Javascript must be enabled to continue!
Konsep Zonasi Pulau Penyengat: Sebuah Alternatif
View through CrossRef
Abstract. Zoning Concept of Pulau Penyengat: An Alternative. Pulau Penyengat in the Province of Riau Islands could considered as the only region that has an intact cultural heritage buildings with Malay colour characteristic. Pulau Penyengat is an island of 3.5 km². There are dozens of buildings and structures whose functions can still be identified and there are at least 16 which are still intact but neglected. The existence of these remains convinced us that the center of Malay culture is in Riau region. This study is to discuss the concept of zoning at each sites in Pulau Penyengat that can be used as reference when the island is designated as heritage area. Important values embodied in the cultural heritage is also studied. This multidisciplinary study uses qualitative approach. Data is obtained through field observation, identification of cultural heritage, indepth-interviews, focused group discussion (FGD), and zoning delineation for each site. The data is analyzed through architectural, historical, cultural, development zoning, and law analysis. The result of this study is concept of zoning for all sites in the region of Pulau Penyengat. Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau dapat dikatakan satu-satunya wilayah yang memiliki peninggalan budaya bangunan yang masih utuh dengan ciri warna kemelayuan. Pulau Penyengat berupa pulau seluas 3,5 km². Di dalamnya terdapat puluhan bangunan dan struktur yang masih dapat diidentifikasikan fungsinya dan sekurang-kurangnya ada 16 yang masih utuh meskipun tidak terurus. Keberadaan peninggalan tersebut itulah yang meyakinkan kita bahwa kebudayaan Melayu berpusat di wilayah Riau. Studi ini berkenaan dengan pembahasan konsep zonasi pada masing-masing situs di Pulau Penyengat yang dapat dijadikan acuan apabila ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Selain itu, digali nilai-nilai penting yang terkandung pada warisan budayanya. Dalam studi multidisiplin ini digunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, identifikasi cagar budaya, indepth-interview, focused group discussion (FGD), dan delineasi untuk zonasi setiap situs. Data tersebut dikaji melalui analisis arsitektural, sejarah, budaya, pengembangan zonasi, dan hukum. Studi ini menghasilkan sebuah konsep zonasi semua situs di Kawasan Pulau Penyengat.
National Research and Innovation Agency
Title: Konsep Zonasi Pulau Penyengat: Sebuah Alternatif
Description:
Abstract.
Zoning Concept of Pulau Penyengat: An Alternative.
Pulau Penyengat in the Province of Riau Islands could considered as the only region that has an intact cultural heritage buildings with Malay colour characteristic.
Pulau Penyengat is an island of 3.
5 km².
There are dozens of buildings and structures whose functions can still be identified and there are at least 16 which are still intact but neglected.
The existence of these remains convinced us that the center of Malay culture is in Riau region.
This study is to discuss the concept of zoning at each sites in Pulau Penyengat that can be used as reference when the island is designated as heritage area.
Important values embodied in the cultural heritage is also studied.
This multidisciplinary study uses qualitative approach.
Data is obtained through field observation, identification of cultural heritage, indepth-interviews, focused group discussion (FGD), and zoning delineation for each site.
The data is analyzed through architectural, historical, cultural, development zoning, and law analysis.
The result of this study is concept of zoning for all sites in the region of Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau dapat dikatakan satu-satunya wilayah yang memiliki peninggalan budaya bangunan yang masih utuh dengan ciri warna kemelayuan.
Pulau Penyengat berupa pulau seluas 3,5 km².
Di dalamnya terdapat puluhan bangunan dan struktur yang masih dapat diidentifikasikan fungsinya dan sekurang-kurangnya ada 16 yang masih utuh meskipun tidak terurus.
Keberadaan peninggalan tersebut itulah yang meyakinkan kita bahwa kebudayaan Melayu berpusat di wilayah Riau.
Studi ini berkenaan dengan pembahasan konsep zonasi pada masing-masing situs di Pulau Penyengat yang dapat dijadikan acuan apabila ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.
Selain itu, digali nilai-nilai penting yang terkandung pada warisan budayanya.
Dalam studi multidisiplin ini digunakan pendekatan kualitatif.
Data diperoleh melalui observasi lapangan, identifikasi cagar budaya, indepth-interview, focused group discussion (FGD), dan delineasi untuk zonasi setiap situs.
Data tersebut dikaji melalui analisis arsitektural, sejarah, budaya, pengembangan zonasi, dan hukum.
Studi ini menghasilkan sebuah konsep zonasi semua situs di Kawasan Pulau Penyengat.
Related Results
Analisis Percepatan Pekerjaan Proyek Menggunakan Metode Zonasi Dan Non Zonasi (Studi Kasus Proyek Pembangunan Km House Dharmahusada Indah Timur Blok M No. 8)
Analisis Percepatan Pekerjaan Proyek Menggunakan Metode Zonasi Dan Non Zonasi (Studi Kasus Proyek Pembangunan Km House Dharmahusada Indah Timur Blok M No. 8)
Dalam pelaksanaan proyek rumah mewah yang dilaksanakan terutama pada kota Surabaya pada umumnya pekerjaan proyek menggunakan sistem non-zonasi dengan RAB yang besar,waktu yang lama...
Model Komunikasi Pemerintahan Kota Tanjung Pinang Dalam Pengembangan Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau
Model Komunikasi Pemerintahan Kota Tanjung Pinang Dalam Pengembangan Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau
Kawasan Pulau Penyengat merupakan destinasi wisata yang memiliki karakteristik khusus di indonesia, namun dalam pengelolaannya masih menghadapi banyak kendala seperti kurangnya ket...
FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT
FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT
Konfigurasi ruang permukiman pesisir di Pulau Penyengat bukan hanya terbentuk dari geomorfologi fisik lingkungannya, namun terkait dengan peristiwa masa lalu dan kondisi sosial bu...
Service Learning Program: Student Motivation in SMP Negeri 9 Tanjungpinang
Service Learning Program: Student Motivation in SMP Negeri 9 Tanjungpinang
Riau Islands is one of the provinces in Indonesia and has various cultures in it but the most striking is Malay culture and is located on one of the islands, namely Penyengat Islan...
Sistem Pewarisan Tari Zapin Penyengat di Pulau Penyengat Inderasakti Kepulauan Riau
Sistem Pewarisan Tari Zapin Penyengat di Pulau Penyengat Inderasakti Kepulauan Riau
This research aims to determine the inheritance system of the Zapin Penyengat dance in a closed and open manner on Penyengat Inderasakti Island, Riau Island. Inheritance activity i...
KAJIAN PRO KONTRA PENERAPAN SISTEM ZONASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
KAJIAN PRO KONTRA PENERAPAN SISTEM ZONASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Indonesia berupaya meningkatkan pemerataan pendidikan melalui sistem zonasi yang mengatur penerimaan peserta didik didasarkan pada jarak sekolah dengan tempat tinggal calon peserta...
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENYEBARAN DAERAH ZONASI MANGROVE DI PULAU AMBON
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PENYEBARAN DAERAH ZONASI MANGROVE DI PULAU AMBON
Sistem informasi geografis tentang zonasi penyebaran mangrove ini akan lebih mempermudah masyarakat untuk memperoleh informasi tentang zonasi penyebaran mangrove di pulau ambon. Si...
Implementasi Kebijakan Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru bagi Lulusan Madrasah Ibtidaiyah di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan
Implementasi Kebijakan Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru bagi Lulusan Madrasah Ibtidaiyah di SMP Negeri 1 Bengkulu Selatan
Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena implementasi penerimaan peserta didik baru dalam penyesuaian kebijakan penerimaan peserta didik baru sistem zonasi, peneliti menyoroti sala...

