Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Identifikasi Kerentanan Bencana Bajir di Kecamatan Bojoangsoang Kabupaten Bandung

View through CrossRef
Abstract. The Bojongsoang Sub-district, Bandung Regency, often falls victim to flood disasters. In Bojongsoang, each aspect of its vulnerability presents its own set of problems. Socially, nearly half of Bojongsoang's population lives in poverty. Physically, low-lying terrain and uneven distribution of educational and healthcare facilities pose significant challenges, compounded by flood disasters necessitating budget allocations for infrastructure repairs. Economically, agriculture and animal husbandry contribute the least, despite agriculture occupying the largest land area, indicating a disparity between income and productivity. Environmentally, the predominant use of land for rice paddies and shrubland exacerbates waste management issues and industrial pollution. Therefore, it is crucial to address Bojongsoang's vulnerability to future floods. Hence, the research objective is to identify flood-prone areas in Bojongsoang, using vulnerability analysis referencing PERKA BNPB No. 2 of 2012, encompassing social, physical, economic, and environmental analyses, merged into total flood vulnerability assessment. Based on the research, Bojongsoang has a total of 10,203 residents exposed to moderate social vulnerability, with an estimated physical loss of approximately ± Rp. 48.8 trillion, and an economic loss of around Rp. 1,096,516,125, with low environmental vulnerability. Overall, villages in Bojongsoang demonstrate moderate vulnerability, with Tegalluar Village having the highest flood vulnerability index, and Cipagalo Village having the lowest vulnerability index among the four villages. Abstrak. Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, sering kali menjadi korban bencana banjir. Di Kecamatan Bojongsoang, tiap aspek kerentanannya memiliki masalah tersendiri. Secara sosial, hampir setengah dari populasi Kecamatan Bojongsoang hidup dalam kemiskinan. Secara fisik, dataran rendah dan ketidakmerataan sarana pendidikan serta kesehatan menjadi masalah utama, ditambah lagi dengan bencana banjir yang mengharuskan anggaran untuk perbaikan infrastruktur. Secara ekonomi, pertanian dan peternakan memiliki kontribusi terkecil, meskipun luas lahan pertanian adalah yang terbesar, menandakan ketimpangan antara pendapatan dan produktivitas. Secara lingkungan, penggunaan lahan yang didominasi oleh pesawahan dan semak belukar memperparah masalah sampah dan polusi industri. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kerentanan Kecamatan Bojongsoang terhadap banjir di masa depan. Sehingga tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi daerah rawan banjir di Kecamatan Bojongsoang. dengan menggunakan analisis kerentanan mengacu pada PERKA BNPB No.2 Tahun 2012, mencakup analisis sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan, yang digabungkan menjadi kerentanan total terhadap banjir. Berdasarkan penelitian, Kecamatan Bojongsoang memiliki total 10.203 penduduk terpapar dengan kerentanan sosial sedang, dengan estimasi kerugian fisik sekitar Rp. ± 48,8 Triliun, dan kerugian ekonomi sekitar Rp. 1.096.516.125, serta kerentanan lingkungan yang tergolong rendah. Secara keseluruhan, desa-desa di Kecamatan Bojongsoang menunjukkan kerentanan sedang, dengan Desa Tegalluar memiliki indeks kerentanan banjir tertinggi, dan Desa Cipagalo memiliki indeks kerentanan terendah.
Title: Identifikasi Kerentanan Bencana Bajir di Kecamatan Bojoangsoang Kabupaten Bandung
Description:
Abstract.
The Bojongsoang Sub-district, Bandung Regency, often falls victim to flood disasters.
In Bojongsoang, each aspect of its vulnerability presents its own set of problems.
Socially, nearly half of Bojongsoang's population lives in poverty.
Physically, low-lying terrain and uneven distribution of educational and healthcare facilities pose significant challenges, compounded by flood disasters necessitating budget allocations for infrastructure repairs.
Economically, agriculture and animal husbandry contribute the least, despite agriculture occupying the largest land area, indicating a disparity between income and productivity.
Environmentally, the predominant use of land for rice paddies and shrubland exacerbates waste management issues and industrial pollution.
Therefore, it is crucial to address Bojongsoang's vulnerability to future floods.
Hence, the research objective is to identify flood-prone areas in Bojongsoang, using vulnerability analysis referencing PERKA BNPB No.
2 of 2012, encompassing social, physical, economic, and environmental analyses, merged into total flood vulnerability assessment.
Based on the research, Bojongsoang has a total of 10,203 residents exposed to moderate social vulnerability, with an estimated physical loss of approximately ± Rp.
48.
8 trillion, and an economic loss of around Rp.
1,096,516,125, with low environmental vulnerability.
Overall, villages in Bojongsoang demonstrate moderate vulnerability, with Tegalluar Village having the highest flood vulnerability index, and Cipagalo Village having the lowest vulnerability index among the four villages.
Abstrak.
Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, sering kali menjadi korban bencana banjir.
Di Kecamatan Bojongsoang, tiap aspek kerentanannya memiliki masalah tersendiri.
Secara sosial, hampir setengah dari populasi Kecamatan Bojongsoang hidup dalam kemiskinan.
Secara fisik, dataran rendah dan ketidakmerataan sarana pendidikan serta kesehatan menjadi masalah utama, ditambah lagi dengan bencana banjir yang mengharuskan anggaran untuk perbaikan infrastruktur.
Secara ekonomi, pertanian dan peternakan memiliki kontribusi terkecil, meskipun luas lahan pertanian adalah yang terbesar, menandakan ketimpangan antara pendapatan dan produktivitas.
Secara lingkungan, penggunaan lahan yang didominasi oleh pesawahan dan semak belukar memperparah masalah sampah dan polusi industri.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kerentanan Kecamatan Bojongsoang terhadap banjir di masa depan.
Sehingga tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi daerah rawan banjir di Kecamatan Bojongsoang.
dengan menggunakan analisis kerentanan mengacu pada PERKA BNPB No.
2 Tahun 2012, mencakup analisis sosial, fisik, ekonomi, dan lingkungan, yang digabungkan menjadi kerentanan total terhadap banjir.
Berdasarkan penelitian, Kecamatan Bojongsoang memiliki total 10.
203 penduduk terpapar dengan kerentanan sosial sedang, dengan estimasi kerugian fisik sekitar Rp.
± 48,8 Triliun, dan kerugian ekonomi sekitar Rp.
1.
096.
516.
125, serta kerentanan lingkungan yang tergolong rendah.
Secara keseluruhan, desa-desa di Kecamatan Bojongsoang menunjukkan kerentanan sedang, dengan Desa Tegalluar memiliki indeks kerentanan banjir tertinggi, dan Desa Cipagalo memiliki indeks kerentanan terendah.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Kerentanan Sosial pada Wilayah Potensi Bencana Tsunami di Pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan
Kerentanan Sosial pada Wilayah Potensi Bencana Tsunami di Pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan
Wilayah pesisir Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan memiliki potensi bencana tsunami karena berbatasan langsung dengan Selat Sunda Utara yang terdapat Gunung Anak Krakatau...
KAJIAN KERENTANAN WILAYAH KECAMATAN JATIASIH BERDASARKAN ANALISIS MANAJEMEN BENCANA
KAJIAN KERENTANAN WILAYAH KECAMATAN JATIASIH BERDASARKAN ANALISIS MANAJEMEN BENCANA
Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, menjadi titik pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Cileungsi-Cikeas. Ketika debit air kedua sungai tersebut tinggi dan bertemu di titik pertemuan yan...
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
Potensi bencana pada daerah Kabupaten Pringsewu berdasarkan RTRW daerah tersebut diantaranya tanah longsor dan gempa bumi, sehingga diperlukannya Kajian Risiko Bencana terhadap dua...
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Pulau Pramuka adalah salah satu pulau di Kepulauan Seribu, yang terletak di sebelah utara Jakarta, Kepulauan Seribu terdiri dari sekitar 110 pulau, Pulau Pramuka adalah pulau terbe...
Public awareness untuk mengurangi risiko bencana
Public awareness untuk mengurangi risiko bencana
Wilayah Indonesia yang secara geografis terletak diantara tiga lempeng benua yang selalu bergerak, memiliki 127 gunung api, dan dengan kondisi sosial politik yang dinamis, mengandu...
EDUKASI KONSEP TAGANA (TANGGAP SIAP BENCANA) UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI DAERAH RAWAN BENCANA KABUPATEN SOLOK SELATAN SUMATERA BARAT
EDUKASI KONSEP TAGANA (TANGGAP SIAP BENCANA) UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI DAERAH RAWAN BENCANA KABUPATEN SOLOK SELATAN SUMATERA BARAT
Kesiapan dan pencegahan terhadap bencana alam merupakan salah satu faktor dalam mengurangi dampak kerugian serta korban. Bencana adalah suatu rangkaian peristiwa mengganggu, merusa...
Analisis Risiko Bencana Longsor dan Kerugiannya Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat
Analisis Risiko Bencana Longsor dan Kerugiannya Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat
Abstract. Disaster Management Agency in West Bandung Regency, 5 sub-districts in the southern region of West Bandung Regency have a fairly high vulnerability to landslides, one of ...

Back to Top