura Lingsar and Kemaliq Lingsar areas.
Data analysis followed the Miles & Huberman model (reduction, display, conclusion drawing) validated by source and method triangulation.
The results revealed that the Perang Topat tradition contains six main scientific concepts: (1) xylem, phloem, and lignin tissues in coconut leaves (Biology, grade XI); (2) starch gelatinization and retrogradation (Chemistry, grades XI–XII); (3) projectile motion (Physics, grade XI); (4) Newton’s Third Law and impulse-momentum (Physics, grade XI); (5) organic matter decomposition and green chemistry (Chemistry, grade X); and (6) natural polymers (Chemistry, grade XII).
Based on these findings, a Problem Based Learning (PBL) model was developed with contextual problem examples tailored to each subject.
This study concludes that the Perang Topat tradition holds great potential as a source of local wisdom-based and ecotourism-based science learning that can enhance students’ scientific literacy, critical thinking, and environmental awareness.
Recommendations are addressed to teachers, schools, local governments, and further researchers to implement and test the effectiveness of this ethnoscience-based learning model more broadly.
 .

Related Results

Strategi Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal sebagai Identitas Nasional di Era Disrupsi
Strategi Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal sebagai Identitas Nasional di Era Disrupsi
Penelitian ini memiliki fokus untuk mengetahui keterkaitan antara kearifan lokal dengan identitas nasional, tantangan kearifan lokal di era disrupsi, dan strategi menjaga eksistens...
Kearifan Lokal Sukur Laut Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut di Pesisir Pantai Pamayang Kecamatan Cipatujah
Kearifan Lokal Sukur Laut Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut di Pesisir Pantai Pamayang Kecamatan Cipatujah
Kearifan lokal tradisi Syukur Laut merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar pesisir pantai Pamayangsari. Kegiatan ini memiliki nilai nilai tradisi yang bisa dikaji...
STUDI KERUANGAN DAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN EKOWISATA MANGROVE DI NEGERI AMAHAI, KABUPATEN MALUKU TENGAH
STUDI KERUANGAN DAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN EKOWISATA MANGROVE DI NEGERI AMAHAI, KABUPATEN MALUKU TENGAH
Ecotourism is a tourist activity that aims to conserve. In its implementation, institutions have a very important role for sustainable ecotourism management. This study aims to det...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
Kearifan Lokal merupakan nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya tradisi pada kelompok masyarakat dari generasi ke generasi yang diwariskan secara turun temurun. Oleh kar...
Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Pembelajaran berbasis kearifan lokal menjadi salah satu pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Kearifan lokal mencerminkan budaya, ni...

Back to Top