Javascript must be enabled to continue!
PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM PENJADWALAN EKONOMIS PADA UNIT – UNIT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL (PLTD) UNTUK MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DI KOTA KUPANG
View through CrossRef
Sistem tenaga listrik yang besar yang memiliki pembangkit-pembangkit termal seperti PLTU, PLTD dan PLTG akan menghadapi permasalahan dalam hal biaya bahan bakar untuk pengoperasiannya. Hal ini disebabkan harga bahan bakar yang cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu, sementara biaya bahan bakar merupakan bagian yang terbesar dari biaya operasi pembangkitan secara keseluruhan, sehingga pengurangan biaya bahan bakar akan menghasilkan operasi pembangkitan yang lebih ekonomis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengatur penjadwalan unit-unit pembangkit PLTD Kota Kupang dan untuk mengetahui perbedaan biaya yang diperlukan setelah unit-unit pembangkit PLTD dioptimisasi dengan menggunakan metode gradient orde dua. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen dan observasi lapangan, yang menekankan pada peluang penghematan penggunaan BBM sehingga diperoleh nilai harga yang lebih murah setelah dilakukan optimisasi pembangkit dan melakukan perancangan perangkat lunak dengan melakukan simulasi dengan menggunakan metode gradient orde dua dan fuzzy logic. Sedangkan pengolahan data menggunakan simulasi dengan perangkat keras komputer PC Pentium I3 dan perangkat lunak MATLAB versi 2010a.Lokasi penelitiaan dilakukan pada PLTD Tenau Kupang dengan pengambilan data penggunaan BBM, daya yang dibangkitkan serta daya terpasang dan daya mampu selama 3 bulan terakhir, yaitu bulan Desember 2012, Januari 2013 dan Pebruari 2013. Data yang digunakan adalah data – data dari pembangkit milik PLN yang terdiri dari MAK I, MAK II, MAK III, MAK IV, MIRRLEES II, MIRRLEES III, CATERPILLAR II dan SULZER 40/48 sebagai data sekunder pada penelitian ini. Pada PLTD Tenau Kupang yang memiliki total 8 pembangkit yang beroperasi pada 3 bulan terakhir ini dan juga beberapa mesin sewaan (rental) guna melayani kebutuhan daya beban. Pada saat beban puncak malam hari, maka semua unit diesel generator tersebut beroperasi, sedangkan diluar waktu beban puncak, maka yang memikul beban adalah dua sampai tiga unit pembangkit yang memiliki daya yang besar dan untuk kenaikan beban tertentu, maka ditambah dengan pengoperasian unit diesel ganerator yang memiliki daya yang sedikit lebih kecil untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Besarnya konsumsi bahan bakar tiap unit pembangkit per kWh dan daya yang dibangkitkan pada tahun 2012 (Desember) dan 2013 (Januari dan Pebruari) dapat dilihat pada Tabel 5.2, 5.3 dan 5.4. Dari Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa selama Tahun 2013 (Februari) unit Mak III merupakan unit yang paling banyak jam operasinya, yaitu 629 dengan pemakaian bahan bakar sebesar 249.839 liter dan energi yang dihasikan sebesar 951.960 kWh. Unit Sulzer 40/48 adalah unit yang paling sedikit jam operasinya, yaitu 302 jam dengan pemakaian bahan bakar sebesar 282.420 liter dan energi yang dihasilkan sebesar 1.009.700 kWh.Dari data Tabel 5.5 terlihat bahwa daya terpasang pembangkit sistem Kupang terbesar adalah PLTD Mirrlees II & III 5,218 MW/unit, kemudian PLTD Caterpillar sebesar 4,896 MW. Sedangkan menurut informasi yang didapat dari PLTD Tenau Kupang, bahwa dengan Faktor Kapasitas (CF) rata-rata 61,08 % untuk Mirrlees II pada Bulan Desember, maka pembangkit Mirrlees II tidak dapat beroperasi membangkitkan daya sesuai daya terpasangnya. Dengan cos phi tiap – tiap pembangkit sebesar 0,9 didapat daya pembangkitan (MVA) dengan cara : contoh daya pembangkitan pada pukul 01.00 per tanggal 16 Desember 2012. Kemudian dari data Tabel 5.7 terlihat bahwa daya terpasang pembangkit sistem Kupang terbesar adalah PLTD Mirrlees I 5,218 MW, kemudian PLTD Caterpillar sebesar 4,896 MW. Menurut informasi yang didapat dari PLTD Tenau Kupang, terjadi penurunan faktor kapasitas pembangkit dari Bulan Desember (2012) ke Januari (2013) dengan Faktor Kapasitas (CF) rata-rata 56,55 %. Selanjutnya, untuk Mirrlees II di Bulan Januari, maka pembangkit Mirrlees II tidak dapat beroperasi membangkitkan daya sesuai daya terpasangnya.
Title: PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM PENJADWALAN EKONOMIS PADA UNIT – UNIT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL (PLTD) UNTUK MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DI KOTA KUPANG
Description:
Sistem tenaga listrik yang besar yang memiliki pembangkit-pembangkit termal seperti PLTU, PLTD dan PLTG akan menghadapi permasalahan dalam hal biaya bahan bakar untuk pengoperasiannya.
Hal ini disebabkan harga bahan bakar yang cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu, sementara biaya bahan bakar merupakan bagian yang terbesar dari biaya operasi pembangkitan secara keseluruhan, sehingga pengurangan biaya bahan bakar akan menghasilkan operasi pembangkitan yang lebih ekonomis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengatur penjadwalan unit-unit pembangkit PLTD Kota Kupang dan untuk mengetahui perbedaan biaya yang diperlukan setelah unit-unit pembangkit PLTD dioptimisasi dengan menggunakan metode gradient orde dua.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen dan observasi lapangan, yang menekankan pada peluang penghematan penggunaan BBM sehingga diperoleh nilai harga yang lebih murah setelah dilakukan optimisasi pembangkit dan melakukan perancangan perangkat lunak dengan melakukan simulasi dengan menggunakan metode gradient orde dua dan fuzzy logic.
Sedangkan pengolahan data menggunakan simulasi dengan perangkat keras komputer PC Pentium I3 dan perangkat lunak MATLAB versi 2010a.
Lokasi penelitiaan dilakukan pada PLTD Tenau Kupang dengan pengambilan data penggunaan BBM, daya yang dibangkitkan serta daya terpasang dan daya mampu selama 3 bulan terakhir, yaitu bulan Desember 2012, Januari 2013 dan Pebruari 2013.
Data yang digunakan adalah data – data dari pembangkit milik PLN yang terdiri dari MAK I, MAK II, MAK III, MAK IV, MIRRLEES II, MIRRLEES III, CATERPILLAR II dan SULZER 40/48 sebagai data sekunder pada penelitian ini.
Pada PLTD Tenau Kupang yang memiliki total 8 pembangkit yang beroperasi pada 3 bulan terakhir ini dan juga beberapa mesin sewaan (rental) guna melayani kebutuhan daya beban.
Pada saat beban puncak malam hari, maka semua unit diesel generator tersebut beroperasi, sedangkan diluar waktu beban puncak, maka yang memikul beban adalah dua sampai tiga unit pembangkit yang memiliki daya yang besar dan untuk kenaikan beban tertentu, maka ditambah dengan pengoperasian unit diesel ganerator yang memiliki daya yang sedikit lebih kecil untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Besarnya konsumsi bahan bakar tiap unit pembangkit per kWh dan daya yang dibangkitkan pada tahun 2012 (Desember) dan 2013 (Januari dan Pebruari) dapat dilihat pada Tabel 5.
2, 5.
3 dan 5.
4.
Dari Tabel 5.
4 dapat dilihat bahwa selama Tahun 2013 (Februari) unit Mak III merupakan unit yang paling banyak jam operasinya, yaitu 629 dengan pemakaian bahan bakar sebesar 249.
839 liter dan energi yang dihasikan sebesar 951.
960 kWh.
Unit Sulzer 40/48 adalah unit yang paling sedikit jam operasinya, yaitu 302 jam dengan pemakaian bahan bakar sebesar 282.
420 liter dan energi yang dihasilkan sebesar 1.
009.
700 kWh.
Dari data Tabel 5.
5 terlihat bahwa daya terpasang pembangkit sistem Kupang terbesar adalah PLTD Mirrlees II & III 5,218 MW/unit, kemudian PLTD Caterpillar sebesar 4,896 MW.
Sedangkan menurut informasi yang didapat dari PLTD Tenau Kupang, bahwa dengan Faktor Kapasitas (CF) rata-rata 61,08 % untuk Mirrlees II pada Bulan Desember, maka pembangkit Mirrlees II tidak dapat beroperasi membangkitkan daya sesuai daya terpasangnya.
Dengan cos phi tiap – tiap pembangkit sebesar 0,9 didapat daya pembangkitan (MVA) dengan cara : contoh daya pembangkitan pada pukul 01.
00 per tanggal 16 Desember 2012.
Kemudian dari data Tabel 5.
7 terlihat bahwa daya terpasang pembangkit sistem Kupang terbesar adalah PLTD Mirrlees I 5,218 MW, kemudian PLTD Caterpillar sebesar 4,896 MW.
Menurut informasi yang didapat dari PLTD Tenau Kupang, terjadi penurunan faktor kapasitas pembangkit dari Bulan Desember (2012) ke Januari (2013) dengan Faktor Kapasitas (CF) rata-rata 56,55 %.
Selanjutnya, untuk Mirrlees II di Bulan Januari, maka pembangkit Mirrlees II tidak dapat beroperasi membangkitkan daya sesuai daya terpasangnya.
Related Results
PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM PENJADWALAN EKONOMIS PADA UNIT – UNIT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL (PLTD) UNTUK MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DI KOTA KUPANG
PERANCANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM PENJADWALAN EKONOMIS PADA UNIT – UNIT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL (PLTD) UNTUK MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DI KOTA KUPANG
Sistem tenaga listrik yang besar yang memiliki pembangkit-pembangkit termal seperti PLTU, PLTD dan PLTG akan menghadapi permasalahan dalam hal biaya bahan bakar untuk pengoperasia...
PENGGUNAAN MINYAK JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL
PENGGUNAAN MINYAK JAGUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL
Bahan bakar minyak (BBM) merupakan permintaan energi global terbesar yang konsumsinya diperkirakan oleh Energy Information Administration (bagian dari Departemen Energi AS) meningk...
Analisa Keekonomian dan Optimalisasi Sistem Pembangkit Listrik Hybrid Tenaga Diesel, Tenaga Surya dan Tenaga Hydrogen pada Pulau Sebesi Provinsi Lampung
Analisa Keekonomian dan Optimalisasi Sistem Pembangkit Listrik Hybrid Tenaga Diesel, Tenaga Surya dan Tenaga Hydrogen pada Pulau Sebesi Provinsi Lampung
Pulau Sebesi di Provinsi Lampung saat ini masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) untuk kebutuhan energinya, dengan beban rata-rata sebesar 100 kW dan biaya poko...
Optimasi Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid di Pulau Enggano
Optimasi Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid di Pulau Enggano
Pulau Enggano merupakan salah satu wilayah terluar yang menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebagai sumber energi listriknya. PLTD yang mulai beroperasi sejak tahun...
ANALISA PENGARUH CAMPURAN BIOETANOL DALAM PREMIUM PADA SEPEDA MOTOR
ANALISA PENGARUH CAMPURAN BIOETANOL DALAM PREMIUM PADA SEPEDA MOTOR
Kelangkaan bahan bakar merupakan masalah yang sering terjadi dan umum di Negara Indonesia. Masalah ini adalah salah satu masalah yang sangat berdampak pada masyarakat, terutama mas...
Perbaikan Keandalan PLTU Tembilahan dengan Penambahan Kapasitas Pembangkit
Perbaikan Keandalan PLTU Tembilahan dengan Penambahan Kapasitas Pembangkit
Untuk memastikan keandalan sistem pembangkit yang baik, adanya unit pembangkit yang beroperasi atau cadangan daya yang memadai di sistem pembangkit sangatlah penting. Ketersediaan ...
Studi Kelayakan Aspek Finansial Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Piko-hidro untuk Listrik Desa dengan Penggerak Mula Pompa Sentrifugal Sebagai Turbin
Studi Kelayakan Aspek Finansial Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Piko-hidro untuk Listrik Desa dengan Penggerak Mula Pompa Sentrifugal Sebagai Turbin
Pompa sebagai turbin (PST) merupakan salah satu solusi yang ditawarkan oleh para peneliti agar masyarakat lebih mudah mendapatkan turbin air untuk pembangkit listrik tenaga piko-hi...
Optimasi Penjadwalan Ekonomis Pembangkit Pada Sistem Tenaga Menggunakan Algoritma ABC
Optimasi Penjadwalan Ekonomis Pembangkit Pada Sistem Tenaga Menggunakan Algoritma ABC
Pada umumnya sistem tenaga listrik disalurkan dari pembangkit tenaga listrik menuju ke pusat beban melalui saluran transmisi dan distribusi. Letak pusat pembangkit tenaga listrik t...

