Javascript must be enabled to continue!
Karakteristik Papeda Instan Pati Sagu
View through CrossRef
<p>Dalam rangka menunjang program pemerintah di bidang ketahanan pangan, diperlukan upaya mencari sumber bahan baku alternatif sebagai cadangan bahan makanan untuk menambah ragam produk pangan. Pati sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, tetapi komposisi gizi lainnya masih kurang. Berdasarkan kondisi yang ada, telah dilakukan kegiatan penelitian pengolahan pati sagu menjadi papeda instan yang diperkaya tepung kacang kedelai dan kacang hijau. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia serta organoleptik produk papeda instan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Palma-Manado-Sulut, Seafast IPB, Laboratorium Kimia dan Biokimia serta Laboratorium Rekayasa-Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, UGM-Yogyakarta. Perlakukan terdiri dari perbandingan pati sagu, tepung kedelai, dan tepung kacang hijau, masing-masing adalah Formula A=8,50: 0 :0; Formula B= 7,5: 0,5 : 0,5; Formula C= 6,5: 1: 1; Formula D= 5,5: 1,5 : 1,5. Hasil penelitian menunjukan, bahwa empat formula papeda instan yang dihasilkan memiliki kadar protein 4,53%-13,28%; lemak 0,25%-1,66%, abu 0,95%-2,13%, air 5,34%-6,84%, karbohidrat 7,69%-87,56%, pati 43,32%-59,25%, amilosa 16,37%-30,32%. Formula A tergolong berprotein rendah hanya 4,53%, sedangkan formula B, C dan D berada pada kisaran bahan makanan pokok beras. Berdasarkan uji organoleptik, warna berkisar 3,60-4,2 (biasa sampai suka), aroma 3,60-4,00 (biasa sampai suka) dan rasa 4,0-4,6 (suka sampai mendekati sangat suka). Pengukuran warna menggunakan Chromameter Konica Minolta CR-400 menunjukkan bahwa produk masih dominan putih, karena nilai keputihan berkisar 78,51-80,09. Secara umum karakteristik kimia papeda instan hampir mendekati karakteristik beras putih, karena telah diperkaya dengan penambahan tepung kedelai, sehingga kadar protein meningkat, serta dari uji organoleptik yang meliputi warna, aroma dan rasa panelis menyatakan biasa dan sangat suka.</p>
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Title: Karakteristik Papeda Instan Pati Sagu
Description:
<p>Dalam rangka menunjang program pemerintah di bidang ketahanan pangan, diperlukan upaya mencari sumber bahan baku alternatif sebagai cadangan bahan makanan untuk menambah ragam produk pangan.
Pati sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, tetapi komposisi gizi lainnya masih kurang.
Berdasarkan kondisi yang ada, telah dilakukan kegiatan penelitian pengolahan pati sagu menjadi papeda instan yang diperkaya tepung kacang kedelai dan kacang hijau.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia serta organoleptik produk papeda instan.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Palma-Manado-Sulut, Seafast IPB, Laboratorium Kimia dan Biokimia serta Laboratorium Rekayasa-Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, UGM-Yogyakarta.
Perlakukan terdiri dari perbandingan pati sagu, tepung kedelai, dan tepung kacang hijau, masing-masing adalah Formula A=8,50: 0 :0; Formula B= 7,5: 0,5 : 0,5; Formula C= 6,5: 1: 1; Formula D= 5,5: 1,5 : 1,5.
Hasil penelitian menunjukan, bahwa empat formula papeda instan yang dihasilkan memiliki kadar protein 4,53%-13,28%; lemak 0,25%-1,66%, abu 0,95%-2,13%, air 5,34%-6,84%, karbohidrat 7,69%-87,56%, pati 43,32%-59,25%, amilosa 16,37%-30,32%.
Formula A tergolong berprotein rendah hanya 4,53%, sedangkan formula B, C dan D berada pada kisaran bahan makanan pokok beras.
Berdasarkan uji organoleptik, warna berkisar 3,60-4,2 (biasa sampai suka), aroma 3,60-4,00 (biasa sampai suka) dan rasa 4,0-4,6 (suka sampai mendekati sangat suka).
Pengukuran warna menggunakan Chromameter Konica Minolta CR-400 menunjukkan bahwa produk masih dominan putih, karena nilai keputihan berkisar 78,51-80,09.
Secara umum karakteristik kimia papeda instan hampir mendekati karakteristik beras putih, karena telah diperkaya dengan penambahan tepung kedelai, sehingga kadar protein meningkat, serta dari uji organoleptik yang meliputi warna, aroma dan rasa panelis menyatakan biasa dan sangat suka.
</p>.
Related Results
Sago SENTRA PENGOLAHAN PATI SAGU DI KAMPUNG TAMBAT KABUPATEN MERAUKE
Sago SENTRA PENGOLAHAN PATI SAGU DI KAMPUNG TAMBAT KABUPATEN MERAUKE
Abstrak
Potensi sagu di Kabupaten Merauke sangat besar apabila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Papua. Sagu adalah tanaman dengan nilai sosial budaya dan eko...
Analisis Pemanfaatan Abu Ampas Sagu Terhadap Nilai Karakteristik dan Deformasi Pada Campuran Beton Aspal
Analisis Pemanfaatan Abu Ampas Sagu Terhadap Nilai Karakteristik dan Deformasi Pada Campuran Beton Aspal
Di Indonesia potensi tumbuhan sagu tumbuh di beberapa daerah seperti Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, dan R...
Analisis Kuat Tarik Tidak Langsung Dengan Durabilitas Penggunaan Abu Ampas Sagu Sebagai Filler pada Campuran
Analisis Kuat Tarik Tidak Langsung Dengan Durabilitas Penggunaan Abu Ampas Sagu Sebagai Filler pada Campuran
Salah satu upaya yang juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja pelayanan dari perkerasan jalan adalah dengan menerapkan suatu melakukan inovasi dengan menggunakan bahan tamb...
Analisis Kimia Pati Sagu dari Berbagai Pati Lokal
Analisis Kimia Pati Sagu dari Berbagai Pati Lokal
Salah satu potensi di Indonesia yang dapat dikembangkan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri adalah tanaman sagu. Tanaman sagu mudah dibudidayakan dan tidak membutuhkan per...
HUMANISME DALAM CERITA RAKYAT DI KABUPATEN PATI
HUMANISME DALAM CERITA RAKYAT DI KABUPATEN PATI
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk etika humanisme sastra profetik dan faktor-faktor yang melatarbelakangi tokoh beretika humanisme di dalam cerita rakyat...
Penetapan Kadar Amilosa Pada Mi Sagu Secara Spektrofotometri Uv-Vis
Penetapan Kadar Amilosa Pada Mi Sagu Secara Spektrofotometri Uv-Vis
Sagu merupakan bahan pangan yang cukup potensial sebagai sumber karbohidrat karena hampir seluruhnya berupa pati. Pati memiliki dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa me...
Breastfeeding Self Efficacy dengan Pemberian ASI Ekslusif pada Ibu Menyusui di Desa Margorejo Kabupaten Pati
Breastfeeding Self Efficacy dengan Pemberian ASI Ekslusif pada Ibu Menyusui di Desa Margorejo Kabupaten Pati
Exclusive breastfeeding is very important for babies. In Central Java there is low breastfeeding coverage, namely in Pati Regency at 75.6%. The lowest breastfeeding coverage is at ...
INOVASI MAL PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN PATI JAWA TENGAH
INOVASI MAL PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN PATI JAWA TENGAH
Kualitas layanan yang diberikan oleh pemerintah masih dianggap buruk oleh sebagian besar masyarakat. Hal tersebut dikarenakan adanya pungutan liar dan prosedur yang berbelit-belit ...

