Javascript must be enabled to continue!
FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT
View through CrossRef
Konfigurasi ruang permukiman pesisir di Pulau Penyengat bukan hanya terbentuk dari geomorfologi fisik lingkungannya, namun terkait dengan peristiwa masa lalu dan kondisi sosial budaya masyarakat yang membentuknya. Penelitian ini penting dalam rangka mengungkapkan tema keruangan permukiman yang berimplikasi dalam menyusun konsep keruangan sehingga dapat berkontribusi terkait penyusunan kebijakan perencanaan dan perancangan kawasan permukiman bersejarah di Pulau Penyengat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Grounded Theory dalam paradigma penelitian kualitatif untuk menjawab atas permasalahan dasar penelitian, yakni bagaimanakah fenomena keruangan permukiman pesisir terkait dengan pertumbuhannya dalam upaya mengungkapkan tema keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat. Temuan dalam penelitian menunjukan bahwa fenomena keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat telah mengalami enam fase pertumbuhan yang terkait dengan konfigurasi ruang permukiman pesisir dalam empat tema penting, yakni: translasi ruang cagar budaya dan warisan; interseksi ruang sosial pada ruang pesisir; interaksi ruang sosial dalam ruang ritual dan ziarah, dan; simbolik ruang spiritual dan kekuasaan. Kata kunci: Pertumbuhan Kota, Permukiman Pesisir, Konfigurasi Ruang, Grounded Theory, Pulau Warisan ABSTRACTSpace configuration of coastal settlement in Penyengat Island was not formed by the physical geomorphological only, but related with historical events and socio-cultural aspects. This research is important in order to reveal the theme of spatial settlements and have implications in composing spatial concept. It can contribute to the policy of planning and design in Penyengat Island as the historic settlement area. This study uses the Grounded Theory approach in a qualitative research paradigm to answer the basic problem of research, namely how the spatial settlement phenomenon in Pulau Penyengat related to the space configuration of coastal settlement. The findings in this study show that spatial phenomena formed in Penyengat Island are not only related to the physical themes of the waterfront areas that tend to be linear, but related to four important themes: translation of cultural heritage and heritage space; intersection of social space in coastal space; the interaction of social space in ritual and pilgrim, and; symbolic of spiritual and power spaces. Keywords : Urban Growth, Coastal Settlements, Space Configuration, Grounded Theory, Herritage Island
Title: FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT
Description:
Konfigurasi ruang permukiman pesisir di Pulau Penyengat bukan hanya terbentuk dari geomorfologi fisik lingkungannya, namun terkait dengan peristiwa masa lalu dan kondisi sosial budaya masyarakat yang membentuknya.
Penelitian ini penting dalam rangka mengungkapkan tema keruangan permukiman yang berimplikasi dalam menyusun konsep keruangan sehingga dapat berkontribusi terkait penyusunan kebijakan perencanaan dan perancangan kawasan permukiman bersejarah di Pulau Penyengat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Grounded Theory dalam paradigma penelitian kualitatif untuk menjawab atas permasalahan dasar penelitian, yakni bagaimanakah fenomena keruangan permukiman pesisir terkait dengan pertumbuhannya dalam upaya mengungkapkan tema keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat.
Temuan dalam penelitian menunjukan bahwa fenomena keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat telah mengalami enam fase pertumbuhan yang terkait dengan konfigurasi ruang permukiman pesisir dalam empat tema penting, yakni: translasi ruang cagar budaya dan warisan; interseksi ruang sosial pada ruang pesisir; interaksi ruang sosial dalam ruang ritual dan ziarah, dan; simbolik ruang spiritual dan kekuasaan.
Kata kunci: Pertumbuhan Kota, Permukiman Pesisir, Konfigurasi Ruang, Grounded Theory, Pulau Warisan ABSTRACTSpace configuration of coastal settlement in Penyengat Island was not formed by the physical geomorphological only, but related with historical events and socio-cultural aspects.
This research is important in order to reveal the theme of spatial settlements and have implications in composing spatial concept.
It can contribute to the policy of planning and design in Penyengat Island as the historic settlement area.
This study uses the Grounded Theory approach in a qualitative research paradigm to answer the basic problem of research, namely how the spatial settlement phenomenon in Pulau Penyengat related to the space configuration of coastal settlement.
The findings in this study show that spatial phenomena formed in Penyengat Island are not only related to the physical themes of the waterfront areas that tend to be linear, but related to four important themes: translation of cultural heritage and heritage space; intersection of social space in coastal space; the interaction of social space in ritual and pilgrim, and; symbolic of spiritual and power spaces.
Keywords : Urban Growth, Coastal Settlements, Space Configuration, Grounded Theory, Herritage Island.
Related Results
Konsep Zonasi Pulau Penyengat: Sebuah Alternatif
Konsep Zonasi Pulau Penyengat: Sebuah Alternatif
Abstract. Zoning Concept of Pulau Penyengat: An Alternative. Pulau Penyengat in the Province of Riau Islands could considered as the only region that has an intact cultural heritag...
Model Komunikasi Pemerintahan Kota Tanjung Pinang Dalam Pengembangan Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau
Model Komunikasi Pemerintahan Kota Tanjung Pinang Dalam Pengembangan Wisata Pulau Penyengat Kepulauan Riau
Kawasan Pulau Penyengat merupakan destinasi wisata yang memiliki karakteristik khusus di indonesia, namun dalam pengelolaannya masih menghadapi banyak kendala seperti kurangnya ket...
Service Learning Program: Student Motivation in SMP Negeri 9 Tanjungpinang
Service Learning Program: Student Motivation in SMP Negeri 9 Tanjungpinang
Riau Islands is one of the provinces in Indonesia and has various cultures in it but the most striking is Malay culture and is located on one of the islands, namely Penyengat Islan...
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau dan Prasarana Lingkungan Permukiman Kekalik Timur Kota Mataram
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau dan Prasarana Lingkungan Permukiman Kekalik Timur Kota Mataram
Lingkungan permukiman Kekalik Timur mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan, hal ini dapat mempengaruhi ruang terbuka hijau dan ketersediaan prasarana lingkungan ya...
Sistem Pewarisan Tari Zapin Penyengat di Pulau Penyengat Inderasakti Kepulauan Riau
Sistem Pewarisan Tari Zapin Penyengat di Pulau Penyengat Inderasakti Kepulauan Riau
This research aims to determine the inheritance system of the Zapin Penyengat dance in a closed and open manner on Penyengat Inderasakti Island, Riau Island. Inheritance activity i...
PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH MASYARAKAT PESISIR DI DESA SANGSIT
PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH MASYARAKAT PESISIR DI DESA SANGSIT
Desa Sangsit merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Buleleng yang memiliki sumberdaya kelautan yang potensial. Kenyataan ini didukung dengan peningkatan produktivitas hasil tangka...
Identifikasi Pola Permukiman dan Saluran Pemasaran Pertanian Komoditi Hortikultura di Kecamatan Suliki
Identifikasi Pola Permukiman dan Saluran Pemasaran Pertanian Komoditi Hortikultura di Kecamatan Suliki
Pola permukiman yang ada di pedesaan akan mempengaruhi bagaimana distribusi hasil pertanian dilakukan. Pola permukiman yang efisien dan strategis dapat mempengaruhi aksesibilitas p...
KAJIAN PENDATAAN KAWASAN PERMUKIMAN BERBASIS SIG DI KOTA TANGERANG
KAJIAN PENDATAAN KAWASAN PERMUKIMAN BERBASIS SIG DI KOTA TANGERANG
Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan permukiman di suatu wilayah semakin tinggi. Ketersedian lahan yang terbatas sehingga mengakibatkan pembangunan bergerak ke p...

